Ilustrasi

114. RAKUS DAN IRI

 

Seorang pedagang menyusul dua orang pejalan kaki. Salah seorang dari antara mereka punya sifat rakus dan satunya lagi iri. Ketika mereka bertiga hendak ber­pencar, pedagang itu berkata bahwa dia hendak memberikan hadiah perpisahan kepada dua orang itu. Siapa saja yang lebih dahulu membuat permohonan maka permohonannya akan dikabulkan. Tapi orang yang kedua akan mendapat dua kali lebih banyak dari jumlah yang diberikan kepada orang yang pertama.Maka kedua orang itu saling menunggu agar salah satu di antara mereka lebih dahulu mengucapkan permohonannya. Akhirnya orang yang rakus meme­gang leher orang yang iri dan mengancam akan mencekiknya jika dia tidak mengucapkan permohonan. Maka orang yang iri itu berkata, “Baiklah. Saya minta agar satu mata saya buta.”

Dalam sekejap salah satu matanya menjadi buta, sedangkan rekannya kehilangan kedua matanya.

 

115. LEMBUT HATI

Santo Klemens Hofbauer dari Vienna sedang mengumpulkan uang bagi para ya­tim yang ayahnya meninggal dalam perang Napoleon. Dia memasuki restoran, di mana ada tiga pria sedang bermain kartu, dan meminta sumbangan pada mereka. Salah seorang dari mereka memaki dia dan meludahi wajahnya.

Hofbauer dengan tenang mengambil sapu tangan, mengusap air ludah dari pipinya, dan tanpa kelihatan marah sedikit pun berkata, “Jadi, itu untuk saya, pak. Lalu apakah masih ada sesuatu untuk anak yatim?”

Pemain kartu yang jahat itu begitu kaget sehingga dia merogoh sakunya dan memberikan semua     uangnya kepada orang suci itu.

 

116. KESOMBONGAN

Seorang anak laki-laki kelas tiga Sekolah Dasar baru saja memenangkan medali sebagai pembaca terbaik di kelas. Terbuai oleh kesombongan, dia menyombongkan diri di hadapan pembantu di rumah, “Coba lihat jika kamu dapat membaca sebaik saya, Nora.”

Wanita yang baik itu mengambil buku, memandangnya, dan akhirnya ber­kata dengan terbata-bata, “Billy, saya tidak bisa membaca.”

Sombong seperti burung merak, anak kecil itu lari ke ruang keluarga dan berteriak kepada ayahnya, “Pak, Nora tidak bisa membaca sedangkan saya — meski baru delapan tahun — sudah mendapat medali untuk kehebatan memba­ca. Saya ingin tahu bagaimana perasaannya, memandang buku tapi tidak bisa membaca.”

Tanpa berkata sepatah pun, ayahnya berjalan menuju rak buku, mengam­bil satu buku, dan memberinya kepada anak itu sambil berkata, “Dia merasa seperti ini.”

Buku itu ditulis dalam Bahasa Spanyol dan Billy tidak bisa membaca satu baris pun. Anak laki-laki itu tidak pernah melupakan pelajaran itu sekejap pun. Bila perasaan sombong datang, dia dengan tenang mengingatkan dirinya, “Ingat, kamu tidak bisa membaca dalam bahasa Spanyol.”

 

 

 

118. CONTOH KONKRET YANG MENGAJAR, BUKAN BUKU

 

Para pejabat di salah satu propinsi di Cina memutuskan untuk memperkenal­kan sepak bola di sana. Karena itu, mereka membeli buku-buku tentang aturan sepak bola, melatih para guru, dan memerintahkan mereka pergi mengajarkan mata pelajaran ini.

Anak-anak itu menghafalkan peraturan, sedangkan guru memberi pela­jaran dan menggambarkan di papan tulis. Setelah itu masih ada tes tertulis, namun hampir semua anak tidak lulus.

 

Kemudian datanglah seorang pemuda dari Eropa di saat segala usaha anak-anak itu gagal.

Kata tamu itu, “Ya ampun, Anda tidak pernah bisa mempelajari sepakbola dari buku. Anda harus belajar dengan bermain sepak bola itu sendiri…” Jadi, dia membeli sebuah bola, mengajak anak-anak itu ke lapangan, dan dalam waktu dua jam mereka sudah belajar banyak melebihi apa yang mereka pelajari dalam enam minggu dari buku-buku.

 

119. GODAAN, HARGA SETIAP ORANG

Selama perang saudara di Amerika, perdagangan kapas dilarang. Meski demikian beberapa pedagang rakus mencoba membeli kapas di Selatan dan membawa­nya ke Utara dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Salah seorang dari peda­gang-pedagang itu mendekati kapten kapal Mississipi dan menawarkan seratus dolar jika dia mau mengangkut kapas itu. Kapten itu menolak, sambil mengingat­kan pedagang kapas itu bahwa perdagangan itu melanggar hukum.

“Saya akan membayarmu lima ratus dolar,” kata pedagang itu. “Tidak,” bentak kapten itu.

“Baiklah saya naikkan seribu dolar,” rayu pedagang itu.

“Tidak,” kapten itu mengulangi jawabannya.

“Saya akan memberimu tiga ribu dolar,” desak pedagang itu.

Sampai di situ kapten itu mengambil pistolnya, menodongkan ke penggo­danya dan berteriak, “Keluar dari kapal ini! Kamu sudah mendekati harga yang saya inginkan.”

Kata orang setiap orang punya harga sendiri…

 

 

120. IMAN

 

Seorang pengusaha kaya di sebuah kota memasang pengumuman di seluruh sudut kota. Pengumuman itu berbunyi bahwa jika ada orang yang punya hutang  di kota itu datang ke kantor pengusaha tersebut pada hari yang ditentukan antara jam sembilan sampai dua belas siang, maka pengusaha itu akan membayar hu­tang orang itu.

Wajarlah jika janji sedemikian itu menjadi buah bibir di kota itu. Hanya sedikit orang yang mempercayai hal itu. Mereka menduga pasti ada jebakanyang dipasang.

Hari itu pun tiba. Pengusaha itu duduk di kantornya pada jam sembilan. Pada jam sepuluh tidak ada seorang pun yang datang. Pada jam sebelas seorang pria tampak berjalan mondar-mandir di luar, lalu melirik sekali-sekali pada pintu kantor itu. Akhirnya, dia memberanikan diri membuka pintu itu, memasukkan kepalanya ke dalam, dan bertanya, “Benarkah Anda mau membayar hutang orang yang datang?”

“Benar,” kata orang kaya itu. “Apakah kamu punya hutang?” lanjutnya. “Tentu punya,” jawab orang itu.

“Apakah kamu punya bukti rekening atau surat untuk membuktikannya?”

Orang itu mengeluarkan beberapa surat dan pengusaha itu menuliskan sejumlah uang pada cek untuk membayar hutang itu. Sebelum jam dua belas ada orang lain datang, dan juga mendapat pembayaran hutang mereka.

Orang-orang di luar tidak bisa mempercayai hal ini….tetapi tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk meminta agar hutang mereka dibayar.

Jika orang sudah tidak mempercayai lagi kebaikan orang lain, bagaimana mereka bisa mempercayai kebaikan Tuhan?

 

128. KOLEKSI

 

Pada waktu menganggur, seorang pria hanya memiliki uang satu dolar. Lima puluh sen — separuh dari uang yang dimilikinya — dimasukkannya ke dalam kan­tung kolekte pada waktu Misa Hari Minggu.

Pagi hari berikutnya, dia mendengar bahwa ada lowongan pekerjaan di kota lain. Ongkos bis untuk pergi ke sana adalah satu dolar, tapi dia hanya me­miliki 50 sen. Jadi, dia hanya naik setengah jalan; setelah turun dari bus, dia mulai berjalan kaki menuju perusahaan yang menjanjikan perkerjaan.

Tapi Tuhan menyediakan sesuatu yang lebih baik baginya. Ketika melewati satu pabrik, dia melihat pengumuman: ADA LOWONGAN. Dalam waktu ku­rang dari setengah jam, dia sudah mendapatkan pekerjaan yang memberinya gaji lima dolar seminggu, jumlah yang lebih besar dari yang dijanjikan oleh lo­wongan pekerjaan di kota lain itu.

Gaji bulan pertamanya memberinya sepuluh kali lipat dari apa yang telah dia berikan kepada Tuhan.

Orang itu kemudian menjadi seorang pembuat sepatu yang terkenal…

 

134. ORANG KAYA DAN PEMBUAT SEPATU

Ada cerita tentang seorang pembuat sepatu yang miskin tetapi selalu riang gembira. Dia begitu bahagia sehingga dia menyanyi dari pagi sampai malam. Dari luar jendela anak-anak biasanya mendengar dia menyanyi.

Di sebelah rumahnya tinggal seorang yang amat kaya. Sepanjang malam -orang kaya itu menghitung uangnya, dan Baru pergi tidur pada pagi hari. Ia merasa sangat terganggu oleh nyanyian pembuat sepatu itu. Suatu hari dia berpikir bagaimana dia bisa membuat pembuat sepatu itu berhenti bernyanyi.

Suatu hari dia mengundang pembuat sepatu itu ke rumahnya. Betapa kaget­nya pembuat sepatu itu ketika orang kaya itu memberinya satu tas kecil yang penuh dengan uang emas. Ketika tukang sepatu itu pulang ke rumah, dia membu­ka tas kecil itu. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat uang begitu banyak. Dia menghitung semuanya dengan hati-hati, dan anak-anak melihat dia. Uang itu begitu banyak sehingga pembuat sepatu itu takut kehilangan uang hadiah itu. Karena itu, dia membawa uang itu ke tempat tidur pada malam hari. Tapi di tempat tidur itu dia tidak bisa tidur karena memikirkan uang itu.

Maka dia bangun dan meletakkan tas uang itu ke loteng rumahnya. Tapi kemudian dia khawatir bahwa tas itu tidak akan aman di sana. Jadi pada hari berikutnya dia membawa uang itu ke bawah lagi.

Kemudian dia berpikir untuk menyembunyikannya di tempat perapian. “Tapi lebih baik saya letakkan di kandang ayam. Tak seorang pun akan men­carinya di sana,” pikirnya.

Tapi dia masih khawatir tentang uang itu, maka dia menggali lubang yang dalam di kebun dan menyembunyikan uang itu di sana. Dia begitu sibuk de­ngan uang itu sehingga tidak lagi sempat membuat sepatu. Dia juga tidak per­nah menyanyi lagi. Dia begitu gelisah dan tidak bisa menulis sedikit pun. Hal yang paling menyedihkan dia adalah bahwa anak-anak tidak datang lagi untuk mengunjunginya.

Akhirnya pembuat sepatu itu merasa sangat tidak bahagia sehingga dia menggali kembali lubang itu untuk mengambil uangnya, lalu dengan terburu­-buru kembali ke tetangganya sambil membawa uang itu. “Ambillah kembali uang ini,” katanya. “Kekhawatiran tentang uang ini membuat saya sakit, dan teman-teman saya tidak lagi mengunjungi saya. Lebih baik saya menjadi pembu­at sepatu seperti dahulu.”

Sejak itu pembuat sepatu itu hidup bahagia lagi seperti sebelumnya dan dia menyanyi dan bekerja sepanjang hari.

 

146. LULUS

 

Seorang anak laki-laki bangsa Indian ingin menjadi pahlawan, karena itu salah seorang jagoan dan pemimpin sukunya mengajari dia cara berburu dan memancing dengan busur dan panah.

Akhirnya, tibalah harinya bahwa anak laki-laki itu harus membuat busur dan anak panahnya yang pertama. Itu merupakan pekerjaan yang membutuh­kan keterampilan dan kesabaran, yang harus dilakukan dari awal sampai akhir oleh seseorang. Bagian yang paling sulit adalah memilih kayu yang tepat dari pohon yang tepat. Satu hari sudah ditetapkan untuk memilih kayu. Ketika anak kecil itu berangkat untuk memilih kayu, ayahnya menyebutkan dua syarat:

Pertama, bila dia sudah melewatkan satu pohon, dia tidak boleh memikir­kannya lagi.

Kedua, bila dia sudah membuat pilihan, dia tidak boleh mengubahnya lagi.

Pagi-pagi sekali, anak laki-laki itu berangkat. Dia berjalan sambil meme­riksa satu demi satu pohon yang dilaluinya. Dia hampir sampai di akhir hutan itu, tidak banyak pohon lagi yang tersisa; jadi dia harus membuat keputusan, dan dia pun memutuskan.

Tapi ketika dia membawa pulang pohon itu ke rumah, ayahnya mengata­kan bahwa itu bukan pohon yang paling baik. Lalu ayahnya dengan bijaksana meminta anaknya itu memikirkan kembali pengalamannya hari itu dan mence­ritakan pelajaran apa yang dia dapatkan dari pengalaman itu. Anak itu mulai berpikir. Akhirnya dia mendatangi ayahnya, “Ayah, saya mendapat pelajaran bahwa sekali memilih, kita tidak bisa mengubah lagi pilihan itu.”

Pilihan hidup Anda mungkin bukan yang terbaik, tapi Anda harus bekerja dengan pilihan itu — dan berbuat sesuatu di dalamnya…

 

154. BERSANTAI

 

Konon Santo Yohanes Rasul suka sekali bermain-main dengan burung pipit kesayangannya. Suatu hari datanglah seorang pemburu mengunjunginya. Ia terkejut melihat orang terkenal itu sedang main-main. Tentunya dia bisa menggunakan waktu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan penting. Lalu dia bertanya kepada orang suci itu “Mengapa engkau memboroskan waktumu dengan bermain? Mengapa engkau memberi waktumu untuk burung pipit yang tidak berguna itu?”

Yohanes memandangnya dengan terkejut. Mengapa dia tidak boleh ber­main? Mengapa seorang pemburu tidak mengerti hal ini? Karena itu, dia ber­tanya padanya, “Mengapa tali pada busurmu tidak dikencangkan?”

“Oh tidak, kita tidak boleh terus-menerus mengencangkan tali busur, sebab jika demikian maka busur itu akan kehilangan kekakuannya dan tidak bisa me­lontarkan anak panah.”

Yohanes kemudian berkata kepada orang muda itu, “Sobat, persis seperti halnya kamu tidak selalu mengencangkan tali busurmu, maka kamu harus me­ngendorkan ketegangan di dalam dirimu dan bersantai. Jika saya tidak bersantai dan bermain, saya tidak akan punya kekuatan untuk suatu perbuatan besar. Saya bahkan tidak punya daya untuk berbuat apa yang harus saya lakukan dan apa yang penting dan menuntut perhatian penuh saya.”

 

155. ORANG YANG SANGAT AKTIF(Hidup dalam masa kini)

Konon ada seorang pria yang benar-benar kecanduan kerja dan tidak berani memboroskan satu menit pun dalam kehidupannya yang penting.

Pada perjalanan ke kota dia merencanakan toko-toko mana yang akan dikunjunginya. Ketika sudah masuk ke dalam toko, dia merencanakan ke mana dia akan berjalan-jalan. Selama berjalan-jalan, dia merencanakan ke mana dia harus makan. Sementara makan dia merencanakan apa yang harus dimakan sebagai pencuci mulut. Sementara makan makanan pencuci mulut, dia meren­canakan untuk pulang dan memikirkan bis apa yang harus dia tumpangi untuk pulang.

Orang ini tidak pernah memperhatikan hal yang sedang dilakukannya. Dia selalu memikirkan kegiatan berikutnya.

Kemudian, suatu hari dia menghadapi sesuatu yang belum ia persiapkan menghadapinya, yakni kematiannya. Sementara meregang nyawa, ia terkejut melihat betapa hampa dan tak bermakna hidupnya. Dia tidak pernah hidup da­lam masa kini.

 

160. SEORANG PRIA DENGAN POHON-POHON (Penanam Pohon Oak)

             Ada seorang Perancis yang sudah tua. Istrinya telah meninggal, begitu juga dengan putra tunggalnya. Kalau begitu untuk apa terus hidup? Dia meninggalkan ladangnya di suatu lembah yang subur, memilih seekor domba, dan pergi ke daerah yang sepi di Cevennen. Di sana dia akan mampu melupakan masa lalu.

Di daerah itu terlihat sisa reruntuhan dari lima desa. Penduduknya sudah menyingkir dari sana. Pria itu melihat-lihat di sekitar dan menyimpulkan bahwa seluruh daerah itu akan menjadi gurun bila tidak ada pohon yang tumbuh di sana.

Jadi di saat dia menggembalakan dombanya, dia membawa satu tas kecil dan mengumpulkan biji pohon oak yang ditemukannya di sepanjang jalan. Ke­mudian dia memilih biji-biji itu dan hanya menyimpan yang baik-baik saja. Biji-­biji tersebut direndamnya dalam seember air pada malam hari. Setelah itu pada hari berikutnya dia menusukkan tongkat besi di tanah dan meletakkan biji po­hon oak itu ke dalam lubang.

Dalam waktu tiga tahun dia telah menanamkan 100.000 biji pohon oak. Dia berharap bahwa 10.000 akan tumbuh. Dia juga berharap agar Tuhan mem­beri dia waktu hidup beberapa tahun lagi sehingga ia bisa meneruskan peker­jaan ini.

Ketika dia meninggal pada tahun 1947 dalam usia 89 tahun, dia sudah berjasa menumbuhkan salah satu hutan yang paling indah di Perancis. Di tiga tempat berdiri pohon-pohon oak sepanjang 11 kilometer dan selebar 3 kilometer. Apa yang terjadi sebagai hasil dari pertumbuhan hutan itu? Ribuan akar sekarang menampung air hujan dan menyerapnya. Sekarang juga ada aliran air. Rumput dan bunga tumbuh lagi. Burung-burung sudah kembali. Kehidupan di daerah itu juga telah berubah. Orang-orang sudah kembali lagi ke desa‑desa, dan membangun rumah yang bagus dan mencat rumah-rumah itu. Setiap orang yang kembali berbahagia. Mereka menikmati hidup mereka, dan menye­lenggarakan berbagai pesta.

Anehnya tak ada seorang pun yang tahu kepada siapa mereka harus berte­rima kasih atas perubahan udara dan suasana di daerah itu.

 

180. BINTANG-BINTANG BERUBAH MENJADI DOLAR

 

Konon ada seorang gadis yang miskin dan yatim piatu, tidak memiliki rumah dan tempat berteduh. Dia membawa sedikit roti yang diberikan oleh orang yang baik hati. Dia, seorang gadis yang saleh. Meskipun keadaannya malang, dia tidak kehilangan harapan kepada Tuhan.

Dia berjumpa dengan seorang pria miskin yang berkata kepadanya, “Beri­lah saya roti, saya sangat lapar.” Gadis itu memberikan seluruh roti yang diba­wanya kepada orang itu. “Semoga Tuhan memberkati roti ini untukmu,” katanya ketika meninggalkan pria miskin itu.

Kemudian, dia bertemu dengan seorang anak yang mengeluh, “Hawa di sini sangat dingin dan saya tidak punya topi. Berilah saya sesuatu untuk menu­tup kepalaku.” Gadis itu pun memberikan topinya kepada anak itu.

Tak lama kemudian dia bertemu dengan seorang anak gelandangan lain yang menggigil kedinginan, dan dia memberikan mantelnya. Lalu ada gelandang­an lainnya yang meminta pakaiannya. Dia memberikannya.

Ketika malam mulai datang, gadis itu masuk ke dalam hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang anak gelandangan lainnya yang membutuhkan kaos dalamnya. Dia pun berpikir, “Di sini gelap dan tak seorang pun bisa me­lihat saya,” lalu diberikannya pakaian terakhir yang melekat di tubuhnya.Di saat gadis itu berdiri di sana dengan telanjang, bintang-bintang mulai berjatuhan dari langit seperti kepingan uang dolar. Kemudian, sepotong pakai­an yang baru dibuat dari bahan kain linen yang terbaik juga turun. Dia mengenakan pakaian itu dan mengisi kantungnya dengan kepingan uang dolar itu se­cukupnya sehingga bisa hidup sampai akhir hayatnya.

 

196. HUKUM  UNTUK  ANGGOTA SERIKAT BURUH

 

Ketika para pekerja yang terorganisir memulai gerakan untuk memperoleh gaji bulanan yang terjamin, para pengusaha membuat sepuluh usulan kepada para pekerja:

  1. Jangan berbohong. Bohong memboroskan waktu saya dan waktu Anda. Saya yakin bisa     mengetahuinya kemudian, dan itu merupakan tujuan yang salah.
  2. Lihatlah pekerjaanmu, bukan jam. Kerja yang baik dalam sehari membuat hari yang panjang menjadi pendek, dan kerja yang buruk dalam sehari membuat wajah saya memanjang.
  3. Berikan kepadaku hal yang melebihi harapan saya, dan saya akan mem­berimu hal yang lebih dari yang kauharapkan. Saya mampu menaikkan gaji Anda bila Anda menambah keuntungan saya.
  4. Anda terlalu banyak berhutang kepada dirimu sendiri sehingga Anda tidak bisa lagi berhutang kepada orang lain. Janganlah berhutang.
  5. Ketidakjujuran tidak pernah sekedar kecelakaan.
  6. Kerjakanlah pekerjaan Anda sendiri, maka pada saatnya hanya pekerjaan Anda sajalah yang ada di pikiran Anda.
  7. Janganlah Anda melakukan sesuatu di sini yang merendahkan diri Anda. Seorang karyawan yang mau mencuri untuk saya, ia juga mau mencuri dari saya.
  8. Apa yang Anda lakukan pada malam hari bukanlah urusan saya. Tapi jika pemborosan tenaga itu mempengaruhi pekerjaanmu pada hari berikutnya, dan Anda hanya bekerja setengah dari yang saya tuntut, maka Anda hanya akan mencukupi setengah dari yang Anda harapkan
  9. Jangan melaporkan apa yang menyenangkan saya, tapi hal yang wajib saya ketahui. Saya tidak menginginkan seorang pembantu memperbaiki penampilan saya, tapi seorang pekerja untuk memperbanyak uang saya.
  10. Jangan membalas kalau saya marah. Kalau Anda masih layak dikoreksi, maka Anda masih layak untuk dipekerjakan. Saya tidak memboroskan waktu dengan pekerjaan yang sia-sia.

 

202. KISAH  BABI DAN SAPI

 

Seorang yang kaya mengeluh kepada temannya, “Orang tidak menyukai saya. Mereka berkata saya egois dan kikir. Tapi dalam surat wasiat saya, saya sudah menyumbangkan semua milik saya kepada lembaga amal.”

Temannya berkata, “Mungkin cerita tentang sapi dan babi berikut ini bisa memberi engkau suatu pesan. Suatu hari babi datang kepada sapi dan mengeluh, “Orang selalu berbicara tentang keramahan. Memang benar bahwa kamu sudah memberi mereka susu. Tetapi mereka mendapatkan begitu banyak hal dari saya. Mereka mendapat daging saya, bahkan kaki saya pun mereka masak. Meski demikian tak seorang pun menyukai saya… bagi mereka saya hanya seekor babi. Mengapa begitu?”

Sapi itu merenung sejenak dan berkata: mungkin karena saya memberikan sesuatu pada saat saya masih hidup.

 

223. PENYELENGGARAAN ILAHI

Selama perang, pasukan Jepang menembak jatuh sebuah pesawat Amerika yang kemudian menabrak belukar. Tapi tiga orang awaknya selamat, tanpa luka-luka dan bisa bertahan hidup di belukar itu selama sepuluh bulan. Mereka mengambil segala yang bisa mereka ambil dari pesawat, salah satunya adalah cermin kecil.

Suatu hari, mereka kehabisan makanan dan memutuskan untuk meman­cing di laut. Di pantai mereka menemukan satu karton penuh ikan kaleng yang terbawa ke pantai dari sebuah kapal Jepang yang dibom oleh pesawat Amerika.

Tak lama kemudian, pesawat pengintai Amerika terbang di atas mereka. Dengan cepat tentara-tentara itu mengeluarkan cermin dan memberi tanda kepada pilot. Dia melihat tanda mereka dan beberapa hari kemudian sebuah kapal selam muncul di malam hari dan mengangkut tentara-tentara itu.

Banyak bagian dari cerita itu menunjukkan bahwa cerita itu tidak sekedar kejadian kebetulan. Tetapi bahwa ada seseorang di belakang semua itu… Karton yang berisi ikan kaleng dari Jepang…dan yang terdampar di tepi pantai itu se­hingga bisa mereka temukan… Ada cermin sebagai pemberi tanda, yang untung­nya terlihat oleh pilot. Seluruh rangkaian tindakan dan kejadian membawa ke­dua peristiwa penting itu… Itu semua bukan kebetulan…

 

 

 

 

 

226. TAKHAYUL SEPATU KUDA

 

Banyak orang menganggap sepatu kuda sebagai sumber keuntungan. Tapi, ha­nya sedikit sekali orang yang tahu, bahwa mereka dipengaruhi oleh dongeng tua tentang Santo Dunstan, orang kudus Abad Pertengahan yang bekerja sebagai tukang besi.

Suatu hari, setan datang kepadanya dan meminta dipasang sepatu kuda  pada kuku kakinya. Tapi orang kudus itu mengenali pelanggan yang jahat ter­sebut, dan dia melukai kuku kakinya sedemikian rupa sehingga setan itu meminta ampun. Menurut cerita itu, St. Dunstan menolak melepaskan setan itu sampai setan itu berjanji tidak akan memasuki rumah mana pun yang ada sepatu kudanya.

 

239. KAMU ITU PENTING

 

Tulisan itu ditempel di salah satu motel agar para pekerjanya tetap masuk kerja Bila kamu ingin membolos tanpa memberitahu pimpinan, dan kamu pikir bahwa ketidakhadiran satu orang tidak akan mengganggu, maka kamu membuat pimpinanmu seperti seorang yang mengetik dengan mesin ketik yang satu huruf­nya hilang. Dia memang bisa mencarikan seseorang menggantimu, tapi hasilnya tentu tidak akan sama seperti bila dia bekerja dengan orang yang memang te­pat untuk pekerjaan itu

 

241. KASIH PERSAUDARAAN

Ada dua orang gadis, yang sewaktu masih bersekolah, telah mempunyai cita-cita untuk masa depan. Herta belajar tentang cara membuat pakaian. Agnes bekerja di kantor. Mereka berdua telah kehilangan kedua orang tua, dan telah memecahkan masalah bersama. Beberapa saat kemudian, Herta mendapat seorang pacar; Agnes pun demikian.

Mereka membuat rencana bersama di rumah kecil mereka. Tak lama kemu-dian mereka berdua akan menikah, dan kemudian….

Ya, dan kemudian… suatu hari mereka menemukan Agnes di depan tangga, terjatuh. Herta sangat terkejut ketika mendengar bahwa Agnes menderita lumpuh seumur hidup lumpuh setengah badan. Dia segera mengambil saudarinya itu dari rumah sakit, dan mengubah seluruh rencana hidupnya.

Wajar bahwa Agnes kehilangan pacarnya kemudian, karena pria itu tidak ingin menghabiskan seluruh hidupnya untuk merawat seorang lumpuh. Dan Agnes pun tidak ingin menjadi beban bagi saudarinya. Tapi Herta tidak mau mendengar hal ini, “Beban? Apa yang kaumaksudkan dengan beban? Bukankah kamu ini saudariku?” sanggahnya.

Maka tak lama kemudian Herta pun kehilangan pacarnya. Pria itu berka­ta bahwa dia akan menikahi Herta kalau Agnes dikirim ke suatu panti cacat. Hal itu tidak mungkin bagi Herta.

Sekarang ini dia memiliki kios pembuat pakaian. Mereka berdua telah pindah ke rumah tanpa tangga. Dan jika seseorang mengira bahwa kedua orang itu hidup dalam penyesalan dan kesedihan, maka orang itu salah. Mereka telah hidup bersama selama 30 tahun..

Agnes mengembangkan keterampilan melukisnya dan ia berhasil melukis pemandangan yang indah. Kios Herta juga laris, syukurlah. Kadang dia marah jika orang merasa kasihan terhadapnya. Dia mengatakan bahwa dia tidak mem­butuhkan rasa kasihan orang lain.

Hanya satu hal yang mencemaskan dirinya tentang Agnes. Doanya, “Ya Tuhan, untuk Agnes dan bukan untuk saya, ijinkanlah saya hidup lebih lama dari dia. Dia membutuhkan saya… dan saya membutuhkan dia juga.”

 

268. TANGAN

 

Ketika Hari Besar Syukuran sudah mendekat, anak-anak kelas satu diminta menggambar sesuatu yang mereka syukuri selama ini. Ada yang menggambar rumah atau mobil atau ayam kalkun panggang atau makanan, mainan dan sebagainya Tapi satu anak menggambarkan tangan.

Kemudian anak-anak di situ berusaha menduga tangan siapa itu… Tangan Tuhan? Polisi? Tangan petani yang telah menanam sayuran? Tapi tak seorang pun bisa menebaknya; dan anak itu tidak memberitahukan tangan siapa itu.

Ketika anak-anak lari keluar kelas untuk beristirahat, guru kelas itu meng­hampiri anak itu dan bertanya dengan lembut, “Tangan siapa yang kamu gambar ini?” Dia menjawab, “Tangan ibu guru!”

Mata guru itu segera berlinang air mata dan teringatlah saat-saat ketika dia menuntun tangan anak itu ketika belajar menulis, atau menuntun tangan anak itu untuk menyeberang jalan…karena anak itu timpang.

271. SIKAP MENGUBAH SEGALANYA

 

Suatu hari seorang nyonya yang tinggal di kota melihat ke arah luar jendelanya dan melihat sebuah truk besar mendekati rumahnya. Dari truk itu segera berlom­patan beberapa pemuda dan mulai menurunkan gitar-gitar listrik dan pengeras suara dan drum… Mereka memindahkan semua itu ke sebuah rumah di dekat situ.

Wanita itu begitu marah. Sekarang waktu istirahat malam dan telinganya serta kehidupannya akan terganggu oleh kegaduhan yang akan muncul dari rumah itu.

Ketika suaminya pulang dari kerja, nyonya itu segera berteriak, “Kita harus segera pindah dari sini, jika tidak. Maka kita akan segera tuli dan men­jadi gila karena adanya sekelompok pemusik di sebelah rumah kita.”

Tetapi suaminya menenangkan dia dan berkata, “Sayang, mengapa kamu marah? Tidak tahukah kamu siapa mereka itu? Mereka adalah pemusik ke­lompok Sanguma Stringband yang sangat terkenal itu dan yang telah naik pentas di luar negeri di hadapan begitu banyak penggemar…Kita seharusnya senang mereka ada di sini: karena kita bisa menikmati musik terkenal itu secara gratis.”

Raut cemberut di wajah wanita itu berubah menjadi senyuman. Dia sege­ra meraih telpon dan memanggil teman-temannya untuk datang sekali waktu dan menikmati musik Sanguna Band itu…

 

274. SIKAP PEDULI AKAN KESEJAHTERAAN ORANG LAIN

 

Ada seorang anak perempuan kecil sedang berjalan-jalan dengan kakeknya. Mereka tiba di depan pagar kebun yang diselimuti dengan bunga-bunga mawar merah. Sambil menarik nafas dalam-dalam, anak perempuan kecil itu berkata, “Kakek, bisakah kakek mencium harumnya bunga-bunga mawar itu? Bunga-­bunga itu bagus sekali.”

Kemudian keduanya mendengar suara seorang nenek tua yang sedang duduk di beranda.            “Ambillah sebanyak yang kamu inginkan,” katanya.

Maka kedua orang itu, kakek dan cucunya, masing-masing memetik satu tangkai mawar dan mengucapkan terima kasih kepada nenek tua itu dan memu­ji keindahan bunga-bunga mawarnya.

Nyonya itu berkata, “Saya menanamnya dengan tujuan untuk membuat orang lain senang. Saya sendiri tidak bisa melihat bunga-bunga itu, karena saya buta.”

 

 

 

310. MEMINTA PENGAMPUNAN

Setan sedang mengeluh kepada Tuhan, “Kamu tidak adil. Begitu banyak pendosa yang melakukan banyak kesalahan telah kamu terima kembali. Bahkan beberapa di antaranya kembali sebanyak 6 kali dan Engkau selalu menyambut mereka. Se­dangkan saya hanya membuat satu kesalahan dan Engkau telah mengutuk saya’ selamanya, hal ini tidak adil.”

Tuhan menjawab, “Apakah kamu pernah meminta ampun atau bertobat?”

 

 

 

 

322. PENYEMBUHAN DALAM PEMBERIAN

 

Dia berdiri di jembatan baja, 500 kaki di atas sungai deras. Dia menyalakan rokok terakhirnya — sebelum bunuh diri.

Tidak ada jalan lain. Dia telah mencoba segala hal: pelampiasan nafsu birahi, perjalanan dan petualangan, minum dan obat-obat bius. Dan terakhir: perkawinan. Tak ada seorang wanita pun yang tahan hidup bersama­nya setelah beberapa bulan. Dia terlalu menuntut dan tidak memberi apa pun. Dia tidak pantas diperlakukan seperti manusia. Sungai akan menjadi tempat yang paling baik baginya.

Seorang gembel tiba-tiba lewat, melihatnya berdiri di kegelapan dan ber­kata, “Tolong pak beri saya lima ratus rupiah untuk membeli kopi.”

Orang itu tersenyum dalam kegelapan. Lima ratus rupiah! Sungguh jumlah yang berarti. “Saya punya lebih dari itu.” Dia mengambil dompetnya. “Ini, ambil semua.” Dalam dompet itu ada uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Pria itu memberikan dompetnya kepada pengemis itu.

“Lho, mengapa semua?” tanya pengemis itu.

“Tidak apa-apa. Saya tidak membutuhkannya di tempat yang akan saya tuju.” Dia melirik ke bawah ke arah air. Pengemis itu mengambil uang itu, dan berdiri memegangnya dengan ragu-ragu sejenak. Kemudian pengemis itu berkata, “Tidak, pak. Saya memang seorang pengemis, tapi saya bukan seorang pengecut; dan saya juga tidak akan mengambil uang dari seorang pengecut. Bawalah uangmu — ke dalam sungai.” Dia melemparkan uang itu ke lantai jembatan dan uang itu berserakan dan perlahan jatuh ke air yang gelap. “Sela­mat berpisah, pengecut.” Dan pengemis itu pun pergi.

Orang yang hendak bunuh diri itu menarik nafas. Tiba-tiba ia menginginkan pengemis itu untuk mengambil lagi uang yang sudah dilemparkannya. Dia ingin memberi — tapi tidak bisa! Memberi! Dia tidak pernah mencoba hal ini sebelum­nya. Memberi — dan menjadi bahagia… Dia memandang sungai itu untuk terakhir kalinya dan berpaling darinya, lalu pergi mengikuti pengemis itu…

 

332. OBAT UNTUK GOSIP

 

Ada seorang imam tua yang baik yang bernama Romo Magnus. Dia tidak per­nah berbicara tentang kejelekan seseorang pun. Suatu hari, ia pergi ke sebuah de­sa yang dekat untuk mengunjungi seorang imam yang sakit, dan ketika dia me­ninggalkan rumah itu untuk pulang, ada seorang wanita yang di desa itu dikenal sebagai salah seorang penyebar gosip. Wanita itu mendekati Romo Magnus dan bertanya apakah dia diberi ijin untuk berjalan bersamanya. Romo Magnus tidak berkeberatan.

Setelah beberapa saat, wanita itu berkata, “Oh, Romo, wanita tetangga saya itu sangatlah         jahat.”

“Oh, benarkah demikian? Kalau begitu marilah kita berdoa rosario untuk­nya, sehingga dia bisa bertobat dari kesalahannya itu. Demi nama Bapa….” …dan seterusnya sampai menyelesaikan ke lima peristiwa, sedangkan wanita itu sibuk menjawab Salam Maria penuh rahmat.

Doa ini menghantar mereka sampai tiga perempat perjalanan pulang. Ke­mudian wanita itu memulai lagi keluhannya, “Romo, bagaimana saya bisa sabar tinggal bertetangga dengan wanita seperti itu?”

“Memang susah untuk bersabar,” kata Romo itu, “Marilah kita mendoakan rosario untuk dirimu. Demi nama Bapa…” Sekali lagi mereka menyelesaikan lima peristiwa sambil berjalan. Tapi ketika mereka baru saja menyelesaikan doa Salam Maria yang ter­akhir, wanita itu merasa bahwa sekaranglah saatnya untuk berbicara lagi, kata­nya, “Memang, Romo, suami wanita itu pun menderita.”

“Laki-laki yang malang. Kita harus mendoakan rosario baginya.” Ketika mereka menyelesaikan doa tersebut, mereka sudah tiba di kediam­an Romo Magnus. Wanita itu pun harus berpikir dua kali untuk menyampaikan gosipnya karena ini berarti bahwa ia harus ikut berdoa rosario lagi.

 

 

334. KARYA  YANG  MENDUKUNG

Seorang musikus sedang mempertunjukkan suatu konser di sebuah gereja yang terkenal. Ketika tiba saat untuk beristirahat, dia beristirahat di belakang organ. Disana dia mendapatkan seorang pria tua sedang merokok sambil beristirahat dari pekerjaannya memompakan udara ke organ yang besar itu. Pria itu tersenyum dan berkomentar, “Kita memberi mereka konser yang bagus, bukan?”

Hal ini tampaknya di luar pikiran musikus itu, yang mencoba mengoreksi pria itu, “Apa maksudmu dengan KITA, pak? Sayalah yang memberikan konser!

Dia pergi ke depan. Di hadapan para hadirin, dia menenangkan mereka dengan tangannya dan meminta mereka tenang untuk pertunjukkan berikutnya Tidak ada suara sedikit pun. Dia cepat-cepat pergi ke belakang organ. Disitulah pria itu, sambil merokok. Musikus itu pun sadar dan dengan tersenyum dia mengakui, “Anda benar, KITA sedang memberi mereka konser ini.”

 

344. OBAT UNTUK PEMINUM

 

Jika Anda adalah seorang pria yang sudah menikah yang sangat butuh minuman keras, bukalah bar di rumah Anda sendiri. Tapi satu-satunya pelanggan di situ adalah Anda sendiri dan Anda tidak perlu mengurus perijinan. Berilah istri Anda uang dua dollar untuk membeli satu galon whiskey. Ingat, dalam satu galon ada enam puluh sembilan gelas. Belilah minuman dari istri Anda.

Bila satu galon pertama sudah habis, maka istri Anda sudah punya uang delapan dollar untuk disimpan di bank, dan dua dollar untuk membeli whiskey lagi. Jika Anda hidup selama sepuluh tahun, dan terus-menerus membeli alko­hol dari istri Anda, dan kemudian meninggal. Janda Anda akan memiliki uang yang cukup untuk menguburkan Anda dengan terhormat, membesarkan anak‑anak Anda, membeli rumah dan tanah, menikah dengan seorang pria terhor­mat, dan melupakan Anda!

 

350. SAAT BERDOA

 

Salah satu tokoh bisnis jaman ini adalah J. Arthur Rank. Dia memiliki elevator yang langsung menuju kantornya, tapi ia tidak menggunakannya. Dia lebih suka menggunakan tangga dan menyebut tangga itu sebagai “tangga doa”-nya.

Pada pagi hari ketika dia naik tangga itu, dia berdoa, memohon bimbingan Tuhan pada setiap langkah yang diambilnya pada hari itu. Ketika dia meniti anak tangga itu satu demi satu, dia berdoa. Akhirnya, dia sampai di puncak dengan berbagai cara.

 

372. MENILAI

 

Ada sebuah dongeng dari Jerman tentang lomba menyanyi antara seekor bu­rung bulbul dengan seekor burung tekukur. Satu-satunya binatang yang ada un­tuk menjadi wasit adalah seekor keledai.

Burung bulbul mendapat giliran pertama untuk menyanyi. Ketika lagu­nya yang baik sekali mengumandang di hutan itu, keledai itu hanya mengge­rak-gerakkan daun telinganya yang panjang dan memandang dengan bodoh dan bingung.

Kemudian burung tekukur mulai menyanyikan lagunya. Lagunya sangat sederhana, terdiri dari dua nada. Wajah keledai itu sekonyong-konyong tampak serius dan mencerminkan kekaguman, kemudian ia mulai mengangguk-angguk. Lagu inilah yang dipahaminya: Kuk-gruuk, kuk-gruuk… sungguh tidak jauh beda dengan: Hii-hoo, hii-hoo.

Tidak heran bila keledai itu menilai perkutut itu sebagai penyanyi terbaik. Demikianlah halnya dengan semua penilaian. Kita semua menilai sesuai dengan cara pandang kita sendiri yang terbatas, prasangka kita, dan ketidak­tahuan kita.

 

381. BERPIKIRLAH KE DEPAN

 

Seorang pria sedang melihat tetangganya yang berusia 80 tahun sedang menanam sebuah pohon persik. “Anda pasti tidak mengharap bisa memakan buah persik dari pohon itu, bukan?” tanya pria itu.

Lelaki tua itu beristirahat dengan bertumpu pada cangkulnya. Katanya, “Tidak; dengan usia saya ini, saya tahu bahwa saya tidak akan menikmati bu­ahnya. Tapi dalam hidup saya, saya telah menikmati buah persik — yang bukan dari pohon yang kutanam sendiri. Saya tidak akan bisa memakan persik jika orang lain tidak menanamnya seperti yang saya lakukan sekarang ini. Saya hanya sekedar membayar kembali kepada orang yang menanam persik untuk saya.”

 

388. TOKO SALIB

 

Cerita ini adalah tentang seorang pria yang mengeluh panjang dan keras kepada Tuhan bahwa salib yang harus dipikulnya itu terlalu berat. “Datanglah ke mari,” kata Tuhan ketika Dia membawa pria itu ke sebuah toko salib. Di situ ada banyak salib dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

Dengan senyum gembira, Tuhan berkata, “Sambil melihat-lihat bila kamu menemukan salib yang kamu sukai, ambillah.”

Maka pria itu memasuki toko itu, meletakkan salibnya sendiri di dinding dan mengusap-usap tangannya dengan penuh semangat dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sekaranglah, kesempatan satu-satunya dalam hidupku datang; sungguh ini adalah sesuatu yang sudah lama saya nantikan. Jika memang saya harus memanggul salib, maka saya akan memilih salib yang tidak terlalu berat, salib yang cocok untuk saya.” Jadi, pria itu mencoba salib-salib itu untuk menemukan yang cocok bagi nya. Salib yang satu terlalu panjang sehingga terseret di tanah. Salib yang satunya lagi terlalu pendek sehingga membuatnya tersandung. Salib yang lain terlalu ringan sehingga terbawa angin, sedangkan yang lainnya lagi terlalu berat sehingga melukai bahunya. Ia hampir putus asa ketika ia melihat satu salib yang tersandar di dinding. Dia mencobanya, membawanya berjalan sedikit dan menghadap Tuhan dengan tersenyum sambil berkata, “Inilah salib itu. Inil yang sudah lama saya cari. Saya mengambilnya.”

Maka keluarlah dia dan Tuhan menoleh kepadanya sambil berkata dengan tersenyum, “Saya senang bahwa kamu menyukai salib itu; itulah salib yang dahulu kamu bawa masuk.”

 

401. ANGIN KENCANG MENGUATKAN

 

Ketika saya mendaki gunung, saya bertemu dengan seorang penduduk yang membawa kapak. Saya berjalan bersamanya dan bertanya tentang apa yang hendak dipotongnya. “Saya membutuhkan kayu untuk memperbaiki kereta saya,” kata­nya. “Saya membutuhkan kayu yang paling kuat. Jenis macam itu hanya tumbuh di puncak gunung, tempat angin yang paling kencang bertiup.”

 

431. KRISTUS RAJA

 

Di Richmond, Virginia, penduduk memesan patung yang besar dari Jenderal Robert Lee. Patung itu tiba di gudang dan ada orang yang berkomentar, “Ya, ampun, pasti kita membutuhkan banyak kuda untuk membawa patung logam ini ke kota.”

Seseorang mendengar kata-kata ini dan menjawab, “Kuda? Oh, kita tidak akan membiarkan kuda-kuda menarik Jenderal Lee. Mari kita sendiri yang menarik patung itu.”

Gagasan itu mendapat banyak tanggapan. Setiap surat kabar memuat gagasan itu. Setiap percakapan diarahkan ke rencana itu. Harinya pun ditentukan. Anak-anak sekolah diliburkan. Bank, toko-toko dan restoran tutup. Bendera, umbul-umbul, popcorn, kacang dan minuman sirup disiapkan di mana-­mana. Penduduk yang tampak berbahagia memenuhi jalur jalan dan beranda­-beranda. Tentara veteran pun tampak di mana-mana.

Di tengah jalan disiapkan tiga kereta yang saling diikat bergandengan. Seutas tali sepanjang setengah kilometer diikatkan ke deretan kereta yang pertama. Anak-anak, orang dewasa, orang kaya, orang gemuk dan kurus, orang bertubuh pendek, tinggi, orang kulit putih dan kulit hitam…ada pula ibu-ibu dengan memakai sepatu bertumit tinggi dan anak-anak yang bertelanjang kaki, semua mencari tempat untuk memegang tali penarik itu… Dengan nyanyian, air mata dan sorakan gembira, orang-orang itu dengan rasa bangga menarik patung Jenderal Lee ke Monument Avenue, tempatnya berdiri sekarang.

Ketika pekerjaan itu sudah selesai, setiap penarik memotong sedikit tali itu, memasukkannya dalam saku dan membawanya pulang untuk oleh-oleh…tali itu pun lenyap begitu saja…

Setiap orang Kristen ingin melakukan peranannya untuk meletakkan Kris­tus di tempat yang terhormat…dalam karya bersama, setiap orang melakukan sedikit peranannya.

 

441. PRA-PASKA : MENGENDALIKAN WAKTU

 

Daya alam dan naluri memang liar. Dengan cara mengendalikan dan menguasai semua itulah kita bisa menghasilkan produk-produk yang paling berguna. Kita menggunakan api yang menakutkan untuk memasak makanan. Petir yang sudah dikendalikan adalah listrik yang melakukan setengah dari pekerjaan rumah kita. Mesin motor adalah ledakan yang sudah dikendalikan. Air waduk memberi kita listrik tenaga air. Kita mengendalikan angin pada layar atau kincir angin untuk menggerakkan mesin tumbuk atau mengisi ban. Bagaimana dengan atom yang sudah dikendalikan?

Kemajuan diri dan proses belajar kita datang dari pengendalian sifat me­mentingkan diri sendiri. Berjalan, berbicara, menulis, makan, mengendarai, terbang, bermain dan berolah raga semuanya tergantung pada pengendalian. Kita tidak akan berhasil menang dengan “membiarkan apa yang muncul secara alamiah.”

 

448. MOTIVASI – KEYAKINAN

 

Seorang jenderal memutuskan untuk menyerang meskipun ia kalah dalam hal jumlah tentara dengan perbandingan sepuluh banding satu. Dia yakin bahwa ia akan menang: tapi tentaranya merasa ragu-ragu. Karena itulah dalam perjalanan ke medan pertempuran, ia berhenti di se­buah tempat suci dan masuk untuk berdoa. Ketika ia keluar lagi, ia memberi tahu tentaranya demikian, “saya akan melemparkan uang logam ini. Jika ia menunjukkan gambar kepala maka kita akan maju dan menang. Jika ia menun­jukkan gambar ekor, kita akan kalah. Sekarang, nasib akan mengungkapkan dirinya.”

Dia melemparkan uang logam itu. Ternyata uang itu menunjukkan gambar kepala. Melihat itu tentaranya sangat bersemangat bertempur sehingga meme­nangkan pertempuran dengan mudah.

Pada hari berikutnya, salah seorang perwiranya dengan keyakinan penuh memberi tahu jenderal itu, “Pertempuran itu menunjukkan bahwa tak seorang pun bisa mengubah tangan Sang Nasib.”

“Benar,” kata jenderal itu sambil menunjukkan kepadanya bahwa uang logam itu bergambar kepala di kedua sisinya.

 

449. ANDA  DICIPTAKAN  UNTUK  MEMBANTU

 

Saya melihat ada seorang gadis kecil di jalan, kedinginan dan menggigil dalam pakaian yang tipis, dan tampaknya sangat lapar. Saya menjadi marah kepada Tu­han dan berkata, “Mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi? Mengapa Eng­kau tidak berbuat sesuatu atas hal ini?”

Malam itu saya mendengar suara kecil di dalam diri saya yang berkata, “Saya sudah berbuat sesuatu untuk itu, Saya sudah menciptakan kamu…Apa yang telah kamu perbuat atas hal itu?”

 

1024. BINGKAI KITAB SUCI

 

Seorang narapidana dikurung dalam ruangan tersendiri. Kepadanya dibe­rikan Kitab Suci sebagai satu satunya teman. Maka ia mempelajari dengan tekun beberapa hal umum selama beberapa tahun. Lama sebelum penggunaan komputer, la menemukan kenyataan – kenyataan berikut tentang Kitab Suci :

Kitab Suci memuat 3.586.489 huruf.

Memuat 773.692 kata.

Memuat 31.173 ayat.

Memuat 1.189 bab.

Memuat kata “dan” sebanyak 46.277.

Ayat yang Ietaknya persis di tengah Kitab Suci adalah ayat 8 dari Mazmur 118.

Surat yang terdiri dari semua huruf ditemukan dalam Esra 8:21.

Ayat terpanjang adalah Ester 8:9.

Ayat paling singkat Yohanes 11:35.

Itulah beberapa kenyataan menggembirakan yang diteliti sang narapidana dari Kitab Suci. Tetapi kita tidak  diberitahu dalam bagian mana pun juga bahwa pesan Kitab Suci telah menyentuh hati sang narapidana.

1029. DOSA-DOSA KECIL

 

Dua orang pendosa mengunjungi seorang saleh dan meminta nasihatnya. “ Kami telah melakukan kesalahan”, kata mereka, “ dan suara hati kami terganggu. Apa yang harus kami lakukan agar diampuni?” Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, anak-anakku”, kata orang tua itu. Pria pertama berkata,”Saya melakukan suatu dosa berat dan mematikan”. Pria kedua berkata, “Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan”. “Baik”, kata orang saleh itu. “Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa.” Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil. “Sekarang”, kata orang tua itu, “pergilah dan kembalikan semuanya ketempat dimana kamutelah menemukannya. Pria pertama mengangkat batu itu dan memikulnya kembali ketempat dimana ia mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu dalam tasnya. Katanya, pekerjaan ini terlalu sulit. “Dosa itu seperti batu-batu ini”, kata orang tua itu. “Jika seseorang melakukan dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suatu hatinya. Tetapi dengan penyesalan yang sejati kesalahan itu akan diampuni seluruhnya. Tetapi pria yang terus-menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu hal itu salah, akan semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesalinya sedikit pun. Maka ia tetap sebagai seorang pendosa. “Maka ketahuilah, anak-anakku”, saran orang saleh itu, “adalah sama pentingnya untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat.

 

1046. KAUM IBU DAN ILMU HITUNG

Seorang guru di sebuah sekolah negeri mengajukan pertanyaan ini kepada si kecil Yakob pada jam pelajaran Matematika,”Kob, anggaplah ibumu membuat sebuat kue dan disana ada sepuluh orang sedang menunggu di sekeliling meja – ibu dan ayahmu dan kedelapan saudaramu. Berapa besar bagian yang akan kau terima?”

“Sepersembilan, Bu”, jawab Yakob serentak.

“Tidak, tidak, Kob. Sekarang perhatikan”, kata guru. “Disana kalian bersepuluh.     Sepuluh, ingat. Tidakkah kamu tahu berapa besar bagianmu?”

“Ya, Bu”, jawab si kecil Yakob dengan tangkas,“saya tahu bagianku. Tetapi saya juga        mengenal ibuku. Ibu pasti akan mengatakan, ia tidak menginginkan secuil pun”.

 

1047. NILAI MANUSIA

Ketika saya bekerja sebagai pesuruh di sebuah toko besar, seorang nyonya kaya masuk dan membeli sebuah pot cina yang sangat mahal. Ketika saya mau keluar untuk mengantarnya, majikan mengingatkan agar saya berhati-hati dengan barang itu. Saya tiba di rumah nyonya itu, dan ketika sedang menyelinap melalui gerbang yang setengah terbuka, saya mendengar sesuatu remuk dalam bungkusan itu. Saya menjadi pucat ketakutan. Saya ingin segera kabur. Tetapi kemudian pintu rumah itu terbuka dan seorang nyonya lansia keluar. Saya bingung, apa yang akan saya katakan kepadanya, ketika tiba-tiba anjing gembala yang besar datang dan melompat tepat diatas kepalaku, membentur pot itu hingga jatuh ke tanah dan terdengar bunyi remukan. Nyonya itu datang terburu-buru, saat anjing itu menjilati wajahku. Dengan rasa ingin tahu yang besar, ia bertanya,”Demi Tuhan, anakku, saya harap engkau tidak disakiti”. Kemudian saya berkata, “Mengenai pot itu, saya hanya mau mengatakan kepadamu….” Tetapi saya tidak pernah mengatakannya. “Ah, mengenai pot itu?” katanya. “Tidak ada yang perlu dicemaskan… Tetapi bagaimana denganmu? Engkau tahu, anjing itu masih muda dan mungkin berpikir engkau hendak bermain dengannya…. Apakah engkau baik-baik saja?” Kemudian, ia memberi kepadaku uang jasa yang cukup lumayan jumlahnya sebagai imbalan mengantar pot itu…. dan saya mengelus kepala anjing itu. Ia telah menjadi penyelamatku. Saya tidak pernah melupakan nyonya itu, yang memperhatikan saya lebih daripada sebuah pot mewah.

1075. BELAJAR JATUH

 

Pernahkah engkau menyadari bahwa pelajaran dasar bagi kesuksesan adalah bagaimana jatuh tanpa terluka? Engkau dapat menyaksikan hal ini pada persiapan kejuaraan antar klub bola kaki. Akan ada ratusan pelatih tersebar di berbagai lapangan hijau mempersiapkan taktik-taktik permainan mereka di pertandingan yang akan segera bergulir. Tahukah engkau pelajaran apa yang pertama diajarkan kepada para pemain? Bukannya bagaimana mencetak gol. Itu mudah. Hal pertama yang harus dipelajari oleh seorang pemain bola profesional adalah bagaimana cara jatuh, bagaimana cara memotong lawan dan menjatuhkan diri, tanpa terluka. Pemain yang bisa jatuh dan pingsan, akan bangun berulang kali dan tidak pernah terhalangi untuk masuk ke garis gawang. Perhatikanlah bahwa ia selalu jatuh ke arah gawang. Setiap pemain yang menginginkan kemenangan harus berani jatuh dalam permainan. Hampir tidak ada jalan lain untuk menang selain jatuh. Ketika sesuatu atau seseorang menjatuhkan engkau, bergulinglah dan loncatlah kembali ke dalam permainan.

 

 

1079. PARA PENGABDI DI USIA SENJA

 

Inilah para warga negara lanjut usia yang telah banyak menyumbang kepada bangsanya dan kepada dunia.

Winston Churchill menjadi perdana menteri pada usia 81 tahun.

Clara Barton memimpin Palang Merah Internasional pada usia 83.

Robert Frost menulis puisi-puisi termashyurnya pada usia hampir 80.

Oliver Wendell Holmes menjadi hakim agung pada usia 90.

Connie Mack memimpin tim pemenang baseball pada usia 88.

Toscanini menjadi konduktor orkestra dunia kenamaan pada usia 87.

Architect Frank Lloyd Wright melakukan karya terbaiknya pada usia 86.

John Wesley masih berkhotbah dengan semangat tinggi pada usia 88.

Ketika Konselor Konrad Adenaur dari Jerman mendekati usia 90, kondisinya mulai memburuk. Bahkan dokter pribadinya tidak dapat berbuat banyak membantunya dan Adenaur tidak sabar dengannya. “Saya bukan seorang ahli sihir, tuan”, protes sang dokter. “Saya tidak dapat membuat tuan muda kembali.” “Saya tidak memaksa engkau mengubah saya menjadi muda kembali”, jawab Adenaur. “Semua yang saya kehendaki adalah terus menjadi semakin tua.”

 

1079. JANGAN MEREMEHKAN MASA MUDAMU

 

Apa yang kini kita sebut sebagai budaya anak muda bukanlah hal baru. Berabad-abad, orang muda telah memberikan banyak sumbangan berarti. Perhatikan prestasi “anak-anak” ini:

Alfred Tennyson menulis karya klasiknya yang pertama pada usia 18.

Napoleon menaklukan Italia pada usia 25.

Byron dan Raphael keduanya penulis, meninggal pada usia 37.

E.A.Poe telah menyelesaikan tulisannya pada usia 39.

Newton menciptakan temuan terbesarnya pada usia 25.

Mozart menulis sejumlah opera sebelum ia berusia 15.

Yesus mengubah wajah dunia pada usia 30.

Kebanyakan jenius dunia tidak menginjak usia 40.

Sebagaimana tertulis dalam 1 Timotius 4:12, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda”.

 

 

1095. PENDIDIKAN UNTUK HIDUP

 

Jika Anda memberi seseorang seekor ikan, ia akan memakannya seketika.

Jika Anda mengajar seseorang memancing, ia akan makan selama sisa-sisa hidupnya.

Jika Anda memikirkan satu tahun ke depan, taburlah benih.

Jika Anda memikirkan sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon buah.

Jika Anda memikirkan seratus tahun ke depan, didiklah masyarakat.

Dengan menabur benih, Anda akan menuai banyak.

Dengan menanam sebatang pohon, Anda akan memetik sepuluh kali lipat.

Dengan mendidik masyarakat, Anda akan memanen seratus kali lipat.

1101. GARIS KEHIDUPAN

 

Chad Varah adalah seorang imam Anglikan. Pada tahun  1953, ia memimpin upacara penguburan seorang gadis berusia I8 tahun yang melakukan bunuh diri. Para ahli jantung yang memeriksa sebab kematiannya mengatakan bahwa gadis itu mungkin tidak AKAN melakukan perbuatan nekat ini seandainya ada seseorang di dekatnya yang mendengarkan masalah-masalahnya. Chad Varah memutuskan untuk menggunakan gedung gereja dan teleponnya di London untuk mendengarkan setiap orang yang berada dalam keadaan putus asa. Ia memasang iklan kecil pada koran lokal dan dalam minggu pertama ia telah menerima 27 telepon.

Mulai saat itu, ia bekerja selama 12 jam setiap hari untuk mendengar dan menasihati orang. Ada begitu banyak orang di luar ruangannya menunggu untuk bertemu sehingga ia meminta bantuan beberapa orang umatnya untuk datang dan menghidangkan kopi bagi mcreka. Sering terjadi,  ia menemukan orang-o­rang yang datang dengan keadaan tekanan jiwa yang sangat berat, menjadi  orang yang lain sama sekali setelah hanya menunggu di luar ruang kantornya. Sebagian dari mereka bahkan tidak menunggu untuk bertemu dengannya karena seorang pelayan telah bertindak sebagai sahabat bagi mereka. Maka, imam ini memutuskan untuk mendidik sekelompok orang dari umatnya bagaimana menjadi penolong bermanfaat bagi klien melalui sikap bersahabat yang mereka perlihatkan.

Itulah riwayat terbentuknya kaum Samaritan. Di beberapa negara, kelom­pok yang mirip seperti ini juga telah ada.

1117. TUKAR-MENUKAR HAD1AH

Masa Natal adalah masa saling memberikan hadiah. Tetapi, apakah itu, memberi hadiah ataukah menukar hadiah? Tidakkah ini lebih sebagai suatu permainan daripada suatu  pemberian? Orang-orang kaya dan bijaksana pada saat ini mempertimbangkan dua hal bila mereka memberikan hadiah-hadiah Natal: di mana mereka berpijak, apa status mereka….  dan dengan siapa kiranya mereka tetap berhubungan? Pemberi mencoba menduga apa yang dikehendaki penerimanya, dan juga memperhitungkan gambaran yang sesuai tentang seseorang.

Orang besar dan terkenal dalann sejarah telah mengalami masalah serupa. Ratu Victoria pasti merasa sangat sedih ketika ia memberikan Gunung kilimanjaro di Afrika kepada Kaisar Wilhelmus.

Emerson telah mengatakan bahwa hadiah sejati satu-satunya adalah diri sendiri. Dahulu Kleopatra memberikan diriya kepada Kaisar dengan terbungkus ­dalam permadani. Sekarang salah satu hadiah yang paling pribadi dan penting adalah pemberian waktu kita bagi orang lain. Pemberian sejati dari Tiga Orang Bijak dari Ti­mur bukanlah mur, kemenyan, dan emas tetapiwaktu dan kesulitan yang mereka alami dalam mengantar pemberian-pemberian itu.

1119. MENGINGINKAN ORANG LAIN BAHAGIA

David Garroway adalah salah satu tokoh pertama pewawancara televisi terkenal. Setelah ia menjadi cukup kaya, ia ditanya tentang pemahamannya tentang hari Natal. la mengatakan bahwa tampaknya orang-orang semakin sulit untuk mengatakan, apa yang mereka inginkan untuk hari Natal.

“Saya memperhatikan”, katanya,”bahwa kebanyakan orang meminta se­suatu yang bersifat material untuk hari Natal. Hal ini pernah menjadi dambaanku, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Saya kebetulan menjadi seseorang yang dapat memenuhi segala sesuatu yang diinginkan. Tetapi saya menemukan bahwa apa yang sesungguhnya saya inginkan, saya tidak dapat membelinya sama sekali. Saya ingin kedamaian-kedamaian hati-kedamaian jiwa. Suatu kedamaian sejati yang hanya dimiliki ketika Anda sungguh-sungguh tidak menginginkan sesuata apa pun.

Sekarang, bila saya menanyakan pertanyaan itu, saya memformulasikannya begini,”Jika Anda memiliki segala sesuatu yang anda inginkan… jika Anda memiliki banyak uang seperti yang Anda inginkan di dunia ini…jika Anda dapat membeli semua yang Anda inginkan…lalu apa yang Anda inginkan untuk hari Natal?”

Seorang putri kecil membungkamkan saya dengan jawabannya. Katanya,”Saya menginginkan kebahagiaan,” dan menambahkan,”bagi orang lain”.

“Sungguh hari Natal yang sejati! Seperti gadis kecil yang berdoa mengantar tidurnya,”Allah saya mempunyai waktu istimewa hari ini”, kemudian ia menambahkan,”saya berharap Engkau juga”.

 

 

1141. KEMATIAN vs AMBISI

 

Suatu hari Santo Filipus Neri yang selalu tampil ceria berjalan-jalan bersama seorang mahasiswa Universitas Roma, yang memiliki keinginan-keinginan duniawi yang sangat tinggi dan ambisi yang sangat besar. Santo Filipus bertanya mengenai kuliahnya.

“Saya akan menyelesaikan filsafat tahun depan”, katanya.

“Setelah itu?” lanjut Filipus.

“Saya akan belajar hukum untuk meraih gelar doctor.”

“Setelah itu?” orang kudus itu terus bertanya.

“Saya akan mengangkat reputasiku sebagai pengacara terbaik.”

“Setelah itu?” Tanya Filipus sekali lagi.

“Saya akan menikah dan membangun keluarga dan memperoleh keturunan.”

“Setelah itu?”

“Ya, saya akan memangku jabatan yang lebih tinggi sebagai seorang pejabat senior   terhormat.”

“Setelah itu?” Santo Filipus tetap bertanya.

“Ya, setelah itu semua, seperti semua orang lainnya, saya mungkin akan meninggal.”

“Setelah itu?” pertanyaan terakhir Santo Filipus.

Bibir mahasiswa itu gemetar dan ia merebahkan diri di kaki Santo Filipus.

 

 

1147. KAUM WANITA

 

Di sebuah kota di Jerman yang disebut Weissberg ada sebuah menara tua yang merupakan puncak sebuah benteng dan menara itu dinamai “Iman Kaum Wanita”.

Dikisahkan bahwa pasukan Kaisar Konradus menyerbu benteng itu, dan pasukan garnisun yang ada didalamnya setuju untuk menyerah dengan satu syarat: kaum wanita diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang milik mereka yang paling berharga dan paling mereka sukai. Kaisar setuju, berpikir bahwa wanita-wanita itu akan membawa permata atau barang mewah lainnya yang sangat disukai kaum wanita. Alangkah Kaisar kagum ketika menyaksikan setiap wanita itu keluar dengan memikul suaminya, anak-anaknya, maupun saudaranya di atas bahunya.

Keyika saudara Kaisar melihat kejadian ini, ia sangat geram dan mendesak Kaisar untuk menembak semua pria itu. “Tidak!” seru sang Kaisar. “Tindakan itu akan menjadikan saya seorang penipu… dan sungguh mungkin saya tidak akan pernah dapat mengembalikan nama baik saya… sekarang atau sepanjang sejarah?”

 

 

1161. KEPUASAN DIPEROLEH KEMBALI

 

Seorang pria pergi ke rumah seorang rabi Yahudi untuk berbincang-bincang dengannya. Ia mengeluh, katanya, “Kehidupan ini merupakan suatu beban yang tak terpikulkan. Kami bersembilan menempati satu ruangan. Apa yang dapat saya lakukan?”

Rabi menjawab, “Masukkanlah kambing ke ruangan itu bersama dengan Anda”/

Orang itu tidak percaya apa yang ia dengar… membawa seekor kambing berbau busuk ke dalam rumah? Tetapi rabi itu menambahkan, “Lakukanlah seperti yang saya katakan dan kembalilah setelah seminggu”.

Seminggu kemudian orang itu kembali dalam keadaan sangat parah, dan berkata “Kami tidak bisa tahan lagi. Kambing itu sedemikian dekil dan berbau busuk”.

Rabi kemudian berkata kepadanya, “Sekarang kembalilah dan keluarkan kambing itu. Dan kembalilah minggu depan”.

Seminggu kemudian pria itu dengan wajah berseri-seri mengunjungi rabi, “Hidup itu indah rabi. Kami menikmati setiap menit kehidupan. Tanpa kambing dan hanya kami Sembilan orang”.

Seorang rabi lain mengatakan, “Cara terbaik untuk merasakan kepuasan sejati adalah menghilangkan semua milik Anda… lalu memperolehnya kembali”.

 

 

1163. NILAI KEHIDUPAN KRISTUS

 

Konon ada seorang pria yang dilahirkan di sebuah dusun terpencil, anak seorang petani. Ia bertumbuh menjadi dewasa di sebuah dusun kecil yang tak dikenal. Ia bekerja pada sebuah rumaah tukang kayu hingga usia 30 tahun. Dan selama tiga tahun Ia berkeliling mengajar banyak orang.

Ia tidak pernah menulis buku. Ia tidak pernah bekerja di kantor. Ia tidak pernah memiliki sebuah rumah. Ia tidak pernah berkeluarga. Ia tidak pernah bersekolah. Ia tidak pernah berpergian lebih dari 200 mil dari tempat tinggalNya.

Ketika Ia masih muda, pendapat umum berbalik menentangNya. Sahabat-sahabatNya lari; yang seorang bahkan mengkhianati Dia, Yang lain menolakNya. Ketika Ia dihukum sebagai seorang penjahat, serdadu-serdadu menanggalkan pakaianNya. Setelah kematianNya, Ia dikuburkan di pekuburan orang lain.

Tetapi setelah hampir dua puluh abad, Ia mempunyai pengikut paling banyak dari setiap orang yang pernah hidup di bumi ini.

Saya berani mengatakan, bahwa seluruh angkatan darat yang pernah berkelana, seluruh angkatan laut yang pernah menjelajah lautan, seluruh anggota parlemen yang pernah menduduki jabatannya, dan semua raja yang pernah berkuasa – meski seluruh kekuatan ini disatukan – belum pernah mempengaruhi sedemikian banyak kehidupan pria dan wanita di atas bumi ini seperti pengaruh kehidupan Kristus.

 

 

1181. MENJADI GARAM DUNIA

         Jauh sebelum masa Kekasiaran Romawi, garam merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Bahkan hingga hari ini, kita mengungkapkan kepribadian seseorang yang kokoh dengan mengatakan, “Orang seperti itu bagaikan garam dunia”. Orang-orang Romawi biasanya mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat daripada matahari dan garam”. Salah satu jalan utama menuju Roma masih disebut sebagai “Via Salaria” – jalan garam.

Bagi orang Romawi, garam dihubungkan dengan kemurnian. Bagi mereka garam merupakan yang paling murni dari semua hal karena berasal dari segala sesuatu yang paling murni: matahari dan laut.

Garam adalah salah satu persembahan paling murni kepada para dewa. Persembahan orang Yahudi juga diunjukkan bersama garam. Dengan demikian, kalau orang Kristen disebut Kristus sebagai “garam dunia”, itu berarti orang Kristen harus menjadi teladan kemurnian. Seorang Kristen menghayati kemurnian dalam perkataan, tindakan , dan pikiran. Ia harus bersikap jujur, rajin, dan setia.

Garam mengawetkan semua yang ada di sekitarnya dari kebusukan. Kehadiran seorang Kristen sejati seharusnya, seperti yang kita katakan, “menjadi panutan bagi orang-orang disekitarnya agar tetap jujur”. Dari seorang kristen sejati kita seharusnya dapat mengatakan apa yang dimunculkan dalam sebuah pidato mengenang seorang biarawati tua, “Selalu lebih mudah untuk menjadi baik ketika ia hadir”.

 

 

1182. TANTANGAN

         Ketika seorang guru menjumpai seorang siswa yang sangat pandai dalam kelas, ia tidak mengecualikannya dari pekerjaannya. Sebaliknya, ia membebaninya pekerjaan tambahan, dengan beban tugas dua kali lebih berat daripada teman-temannya. Seorang musisi muda diberikan, bukannya musik yang lebih gampang, tetapi yang lebih sulit untuk dikuasai. Anak-anak yang sudah menjadi bintang tim kelas dua tidak ditempatkan dalam tim kelas tiga. Karena di sana ia akan mengikuti pertandingan tanpa berkeringat. Tidak, ia ditempatkan dalam tim kelas I. Di sanalah ia harus berjuang keras untuk membuktikan kemampuannya.

Seorang guru bijaksana selalu menantang para muridnya. Itulah yang diajarkan oleh Allah dan agama Kristen. Menjadi orang Kristen yang semakin baik berarti, kita harusnya memilih melakukan sesuatu yang lebih baik, yang kita temukan.

 

1183. MEMBERIKAN DIRI

 

Seorang ibu beragama Kristen yang memiliki kesadaran diri tinggi merenungi kembali masa remajanya di sebuah kota. Ia berasal dari sebuah keluarga baik-baik dan sebagaimana ditulisnya, “Orang malang adalah piaraan kami”. Pada hari Minggu sudah merupakan cara yang paling digemari oleh orang-orang Kristen super ini untuk mengelilingi sel tahanan di pos-pos polisi. Kaum pria khususnya melakukan hal ini. Mereka mengunjungi para pemabuk yang berakhir pekan, menasehati mereka, mengajar mereka untuk berikrar tidak mengulangi ulahnya, dan menjamin mereka keluar dari penjara sehingga mereka akan kembali bekerja pada hari Senin.

Para sukarelawan ini bekerja secara memuaskan dan patut dihormati. Kelihatan sekali bahwa mereka ini adalah orang-orang yang mempunyai kehidupan moral yang sama sekali lain daripada para pemabuk yang mereka layani.

Para sukarelawan mempunyai satu kesalahan: mereka tidak pernah memberikan diri mereka sendiri. Ketika kita membungkuk dan memberi diri dari ketinggian, walaupun keluar dari kesadaran akan kewajiban Kristen, tetapi jika kita tidak pernah memberikan diri sendiri, pemberian kita tidak pernah sempurna.

Tidak ada pemberian sempurna jikalau kita tidak memberikan diri kita sendiri.

 

 

1187. DOA-DOA YANG TERKABUL

 

Orang-orang Yunani mempunyai cerita-cerita tentang cara para dewa mereka menjawab doa-doa umatnya. Jawaban-jawaban itu tampaknya selalu menjadi kail atau perangkap bagi mereka di mana saja. Misalnya, Aurora, dewi subuh, jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Titonius. Zeus, raja para dewa, menawarkan beberapa hadiah kepadanya untuk diberikan kepada kekasihnya itu. Maka Aurora memohon agar Titonius dapat hidup selama-lamanya. Tetapi ia lupa meminta agar kekasihnya tetap muda untuk selama-lamanya.

Maka, Zeus mengabulkan doanya. Titonius terus bertahan hidup… dan bertumbuh menjadi lebih tua dan semakin tua… Ia tidak pernah dapat mati. Dan sementara waktu terus berjalan, hari demi hari ia semakin menjadi beban dan kutuk.

Berbeda halnya, bilamana Allah mengabulkan doa. Ya, Ia menjawab doa-doa kita, tetapi Ia tidak selalu memberikan apa yang kita mohonkan. Ia tahu lebih baik apa yang kita butuhkan. Maka Ia biasanya menggantikan apa yang kita minta dengan sesuatu yang lebih baik.

 

 

1198. PENGARUH KEKRISTENAN

 

         Kita telah mendengar kisah tentang “Pemberontakan terhadap Karunia”, ketika sembilan pemberontak, enam pria dan tiga wanita setempat berlabuh di pantai Pulau Pitcairn. Sebagai hasil perbuatan dari salah seorang di antara mereka yang membuat alcohol mentah, akhirnya mereka semuanya mati kecuali Aleksander Smith. Ia menemukan sebuah Kitab Suci, membacanya, dan memutuskan untuk membangun sebuah Negara bersama dengan penduduk pribumi, didasarkan secara langsung pada Kitab Suci.

Dua puluh tahun kemudian sebuah kapal Amerika mendekat dan mendapatkan di sana sebuah komunitas yang seluruhnya Kristen. Tidak memiliki sebuah penjara, karena di sana tidak ada kejahatan. Tidak ada rumah sakit, karena tidak ada penyakit. Tidak ada buta aksara. Tidak ada di dunia ini kehidupan manusia dan harta kekayaan sedemikian aman. Itulah yang dapat terjadi jika manusia menaati pesan Injil secara sungguh-sungguh.

Jangan percaya pada cerita lama bahwa Kekristenan telah dicoba dan gagal. Yang sebenarnya adalah, sebagaimana dikatakan Chesterton, bahwa Kekristenan telah ditemukan terlalu sulit dan karena itu tidak dicoba.

Orang-orang Kristen yang berkerumun dalam penjara saat ini disebabkan karena telah GAGAL mengikuti Kekristenan.

 

 

1209. KEMURAHAN HATI ALLAH

 

         Seorang pemuda yang bertobat mendekati pastornya dengan suatu pertanyaan, “Bagaimana Allah, Yang Mahabaik itu dapat mengampuni seorang pendosa? Tidakkah Ia diusik oleh segala kebencian dan iri hati yang ada pada orang-orang itu?”

Pastor itu memandang pemuda yang penuh semangat itu dengan tatapan mata yang penuh persahabatan, dan berkata, “Engkau adalah generasi ketiga dalam suatu keluarga ahli pembuat perabot rumah. Katakanlah kepada saya, jika sebuah meja indah yang telah selesai dikerjakan oleh kakekmu tergores, apakah engkau membuangnya?”

“Tentu tidak!” ujar pemuda itu. “Sebuah goresan tampaknya tidak dapat mengubah keindahan sebuah perabot”.

“Dan”, pastor itu melanjutkan, “jika Anda menoreh suatu goresan pada meja jati yang terukir indah, akankah engkau membuangnya?”

“Membuangnya? Sekali-kali tidak!” pemuda itu bereaksi. “Bahkan dengan beberapa goresan pun, perabot berkualitas tetap kukuh dan bernilai?”

“Anda berbicara seperti seorang profesional sejati”, jawab pastor itu. “Anda mengambil bagian dalam norma yang sama yang Allah ikuti ketika Ia mengganjar umat kecintaanNya meskipun mereka secara terang-terangan dan terus-menerus berbuat dosa”.

 

 

1212. KHOTBAH BERJALAN

 

         Pada suatu sore di tahun 1953, para pejabat dan reporter berkumpul di stasiun kereta api Chicago menantikan kedatangan peraih hadiah nobel perdamaian tahun 1952. Seorang pria raksasa, tinggi 2 meter, dengan rambut acak-acakan dan kumis panjang melangkah keluar dari kereta api.

Sementara juru foto sibuk memotretnya, para pejabat kota mendekatinya dan berjabat tangan seraya mengatakan alangkah mereka merasa diri terhormat dapat bertemu dengannya. Ia berterima kasih kepada mereka dengan sopan kemudian melihat kepala mereka dari atas, lalu meminta permisi sebentar. Ia berjalan menerobos kerumunan dan melangkah dengan cepat hingga mencapai seorang wanita kulit hitam yang sudah lanjut usia yang sedang bersusah payah mencoba memikul dua kopor besar.

Pria jangkung itu kemudian mengangkat kopor-kopor itu, tersenyum, dan menuntun wanita itu ke sebuah bus. Setelah menolong wanita itu, ia mmengucapkan selamat jalan dan mengharapkan perjalanan yang baik. Sementara itu, kerumunan orang banyak membuntutinya. Ia menoleh kepada mereka dan berkata, “Maaf, saya telah membuat Anda menunggu”.

Orang itu adalah Dr. Albert Schweitzer, dokter misi tersohor yang telah menghabiskan waktunya membantu orang-orang paling miskin di Afrika. Seorang anggota panitia penyambutan berkata kepada salah seorang reporter, “Inilah untuk pertama kali saya melihat sebuah khotbah berjalan”.

 

 

1217. MELIHAT KEABADIAN DALAM BENDA-BENDA

 

         Kita hidup dalam abad paling materialistis. Semua hal lahiriah, hal-hal luar, penampilan, dan perabot-perabot rumah tangga memberi kesan itu kepada kita. Kita begitu dikelilingioleh apa yang kita lihat, sentuh dan pakai, sehingga kita terancam bahaya acuh tak acuh atau meragukan keberadaan segala sesuatu yang tidak dapat kita lihat. Walaupun demikian, hal-hal yang tidak dapat kita lihat itu mungkin lebih penting…

Kita dapat melihat sebuah rumah tinggal, tetapi bukan suasana kekeluargaan yang hidup dalam rumah itu. Kita dapat melihat sebuah otak, tetapi bukan pikiran. Bendera-bendera dapat dilihat, tetapi semangat patriotisme tidak dapat dilihat. Kita melihat tubuh tetapi bukan jiwa. Kitab Suci berkata kepada kita bahwa kita diciptakan bukan untuk dunia ini, tetapi untuk hal-hal yang jauh lebih berguna. Kita lupa bahwa masa hidup kita yang singkat di atas bumi ini tidak lain dari sepotong kecil dari apa yang akan menjadi keberadaan kita dalam keabadian nanti.

Marilah mengembangkan rasa hormat yang wajar atas hal-hal di sekitar kita, yang tidak dapat kita lihat atau dengar, tetapi yang dapat kita rasakan. Ambillah rasa sakit sebagai contoh. Tidak ada seorang pun yang meragukan keberadaannya, walaupun tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya. Perhatikanlah gagasan-gagasan dalam pikiran kita; cinta, rasa takut, atau kebencian dalam hati kita. Semuanya ini sungguh nyata; bukanlah khayalan belaka. Demikian halnnya dengan Allah, keabadian, dan kebahagiaan adalah nyata, bukan khayalan.

Malanglah seorang ateis. Ketika mati, ia tidak mempunyai tempat tujuan.

 

 

1231. TAKUT NAGA CINA

 

         Salah satu pemandangan paling lazim pada perayaan Cina adalah pawai naga raksasa. Naga bagi mereka bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Bagi orang Cina, naga adalah alam di sekeliling kita. Lengkungan perbukitan menyerupai punggungnya. Gelombang laut yang menerpa pantai seperti seorang kelaparan, dikatakan sebagai naga yang siap menelan mangsanya. Sungai-sungai berbelok-belok seperti gerak tubuh sang naga. Bahkan getaran bumi ketika terjadi gempa dan semburan api dan asap ketika gunung meletus dikatakan keluar dari lubang-lubang hidung naga.

Tetapi seekor naga adalah abdi manusia, bukan tuannya. Dan jika Anda memperlakukannya dengan ramah, ia akan menjadi sahabat Anda. Maka, tari Cina yang menggunakan naga yang menggerak-gerakkan ekornya bersukaria karena alam yang indah, menjadikannya seekor binatang buas yang bersahabat dan ceria.

Seperti yang dikatakan tuan Wu, “Jika naga adalah alam dalam segala kedahsyatan dan keagungannya, maka janganlah kita takut. Marilah kita pergi dan menemui ketakutan itu. Hanya sesuatu yang tidak diketahui itulah yang menakutkan kita. Kita takut akan apa yang ada di balik bukit. Sekali kita menuju ke sana dan menjelajahinya, ketakutan kita akan lenyap.

Jabatlah tangan dengan naga; itulah jalan menuju kedamaian.”

 

 

1242. KRITIK MEMBANGUN

 

         Saya sedang melatih putra saya bermain tenis. Ia melambungkan bola, kemudian mengayunkan raket dan melakukan servis. Servis pertamanya persis tersangkut di net.

“Kamu memukul ke arah net”, seruku.

Ia memperbaiki cara berdiri, memegang gagang raket dengan lebih baik, dan mencoba sekali lagi. Hasilnya sama.

“Bola tersangkut di net”, kataku kepadanya sekali lagi.

Ia menatap ke arahku dan mencoba sekali lagi.

“Masih bersarang di net”, kataku enteng.

Ia membanting raketnya ke tanah. “Lihat”, katanya kepadaku. “Saya dapat melihat bola tersangkut di net sama seperti engkau melihatnya. Engkau tidak perlu berseru seolah suatu rekor sedang terpecahkan. Katakan kepadaku apa yang harus dilakukan agar bola dapat menyebrangi net!”

 

 

1243. IRI HATI

 

Oscar Wilde mengisahkan sebuah cerita bahwa sekali peristiwa Setan menyebrangi Gurun Libya ketika ia bertemu sekelompok orang yang sedang menyiksa seorang petapa suci. Orang suci itu dengan mudah menolak usulan-usulan mereka. Setelah menyaksikan kegagalan mereka, Setan berkata, Anda semua terlalu kasar dan tolol. Sekarang perhatikanlah caraku…”

Kemudian Setan berbisik kepada orang suci itu, “Saudaramu baru saja menerima tahbisan uskup”.

Kerutan wajah iri hati Setan sekonyong-konyong menyelimuti wajah tenteram sang petapa.

“Itulah”, kata Setan kepada mereka, “bentuk pendekatan yang mendatangkan hasil… dan ia memulai serangkaian cobaan atas orang-orang lain”.

 

 

1249. ORANG BANYAK TIDAK MEMIMPIN, MELAINKAN MENURUTI

 

         Ketika ayahku melihat saya menangis hanya karena tidak sempat memotong rambut mengikuti model terbaru, ia bertanya, “Mengapa engkau merusak penampilanmu dengan menata rambutmu begitu?”

“Jangan menjadi seorang bodoh dan mengikuti orang lain”, kata ayah. “Lakukanlah apa yang kukatakan kepadamu: belahlah rambutmu persis di tengah, sisirlah ke belakang dan ikatlah dengan sebuah pita”.

Kendatipun ayah hanya bergurau, saya sungguh-sungguh melakukan apa yang dikatakannya, dan ia berdiri menontonku, “Sekarang”, katanya, “tetaplah dengan model itu

selama seminggu dan jika setengah anak wanita di kelasmu tidak menirunya, aku akan membayarmu Rp 100.000”.

Saya berpikir ia hanya ingin sesuatu yang agak sederhana; tetapi Rp 100.000,- suatu jumlah yang besar. Maka saya tiba di kelas saya dan mengejutkan setiap orang. Tapi menjelang akhir minggu hamper setiap gadis di kelasku sudah meniru model rambutku.

“Aku telah mengatakannya kepadamu”, kata ayah. “Camkan ini! Janganlah tampil seperti orang kebanyakan. Dunia ini mempunyai cukup banyak hal yang belum dibuat. Jangan pernah takut mempunyai gagasan sendiri. Dan jika itu baik, teruskan, tidak peduli apa yang dilakukan oleh orang banyak”. Orang banyak tidak memimpin. Mereka hanya mengikuti.

 

 

 

1252. MEMBERIKAN KESEMBUHAN

 

         Sebuah Rolls Royce tiba di sebuah pekuburan. Pengendaranya mengatakan kepada seorang pria penjaga di pintu masuk, “Bolehkah Anda menemui nyonya di mobil itu? Ia terlalu sakit parah untuk berjalan.”

Seorang wanita tua-renta dan lemah menunggu di mobil. “Aku Nyonya Adams”, katanya. “Setiap minggu dalam dua tahun terakhir ini, saya telah mengirimi Anda dua puluh lima ribu rupiah agar membeli kembang untuk ditaburkan di makam putraku. Tetapi para dokter telah mengatakan kepadaku bahwa saya tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi, dan saya datang untuk berterima kasih kepadamu karena telah memperhatikan kembang untuk kubur putraku”.

Penjaga itu membelalak padanya dan berkata, “Engkau tahu, Nyonya, saya mohon maaf karena Nyonya tidak henti-hentinya mengirim uang itu”.

“Maaf?” ketusnya.

“Ya, karena orang-orang mati tidak akan pernah melihat bunga-bunga itu”, jawabnya.

“Anda tahu apa yang Anda katakana?” katanya, sangat kecewa.

“Yah, sungguh, saya tahu. Saya anggota kelompok yang bertugas mengunjungi rumah sakit jiwa, rumah sakit umum, dan lain-lain. Orang-orang di tempat itu sangat menyukai bunga-bunga. Mereka dapat melihat dan menciumnya. Nyonya, masih ada orang-orang yang hidup di tempat-tempat seperti itu.”

Nyonya itu berdiam diri sejenak, kemudian mengisyaratkan pengemudinya untuk kembali meluncur.

Beberapa bulan kemudian, nyonya itu kembali lagi… tetapi sekarang tampak sebagai sosok lebih muda, dan mengendarai sendiri mobilnya. “Saya menghantar sendiri kembang-kembang ke orang-orang itu,” katanya dengan senyum penuh keakraban. “Anda dulu benar: perbuatan itu sungguh membahagiakan mereka, tetapi juga membahagiakan AKU. Dokter-dokter itu tidak tahu yang telah menyembuhkan diriku. Tetapi saya benar-benar paham: saya mempunyai sesuatu untuk berharap.”

Ia telah menemukan kembali apa yang kita semua tahu tetapi lupa: dengan membantu orang lain, ia telah menolong dirinya sendiri.

 

 

1254. JENIS-JENIS PEKERJAAN

 

         Dua orang sahabat lama bertemu setelah dua puluh tahun berselang. Dan setelah terlibat dalam suatu percakapan yang penuh persahabatan, tiba-tiba salah seorang bertanya, “Bagaimana kabar keempat putra kesayanganmu?”

“Baiklah, yang sulung”, kata ayah itu dengan bangga, “memiliki kepandaian luar biasa dalam bidang hukum. Ia bekerja di kantor kehakiman untuk mencari pengalaman. Gajinya memang kecil, tetapi suatu saat latihan ini akan menghantarnya ke jabatan puncak.”

“Lanjutnya, “Putra keduaku adalah seorang insinyur. Anda pasti sudah melihat bangunan-bangunan yang dirancang putraku itu. Ia sekarang bekerja untuk pemerintah. Tetapi suatu saat ia akan menjadi kaya raya”.

“Putra ketiga akan menjadi seorang dokter terkenal. Ia masih dalam pendidikan dan kami masih harus membiayainya, tetapi suatu hari nanti semuanya ini akan berubah.”

Sang ayah tampak ragu-ragu untuk mengakhiri kisahnya, maka sahabatnya mengingatkannya. “Dan bagaimana dengan putra bungsumu?”

“Oh, dia,” kata sang ayah, agak tersipu-sipu. “Setelah tamat SMA, ia mendapat pekerjaan sebagai seorang anggota satuan pengaman (satpam) dan ia sekarang menerima upah dua juta rupiah sebulan. Tetapi pekerjaan sehina inikah yang harus dilakukan putraku?”

Kemudian sang ayah mengaku,”Tetapi jika ia tidak melakukan pekerjaan ini, kami semua akan mati kelaparan”.

 

1264. GAGASAN BARU

 

Biasanya, tidak ada sesuatu pun yang bergerak lebih lamban daripada Gereja. Orang-orang beragama menderita karena hal itu. Kaum beriman mempunyai kegemaran pada hal-hal kuno.

Penemuan-penemuan yang sangat bermanfaat dewasa ini dihasilkan oleh orang-orang yang berani berpikir dan berbuat beda, dan rela berkorban untuk itu. Orang dengan sesuatu yang baru selalu harus berjuang.

Gereja mencap Galileo sebagai orang heretic (bida’ah) ketika ia mengajarkan bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari.

Lister harus berjuang keras meyakinkan dokter-dokter untuk membuktikan teknik antiseptiknya, yang kini merupakan standar semua kegiatan pembedahan.

Pemikiran bahwa “sesuatu sudah selalu dilakukan dengan cara ini” karena itu harus tetap dilakukan dengan cara ini: membendung semua usaha untuk maju. Sebenarnya justru karena sesuatu itu “belum pernah dilakukan atas cara demikian” dapat menjadi suatu alasan yang sangat baik untuk mulai mencobanya.

Paus Yohanes XXIII menggambarkan demikian, “Kebenaran-kebenaran Kristen tidak berubah, tetapi bagaimana cara kita menerangkannya itulah yang berubah.”

 

 

 

 

 

1265. BAKAT YANG TERTAMBAT

 

         Pelatih-pelatih kutu telah mengamati kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dan tampak ganjil dari murid-murid mereka. Ketika kutu-kutu itu pertama kali dimasukkan ke dalam sebuah buli-buli, Anda dapat membungkuk dan mencermati kutu-kutu itu melompat keluar dari buli-buli. Tentu, kutu-kutu dikenal sebagai peloncat yang lincah.

Pelatihan dimulai ketika penutup disumbatkan ke buli-buli. Kutu-kutu it uterus berlompatan, tetapi sekarang kepala mereka terus membentur penutup buli-buli. Jika Anda terus mengamati mereka melompat dan menghantam penutup buli-buli, sesuatu yang menarik terjadi; kutu-kutu meneruskan lompatan mereka, tetapi mereka tidak lagi melompat setinggi penutup buli-buli.

Pelatih kutu itu kemudian dapat menanggalkan penutup dari buli-buli. Kutu-kutu itu akan terus melompat, tetapi mereka tidak akan melompat keluar dari buli-buli. Sebenarnya, mereka tidak melompat keluar karena tidak dapat lagi melompat keluar. Mengapa? Alasannya sangat sederhana. Mereka telah mengatur diri mereka untuk melompat hanya setinggi itu, itulah yang dapat mereka lakukan!

Apakah Anda seperti kutu? Apakah Anda telah diatur untuk melompat hanya setinggi itu?

 

 

1267. SUKACITA AGAMA

 

         Ada sebagian orang beriman yang menebarkan kemurungan dan kesedihan ke mana pun mereka pergi. Jika mereka tersenyum, mereka melakukan itu sebagai topeng. mereka curiga atas semua bentuk kegembiraan dan kebahagiaan. Bagi mereka, agama adalah selubung kesedihan dan pengurungan diri.

Seorang murid berkata demikian tentang gurunya yang terkenal, “Ia buat aku merasa seperti bermandikan cahaya matahari”. Yesus seperti itu

Guru kenamaan Spurgeon berkata dalam bukunya “Pengajaran bagi Para Murid” – “Saya tahu anggota masyarakat yang dari kepala hingga kaki, dalam berpakaian, kata, sikap, serta sepatu sama sekali menyerupai seorang petugas penguburan yang kemanusiaannya sedikit pun tidak terlihat. Orang-orang sedemikian hendaknya tetap bertahan pada usahanya menguburkan orang-orang mati; sebab mereka tidak akan berhasil mempengaruhi orang-orang hidup.”

Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya mengajarkan kegembiraan kepada semua orang yang ingin memenangkan jiwa-jiwa: tidak ada kesembronoan atau dusta, tetapi suatu keramah-tamahan, jiwa yang bahagia. Ada lebih banyak lalat tertangkap dengan gula daripada dengan cuka. Akan ada lebih banyak jiwa yang dituntun ke surge oleh seseorang yang menampakkan surga di wajahnya, daripada seseorang yang memiliki api neraka dalam sinar matanya”.

Yesus tidak pernah menganggap kebahagiaan sebagai suatu kejahatan. Mengapa para pengikutnya melakukan itu? Jangan lupa: Ia melakukan mukjizatNya yang pertama ‘mengubah air menjadi anggur’ pada pesta pernikahan.

 

 

 

 

1268. ANDA BERHARGA

 

         Seorang pengusaha mengisahkan cerita berikut tentang dirinya:

Saya gagal di kelas tiga dan hal itu begitu menjatuhkan semangatku sehingga bahkan di tingkat lanjutan saya duduk di bangku kelas urutan terakhir.

Kemudian, pada suatu hari sesuatu terjadi dan mengubah semua hal ini. Di kelas kami, tingkat delapan, ada pelajaran menari dan guruku membawa saudarinya, yang juga setengah umur. Ketika kedua wanita itu tiba di tempat tarian, yang pertama dilakukan Nona Neff menarik saya keluar dari tengah kerumunan dan mengantar saudarinya, “Patsy, saya ingin engkau bertemu Tony dulu; ia memiliki senyum paling indah di kelas”.

Ia tidak berkata, “Inilah si Tony: ia tidak dapat membaca, tidak dapat menyanyi, atau tidak dapat melakukan sesuatu”. Tidak, ia tidak berkata demikian! Ia, sebaliknya, berkata, “Ia mempunyai senyum paling indah di kelas”.

Saya meninggalkan ruang tarian itu lebih awal dan dengan keyakinan diri saya telah meraih gelar Master, menjadi seorang guru dan pengusaha, dan sekarang bekerja pada perusahaan computer.

Tetapi semuanya berawal dalam kelas tarian di Sekolah Lanjutan saat Nona Neff menunjukkan bahwa saya memiliki sesuatu yang bernilai, sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Rasa hormat akan diri sendiri telah kembali.

 

 

1269. MENJADI TERANG BAGI DUNIA

 

         Penulis Inggris, John Ruskin, telah memberi kita suatu gambaran yang bagus tentang ‘Tuhan menghendaki kita jadi apa di dunia ini’.

Pada masa lampau sebelum ada listrik, jalan-jalan diterangi dengan obor. Setiap sore petugas lampu akan berkeliling dengan sebuah lampu kecil dan menyalakan lampu demi lampu.

Suatu sore, Ruskin sedang duduk dalam rumahnya memandang keluar jendela. Di sebrang lembah ada sebuah jalan menyusuri lereng perbukitan. Di sana Ruskin dapat melihat lampu satu demi satu sedang dinyalakan oleh petugas. Karena gelap, Ruskin tidak dapat melihat petugas lampu itu, hanya obornya yang menyala dan jejak lampu-lampu yang ia tinggalkan di belakangnya.

Menyaksikan hal itu, Ruskin berbalik kepada orang yang duduk bersamanya dan berkata, “Ada sebuah ilustrasi yang bagus tentang seorang Kristen. Manusia mungkin tidak pernah mengenalNya, tidak pernah bertemu denganNya, bahkan mungkin tidak pernah melihatNya. Tetapi mereka tahu bahwa Ia sedang melintasi dunia mereka lewat jejak terang yang Ia tinggalkan”.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang….”, kata Yesus dalam Injil Matius 5:16.

 

 

1274. TAKDIR

 

Pada suatu hari seorang pastor dari Irlandia dihadapkan dengan suatu masalah keagamaan persis di tengah lading gandum. Seorang petani sedang mengumpulkan jerami ke dalam kantong-kantong, ketika ia melihat Pastor mendekatinya dari sebrang. “Lihatlah ini, Pastor”, kata petani itu sambil menggaruk jerami, “maukah engkau member jawaban atas satu pertanyaanku yang sudah cukup lama menggangguku. Kukatakan kepadaku sekarang, apakah Allah mengetahui segala sesuatu?”

“Tentu saja, jawab Pastor.

“Apakah Dia mengetahui saya akan diselamatkan atau saya akan tersesat?”

“Hmmm, saya kira Ia tahu.”

“Kalau begitu, katakana kepadaku, mengapa saya harus bersusah payah mencoba menyelamatkan jiwaku? Saya tidak akan mengubah ketetapanNya, bukan?”

“Baiklah sekarang, Bill”, kata Pastor setelah berpikir sejenak, “engkau dan saya setuju bahwa Tuhan Allah mengetahui segala sesuatu, bukankah begitu?”

“Tentu, Pastor.”

“Apakah Ia tahu jerami gandum ini diselamatkan atau tidak?”

“Saya kira Ia tahu; itu tidak perlu diragukan lagi.”

“Baiklah Bill, mengapa engkau tidak mengambil traktormu dan pulang ke rumah. Engkau tidak bermaksud mengubah rencana Tuhan, bukan?”

Petani itu memandang kepadanya, mengerti maksudnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan jerami.

 

 

 

1280. PENDERITAAN MENGHASILKAN KEMAJUAN DAN KEMULIAAN

 

         Ben Sadok adalah seorang pria yang membenci orang lain, dan tidak mempunyai kesukaan lain selain mendatangkan penderitaan bagi orang lain. Ia seorang sadistis, seperti diisyaratkan oleh namanya.

Suatu hari, ia berjalan-jalan melalui sebuah oasis di padang gurun dan tampak olehnya sebuah tunas kelapa yang baru muncul di permukaan tanah. Tunas itu kelihatan sangat menjanjikan. Tetapi tabiat setan Ben Sadok menyeringai dan berkata, “Saya akan menamatkan riwayatnya!” Maka ia mengangkat sebuah batu besar dan menempatkannya persis di puncak pohon kelapa yang sedang bertumbuh itu. “Batu itu akan mendatangkan kesakitan padamu”, ia mengejek seraya membersihkan debu dari tangannya dan menghilang.

Tunas kelapa yang masih sangat muda itu mencoba dengan segala cara untuk membebaskan diri dari batu yang mengganjalnya. Ia menggoncang-goncangkan dirinya dan melengkung ke segala arah. Tetapi batu besar itu tidak bergeser sedikit pun. Maka satu-satunya jalan keluar yang dapat ditempuh oleh tunas kelapa itu ialah menancapkan akarnya ke dalam tanah semakin dalam dan semakin dalam sehingga ia dapat memikul beban yang ekstra berat itu. Dan hasilnya, akarnya menjalar ke setiap penjuru yang ada airnya sehingga menghidupkan seluruh oasis. Kemudian, dengan menyerap air yang tak habis-habisnya itu, kelapa itu bertumbuh dengan lebih cepat dan dalam waktu yang sangat singkat daun-daunnya berjejal lebat menutupi batu penghalang itu. Ia pun menjadi pohon tertinggi di situ dan menghasilkan buah-buah kelapa paling banyak dan bermutu.

Bertahun-tahun kemudian, setan Ben Sadok kembali untuk menikmati seberapa jauh ia telah berhasil melumpuhkan pohon kelapa itu dengan batu. Ia memandang sekeliling mencari pohon yang tertambat itu. Namun sia-sia. Kemudian pohon kelapa yang paling tinggi itu membengkokan puncaknya, memperlihatkan kepada Ben Sadok batu besar yang masih terselip di puncaknya, dan berkata kepadanya, “Saya ingin berterima kasih kepadamu atas batu itu. Bebannya telah memacu saya untuk bertumbuh lebih tinggi dari semua kelapa lainnya di sini.”

 

 

1282. MULANYA TERTINGGAL, AKHIRNYA MENANG

 

         Ada museum tentang orang-orang terkenal yang sama sekali tidak menonjol pada masa kecil mereka. Winston Churchill tampak begitu bodoh ketika masih kecil, sehingga ayahnya berpikir bahwa bila dewasa, ia tidak akan dapat hidup di Inggris.

Charles Darwin berprestasi sangat buruk di sekolah sehingga ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kehadirannya akan memalukan keluarga.

Penulis kenamaan G.K. Chesterton tidak dapat membaca hingga ia duduk di bangku kelas tiga. Salah seorang gurunya pernah mengatakan kepadanya anak yang berbadan gemuk ini, “Jika saja kami dapat membelah kepalamu, kami mungkin tidak akan menemukan otak di sana, kecuali segumpal lemak putih”.

Guru dari Thomas Edison, penemu listrik, menyebutnya sebagai anak dungu.

Orangtua si jenius, Albert Einstein, merasa sangat cemas terhadap prestasi Albert yang sangat rendah di sekolah. Ia hanya mendapat nilai baik dalam pelajaran matematika. Pernah suatu saat, gurunya meminta kepadanya untuk meninggalkan sekolah, dengan mengatakan kepadanya,”Einstein engkau tidak akan pernah menjadi seseorang”.

Tengoklah sekarang, betapa kelirunya penghakiman yang dijatuhkan atas orang-orang itu. Lihatlah, mereka telah mengukir namanya abadi dalam sejarah.

 

 

1284. KEBAHAGIAAN TIDAK DAPAT DISEMBUNYIKAN

 

         Ayahku seorang tukang kayu. Ia tidak pernah mau berpakaian rapi dan bersih. Tetapi ketika ibuku meninggal, Ayah membeli sepasang pakaian yang indah dan dikenakan untuk pertama kali dalam upacara penguburan Ibu.

Setahun kemudian, saya mengunjungi sebuah toko busana dan melihat sepasang pakaian yang mirip dengan setelan yang dikenakan Ayah dalam upacara penguburan Ibu. Saya dan pelayan toko itu terlibat dalam percakapan tentang Ayah dan keengganannya mengenakan pakaian indah. Kemudian pelayan toko yang sudah berumur itu mengatakan kepadaku, “Putriku saying, aku kenal ayahmu. Ia sering datang ke sini untuk mengagumi pakaian-pakaian indah yang kami jajakan, tetapi ia tidak pernah membeli satu pun. Ia selalu mengatakan bahwa engkau membutuhkan banyak hal lebih daripada keperluannya akan pakaian.

Ketika saya mendengar itu, air mataku jatuh berlinang. Tetapi orang tua itu lebih lanjut mengatakan, “Ayahmu mengatakan bahwa ia selalu merasa berpakaian indah dalam dirinya. Dan saya percaya kepadanya. Ia suka tersenyum. Ia sungguh mengenakan pakaian yang sangat indah sekeliling hatinya.”

 

 

 

 

1317. BERDOA MENGGUNAKAN KARTU

 

         Dalam suatu peperangan beberapa tentara membawa Kitab Suci ke sebuah kapel kecil untuk beribadah hari Minggu. Seorang tentara, karena tidak memiliki Kitab Suci, menebarkan satu set kartu di sebuah bangku yang kosong. Ia kemudian digiring ke pengadilan karena tuduhan menghina rumah Tuhan. Tetapi ia menerangkan kepada hakim bahwa kartu adalah buku doanya. Inilah kesaksiannya:

“Kartu As mengingatkan saya bahwa hanya ada satu Allah.

Angka dua mengatakan kepada saya bahwa ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Angka tiga membuat saya senantiasa ingat kepada Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Angka empat mengingatkan saya pada keempat Penginjil Matius, Markus, Lukas, Yohanes.

Angka lima mengingatkan saya pada kelima wanita bijak yang mengisi lampu mereka dengan minyak.

Angka enam mengatakan bahwa Allah menciptakan surga dan bumi serta segala isinya dalam enam hari.

Angka tujuh adalah hari Sabat, hari Allah beristirahat (setelah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya).

Angka delapan menunjuk pada delapan orang yang diselamatkan ketika terjadi air bah: Nuh dan istrinya, tiga putranya dan istri-istri mereka.

Angka sembilan mewakili Sembilan orang kusta yang tidak tahu berterima kasih.

Angka sepuluh sudah barang tentu menunjuk pada Sepuluh Perintah.

Kartu King tampil sebagai Raja satu-satunya di surga, Allah Maha Kuasa.

Kartu Queen adalah Bunda Maria yang terberkati, Ratu Surga.

Kartu Jack menunjuk pada si jahat.

Ada 365 kotak pada kulit kartu, sebagaimana 365 hari.

Ada 52 kartu dalam satu set, sebagaimana 52 minggu dalam setahun.

Ada 13 jenis permainan dalam satu set, sebagaimana 13 minggu untuk setiap caturwulan.

Ada 4 warna kartu, sebagaimana 4 minggu dalam sebulan.

Ada 12 kartu bergambar, sebagaimana 12 bulan dalam setahun.

Nah sekarang Anda dapat melihat, yang mulia, bahwa kartu melayani saya bukan saja sebagai Kitab Suci dan almanak tetapi juga sebagai sebuah buku doa.

 

 

1319. BUKU KELUHAN

 

         Kita tampaknya hidup dengan keluhan-keluhan. Persyaratan pertama dalam setiap perusahaan yang didirikan adalah tersedianya sebuah kotak keluhan, yang dapat dilihat dengan jelas. Terkadang namanya diperhalus menjadi “kotak saran”.

Seorang misionaris India bercerita tentang pengalamannya, “Suatu hari saya sedang menyusuri sebuah stasiun kereta api kecil. Tidak ada seorang pun tampak di sana. Tetapi sebuah tanda dengan tulisan merah yang besar tampak kepadaku. Tanda itu memaklumkan suatu pesan penting kepada setiap pengunjung yang pada waktu itu sedang kosong. Kata-kata itu berseru kepadaku, ‘Buku Keluhan Tersedia’.

“Stasiun yang kecil dan sepi itu tidak mempunyai papan pengumuman jadwal-jadwal perjalanan atau pun petunjuk-petunjuk lainnya. Tidak memiliki restoran atau bahkan ruang tunggu. Ia tidak memiliki hal-hal yang paling dibutuhkan. Tetapi di sana ADA sebuah buku keluhan. Buku itu menerangkan semacam status tempat itu. Setiap stasiun yang ingin menjaga  nama baiknya harus memiliki sebuah buku keluhan, meskipun sarana-sarana lainnya tidak ia miliki.

Kemudian terlintas suatu pikiran aneh dalam benakku. Jika tak ada buku keluhan di sana, di mana saya dapat mengeluhkan bahwa tidak ada buku keluhan?”

 

 

1365. RONALD REAGEN INGAT

 

         Ronald Reagen berasal dari keluarga miskin. Ayahnya seorang pemabuk berat; ibunya seorang wanita yang sangat sederhana. Inilah pernyataan Reagen tentang ibunya, “Ibuku – Allah memberkatinya! – adalah sosok yang paling ramah yang pernah saya jumpai dalam hidup. Keluarga kami miskin, tetapi ibu saya akan selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang-orang yang lebih kurang beruntung nasibnya daripada keluarga kami.”

Pada waktu ia menjadi actor di Hollywood, reagen pernah menerima sepucuk surat dari seorang pria yang mempunyai seorang putrid kecil yang sedang sekarat dan menginginkan sebuah potret diri sang aktor yang sudah ditandatanganinya. Sang bintang tidak menghiraukan permintaan itu. Suatu ketika, ia menceritakan hal itu kepada ayahnya dan ayahnya menasehati agar ia memenuhi permintaan itu dan segera mengirim fotonya kepada putrid kecil itu. Maka ia pun melakukannya.

Dua minggu kemudian, Reagen menerima surat dari seorang perawat di rumah sakit tempat gadis kecil itu dirawat. Perawat itu memberitahukan bahwa gadis kecil itu telah meninggal sambil mendekap erat foto bintang film Ronald Reagen.

Bagi Reagen itulah suatu pelajaran berarti tentang hidup. Ia mengungkapkannya begini, “Tidak akan pernah terulang lagi, saya menahan diri untuk berbuat baik kepada siapa pun ketika saya dapat melakukannya, betapapun kecilnya”.

 

 

1382. BOHONG YANG TIDAK BERBAHAYA MENEGUHKAN

 

         Lillian Canter, ibu kandung mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Canter, diwawancarai seorang reporter wanita yang agresif. Dari pertanyaan pertama yang diajukannya tampak jelas bagi Lillian bahwa reporter ini bermaksud hendak menilai Jimmy Canter, yang sedang menanjak karier politiknya, dari wanita yang kecil berlidah tajam ini.

“Putramu”, reporter memulai, “telah mengelilingi Amerika Serikat, mengatakan kepada orang-orang untuk tidak memilihnya seandainya ia pernah membohongi mereka. Dapatkah Anda, sebagaimana seorang ibu mengenal anaknya, dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak pernah berbohong?”

“Baiklah, mungkin bohong kecil yang tidak membahayakan baik sekarang maupun di waktu yang akan datang”, timpal Ny. Lillian.

“Dan apa”, reporter itu kembali melanjutkan, “perbedaan antara bohong yang tidak membahayakan dengan jenis bohong yang lain” Dapatkah Anda menerangkan kepadaku apa yang dimaksudkan dengan bohong yang tidak membahayakan?”

“Saya tidak yakin dapat menjelaskannya”, kata Nyonya Lillian dengan lembut, “tetapi saya dapat menerangkan kepada Anda dengan contoh. Masih ingatkah Anda ketika masuk beberapa menit lalu, saya mengatakan kepada Anda betapa Anda tampak cantik dan betapa saya bahagia bertemu Anda?”

 

 

1385. ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

 

         Konon, ada sebuah kota yang dibangun di atas tebing sebuah jurang yang dalam. Begitu banyak orang jatuh dari tebing jurang yang tidak mempunyai fasilitas pengaman itu sehingga orang yang baik hati dari komunitas itu tergerak untuk mengumpulkan dana guna membeli sebuah ambulans yang akan diparkir di kaki jurang itu, ia akan segera diangkat dan dilarikan ke rumah sakit.

Seseorang mengingatkan bahwa gagasan itu tampaknya bodoh karena menghabiskan terlalu banyak uang untuk membeli sebuah ambulans. Padahal jauh lebih baik kalau membangun pagar pengaman di sekeliling jurang itu.Karena hal itu berarti berarti mencegah terjadinya kecelakaan. Tetapi penduduk yang terlampau sederhana di dusun itu tidak akan mendengarkan usulan demikian. Mereka lebih suka menyelamatkan orang-orang yang mengalami kecelakaan daripada mencegah terjadinya kecelakaan.

Adalah baik untuk menarik orang keluar dari api, tetapi adalah jauh lebih baik lagi mencegah kemungkinan orang jatuh ke dalam api.

Bukankah sebuah pepatah tua mengatakan bahwa secuil usaha pencegahan sama nilainya dengan usaha penyembuhan yang besar? Mungkin itulah pikiran orang Samaria yang baik hati.

 

 

1389. MENYEDIAKAN WAKTU BAGI UMAT

 

         Seorang pastor yang sedang berkeliling mengunjungi umatnya, mampir di sebuah rumah petani. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah sekali dari seorang anak kecil, anak laki-laki satu-satunya dalam rumah itu berusia empat tahun.

Kemudian ia menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap ramah. Ibunya berada di bak dapur, sedang mencuci bagian-bagian lemari es yang paling sulit ketika anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah. “Mami, apa yang sedang dilakukan pria dalam fot ini?” tanyanya.

Alangkah kagumnya Pastor itu ketika melihat ibunya segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Setelah anak itu pergi, Pastor mengomentari perlakuan dan sikapnya yang istimewa untuk menjawab pertanyaan putranya dan mengatakan kepada wanita itu, “Kebanyakan kaum ibu tidak akan mau diganggu”.

“Saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya,” kata ibu tani itu kepada Pastor, “tetapi tidak pernah lagi putra saya akan menanyakan kepada saya pertanyaan itu.”

 

 

1395. POLITIK, PELAJARAN WAJIB?

 

         Bahkan seorang tokoh Komunis yang paling jahat, Nikit Kruschchev, berkata, “Semua politisi di mana-mana sama. Mereka berjanji membangun jembatan meskipun di tempat yang tidak ada sungai. Dan satu-satunya alasan mengapa mereka menjadi politisi ialah karena tidak adanya pelatihan sebagai persyaratan mutlak yang dituntut untuk mengemban tugas tersebut.

Ada suatu kritik yang sering kali muncul dalam bentuk pertanyaan, “Pernahkah terjadi pada Anda bahwa dalam bentuk pemerintahan kita seorang politisi dapat menduduki suatu jabatan yang sarat dengan tanggung jawab tanpa melalui pelatihan?” Ia tidak mendalami suatu keahlian. Ia tidak menguasai suatu bidang khusus apa pun. Ia tidak perlu melewati suatu ujian untuk mengukur kemampuannya; ia tidak memiliki diploma maupun sertifikat keahlian.

Seorang dokter hewan yang merawat ternak kita dituntu untuk menunjukkan kesiapannya terhadap tugasnya itu. Tetapi apakah seorang politisi, yang mengincar bukan saja mengarahkan karya kerajinan tangan kita, tetapi terutama kehidupan pribadi kita, pernah dituntut lisensi tanda kesiapannya?”

Seorang Menteri Kesehatan mungkin mengepalai para dokter dan para praktisi kesehatan namun ia bahkan tidak mengetahui bagaimana mengukur suhu badan seseorang. Seorang Menteri Perhubungan dapat menentukan pesawat-pesawat mana yang dibeli kendatipun ia sendiri tidak dapat membedakan elevator dengan baling-baling.

Dan orang-orang seperti itulah yang sedang mencoba memipin bangsa-bangsa di dunia ini? Mungkin itulah sebabnya mengapa keadaan dunia ini begitu kacau.

1403. NASIB vs. ANDA

 

         Persoalannya bukanlah apa yang dibuat nasib bagi kita, tetapi apa yang kita buat terhadap nasib yang akan menentukan kita jadi apa.

Apabila seseorang ditakdirkan untuk sesuatu hal, apa yang dapat menghentikannya? Lumpuhkan dia dan Anda akan memiliki Tuan Walter Scott. Masukkan dia ke dalam sel penjara, dan Anda akan memiliki John Bunyan. Lahirkan dia dalam kemiskinan yang hina dan Anda akan memiliki Lincoln. Bebani dia dengan prasangka rasial yang menyakitkan dan Anda akan memiliki Marthin Luther King. Tikam dia dengan kesakitan reumatik dan Anda akan memiliki Steinmetz. Tulikanlah dia dan Anda akan memiliki Beethoven. Buatlah dia buta dan tuli dan Anda akan memiliki Helen Keller. Jadikanlah dia pemain violin kedua dalam suatu orkestra yang suram dan Anda akan memiliki konduktor kenamaan Toscanini.

Biarkanlah hidup menantang Anda, Anda manusia dan kesulitan-kesulitan hidup ditimpakan pada Anda, tidak dengan tujuan yang tidak baik, yaitu menghancurkan Anda, tetapi untuk menantang Anda.

St. Paulus menjamin kita dengan berkata, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidka melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu (1Kor.10:13).

Seseorang pernah berkata bahwa sebuah salib adalah permulaan mahkota.

 

 

 

1419. MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN BAIK MENDATANGKAN HASIL YANG BAIK

 

Suatu ketika seorang pengusaha meminta kepada pemilik bengkel pertukangan agar mengirim seorang tukang kayu kepadanya. Maka, muncullah seorang sahabat muda yang kuat dan kekar. “Saya ingin pagar ini diperbaiki”, kata pengusaha itu, “tetapi saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak uang untuk itu. Di sini ada beberapa papan yang tidak dipakai, pergunakanlah itu. Engkau tidak membutuhkan terlalu banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Saya hanya akan membayarmu dua puluh ribu rupiah untuk pekerjaan ini. Saya akan kembali besok dan membayar upahmu.”

Hari berikutnya pengusaha itu kembali untuk memeriksa pagar yang telah diperbaiki. Ia menemukan papan telah dimanfaatkan dengan baik dan terpaku rapi dengan paku di tempatnya. Pagar itu, yang sebelumnya sudah rusak parah, sekarang tegak berdiri dengan sangat rapi. Pengusaha itu terperangah dan sangat puas dengan hasil pekerjaan yang begitu luar biasa, tetapi cemas bahwa harganya lebih tinggi daripada yang dipesannya. Maka ia memanggil pekerja itu, “Saya cemas bahwa engkau telah mengeluarkan uang jauh lebih banyak daripada yang saya kehendaki”, katanya dengan agak dongkol. “Saya sungguh tidak peduli betapa pun hasilnya baik/”

“Tetapi saya telah MENGERJAKANNYA”, jawab pekerja itu. “Anda lihat, ini pekerjaan-KU, bukan pekerjaanmu, memperbaiki pagar dan saya ingin melakukan pekerjaan itu sebaik-baiknya”.

“Tetapi saya tidak mau mengeluarkan uang terlalu banyak”, kata pengusaha itu. “Saya akui hasilnya bagus; tetapi sekarang, katakan kepadaku berapa utangku padamu?”

“Dua puluh ribu rupiah”, kata tukang kayu itu.

Pengusaha itu terbelalak seraya bertanya kepadanya, ”Bagaimana mungkin engkau dapat melakukan pekerjaan sehebat itu dengan uang sesedikit ini?”

“Karena inilah tugasku-dan harus kuselesaikan dengan sebaik-baiknya!”

“Tidak seorang pun diperkenankan melihat pagar itu sebelum saya memanen anggur darinya”, kata pengusaha itu.

“Tetapi saya akan tahu bahwa saya telah mengerjakannya dengan tidak baik”, kata sang tukang, “dan setiap kali saya memandangnya, saya akan mengatakan kepada diriku, ‘Joe engkau seorang penipu; engkau seharusnya melakukan pekerjaan itu dengan lebih baik dan bersikap adil terhadap dirimu sendiri’. Tidak, sahabatku, saya tidak akan dapat melakukan pekerjaan dengan tidak baik, dan menerima diriku sendiri”.

Beberapa tahun kemudian, pengusaha itu mengadakan penawaran tender untuk membangun beberapa gedung bertingkat milik pemerintah. Ada banyak pelamar di antara para ahli bangunan, tetapi wajah salah seorang dari mereka tertangkap matanya. “Itulah orang yang mengerjakan pagarku”, katanya. “Saya tahu ia bekerja jujur dengan kita, maka saya akan memenangkan dia tender ini dan hal itu menjadikannya seorang kaya raya.”

 

 

1446. IA MERENDAHKAN DIRINYA

 

         Seorang Cina Mandarin mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak orang penting. Kebanyakan tamu tiba dengan kereta kuda yang sangat khusus. Kemudian hujan mulai mengguyur dan membentuk kolam lumpur persis di depan pintu masuk utama ke dalam rumahnya.

Datanglah sebuah kereta kuda dan berhenti tepat di tengah genangan kolam lumpur itu. Dan seorang pria tua berpakaian kehormatan mencoba keluar, namun tergelincir di tangga kereta dan tercebur ke dalam genangan lumpur. Ketika ia bangkit dari kolam lumpur itu, ia menyadari dirinya sudah bermandikan lumpur… dan tidak pantas sama sekali untuk masuk ke dalam ruang perjamuan.

Banyak dari antara para tamu yang hadir menertawakan pria malang itu. Tetapi seorang pelayan yang melihat kejadian itu bergegas menemui tuannya dan melaporkan kejadian itu. Tuan pesta itu segera keluar menemui tamu yang malang itu untuk mencegahnya pulang. Ia mencoba membujuk orang itu agar tetap tinggal meskipun dalam keadaannya yang demikian. Tetapi tamu itu takut akan tatapan mata dan pembicaraan para tamu lainnya, maka ia ingin segera kabur.

Maka si Mandarin yang berpakaian indah itu membenamkan dirinya ke dalam kolam lumpur yang sama. Ia juga berlumpur dari kaki hingga kepala. Kemudian ia menggandeng lengan tamunya dan mereka berdua, dalam keadaan penuh lumpur, beriringan masuk ke ruang perjamuan… dan tidak ada seorang pun yang berani berkata-kata.

 

1456. AIR DARI SUMUR BIARA

 

         Seorang wanita menjumpai St. Vincentius Ferrer dan mengeluhkan bahwa suaminya sangat tidak sabar dan cepat naik pitam sehingga ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ia bertanya kalau St. Vincentius dapat memberikan kepadanya sedikit penyembuhan untuk membawa damai dan ketenangan kembali ke dalam rumah tangganya.

“Saya akan mengatakan kepadamu apa yang harus dilakukan”, kata orang kudus itu. “Datanglah ke salah satu biara dan mintalah kepada seorang biarawan yang engkau temui di pintu gerbang masuk biara itu agar memberikan kepadamu sedikit air dari sumur biara. Bila suami kembali ke rumah, minumlah air itu secukupnya tetapi jangan meneguknya. Tetaplah menahannya dalam mulutmu, dan engkau akan menyaksikan suatu keajaiban.”

Wanita itu kembali ke rumahnya dan mengikuti semua nasihat secara teliti. Menjelang malam, suaminya kembali ke rumah, mulai mengeluh dan mengkritik seperti biasanya. Sang istri dengan segera mengisi penuh mulutnya dengan air misterius dan menutup bibirnya rapat-rapat dan berhati-hati agar tidak tertelan. Segera suaminya berhenti mengomel.

Sang istri mengulangi aksinya itu lagi dan lagi ketika suaminya kembali ke rumah; dan hasilnya sangat menakjubkan. Suaminya berubah sama sekali. Ia mulai berbicara dengan bahasa cinta kepadanya dan bahkan memuji kesabarannya dan tenggang rasanya kepadanya.

Nyonya itu begitu gembira atas perubahan yang telah terjadi pada suaminya, maka ia segera menemui St. Vincentius untuk menceritakan segala sesuatu mengenai air ajaib. Orang kudus itu hanya tersenyum dan berkata, “Anakku terkasih, bukanlah air dari sumur biara itu yang menyebabkan perubahan besar dalam diri suamimu, melainkan ketenanganmu. Biasanya jawaban-jawabanmulah yang membuatnya semakin marah; tetapi kini ketenanganmu melembutkan dan menentramkannya.”

 

 

1483. MISTERI ALLAH

 

         Pernahkah engkau memperhatikan biji semangka? Ia mempunyai kemampuan untuk keluar dari perut bumi, membentang di atas tanah, dan melipatgandakan beratnya sendiri hingga 200.000 kali! Dapatkah engkau menerangkan kepadaku bagaimana benih itu menghasilkan buah dengan warna berukir di kulitnya melebihi kemampuan pelukis, dan di bagian dalam kulit buah terdapat bersemayam benih-benih berwarna hitam, yang masing-masing mampu menggandakan dirinya 200.000 kali lipat?

Bilamana engkau dapat menerangkan kepadaku rahasia semangka yang sederhana, maka engkau dapat meminta kepadaku untuk menerangkan kepadamu rahasia Allah.

 

 

 

1485. KESEIMBANGAN ROHANI YANG BAIK

 

         Beberapa orang rahib yang terlalu melebih-lebihkan kehidupan rohani, datang menemuiAbbas Lucius. Sang Abbas bertanya,”Apa pekerjaan tanganmu?”

Mereka berkata, “Kami tidak menyentuh pekerjaan tangan sedikit pun, tetapi sebagaimana dianjurkan rasul, kami berdoa tiada putusnya”.

Abbas menanyakan kepada mereka kalau mereka tidak makan, dan mereka menjawab bahwa mereka memang makan. “Dengan demikian”, katanya kepada mereka, “bila kamu sedang makan, siapa yang berdoa bagimu?”

Selanjutnya, ia bertanya lagi kepada mereka apakah mereka tidak tidur, dan mereka menjawab bahwa mereka juga tidur. Dan ia berkata lagi kepada mereka, “Ketika kamu sedang tidur, siapa yang berdoa bagimu?” Mereka tidak dapat menjawabnya.

Abbas berkata kepada mereka, “Maafkan saya, tetapi kamu tidak bertindak seperti yang kamu katakan. Saya akan menunjukkan kepadamu bagaimana saya, sementara melakukan pekerjaan tanganku, berdoa tanpa henti. Saya duduk bersama Allah, meremas saringan dan menganyam tali-temali, dan saya katakan: Allah, karena kemurahanMu yang besar, ampunilah aku, dan menurut besarnya belaskasihMu, luputkanlah aku dari dosa-dosaku.”

Abbas Lucius menanyakan kepada mereka kalau ini bukan doa, dan mereka menjawab bahwa itu memang doa. Kemudian ia berkata kepada mereka, “Maka, bila saya telah mempergunakan sepanjang hari dengan bekerja dan berdoa, membuat kurang lebih tiga belas kepingan uang, saya menyisihkan dua kepingan untuk orang miskin, dan membayar makananku dengan sisanya. Orang yang menerima dua keping itu mendoakan saya ketika saya sedang makan atau sedang tidur. Dalam hal ini, dengan bantuan Rahmat Allah, saya memenuhi perintah untuk berdoa tanpa henti.”

 

 

 

1486. MAKSUD ALLAH DALAM CIPTAAN

 

         Pada suatu hari seorang penebang kau mengajak cucunya ke dalam hutan untuk pertama kalinya dalam memilih dan menebang kayu. Kayu-kayu itu kemudian dijual kepada pembangun kapal. Dalam perjalanan, penebang itu menjelaskan bahwa maksud dari setiap pohon terkandung dalam bentuk alaminya: yang lurus untuk dijadikan papan, yang mempunyai lengkungan untuk gading-gading perahu, dan yang lurus dan panjang untuk dijadikan tiang. Penebang itu mengatakan kepad cucunya bahwa dengan menaruh perhatian pada seluk-beluk setiap pohon, dan dengan pengalaman dalam mengenal sifat-sifat ini, suatu hari nanti ia juga akan dapat menjadi penebang kayu di hutan itu.

Setelah menyusur agak jauh ke dalam hutan, cucunya itu melihat sebatang pohon yang sudah tua yang belum pernah ditebang. Anak itu bertanya kepada kakenya kalau ia dapat menebangnya karena pohon itu tampaknya tidak berguna untuk pembangunan kapal-tidak ada serat yang lurus, batangnya pendek dan berbonggol, serta lengkungannya tidak sesuai untuk pembuatan perahu. “Kita dapat menebangnya untuk kayu api”, kata sang cucu. “Dengan demikian ia akan menjadi agak berguna bagi kita.”

Penebang itu menjawab bahwa saat itu mereka harus mengutamakan pekerjaan menebang pohon bagi para pembangun kapal; mungkin nanti mereka dapat kembali lagi ke pohon itu.

Setelah beberapa jam menebang pohon-pohon raksasa di tengah hutan belantara itu, sang cucu keletihan dan meminta istirahat sejenak di tempat yang teduh. Penebang itu mengantar cucunya berteduh di bawah pohon tua tadi. Mereka duduk bersandar pada batangnya di bawah naungan dahan-dahannya yang sejuk. Setelah mereka beristirahat sejenak, penebang itu mulai menerangkan kepada cucunya tentang perlunya kesadaran dan pengenalan yang sungguh-sungguh atas segala sesuatu di alam semesta, termasuk segala sesuatu yang ada di hutan. Katanya, “Beberapa hal tampak jelas dan mudah dimengerti, misalnya pohon yang tinggi dan lurus, tetapi ada juga hal-hal yang tampak kurang jelas dan sulit dimengerti. Hal-hal seperti ini memerlukan perhatian yang lebih dekat dan sungguh-sungguh. Misalnya, mengetahui kegunaan pohon yang berbonggol, atau cabang-cabang yang lengkung, dsb. Disamping itu, ada juga hal-hal yang mungkin secara dasariah tampaknya tidak berguna atau tidak mempunyai maksud sama sekali, tetapi ternyata berguna juga, seperti pohon tua ini. Singkatnya, engkau harus belajar dengan sungguh-sungguh setiap hari agar engkau dapat mengenal dan menemukan maksud Allah atas segala sesuatu dalam ciptaan. Seperti halnya dengan pohon tua ini, yang begitu cepat kau anggap tidak berguna kecuali untuk kayu api. Sekarang ia malah memungkinkan kita beristirahat sambil bersandar pada batangnya menikmati keteduhan dan kesejukan udara di bawah naungan dahannya yang rindang.

Ingatlah, cucuku, tidak semua hal dapat dimengerti dari apa yang tampak di luarnya. Bersabarlah, perhatikanlah, kenalilah, dan temukanlah.

       

 

NASIB SEMBILAN JUTAWAN

 

Pada tahun 1923, di sebuah hotel mewah di Chi­cago, pernah terjadi peristiwa yang langka, yaitu Sembilan jutawan berkumpul untuk bersidang. Kesembilan jutawan ini adalah :

Pertama, manager perusahaan tembaga yang terbesar di dunia; kedua, manager perusahaan komersial yang terbesar di dunia; ketiga, manager perusahaan gas yang terbesar di dunia; keempat, manager perusahaan pangan terbesar di dunia; kelima, kepala kantor kenotarisan di NewYork; keenam, salah satu pejabattinggi Departemen Dalam Negeri, Amerika; ketujuh, manager perusahaan swasta terbesar di dunia; kedelapan, salah satu konglomerat NewYork; kesembilan, manager bank Internasional.

Mereka semua sangat ahli di bidang mengelola keuangan. Harta kekayaan mereka luar biasa banyaknya. Seharusnya mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia di dunia, tetapi kenyataan bukanlah demikian! Setelah 26 tahun kemudian, diadakan penyelidikan tentang nasib mereka dan akhir dari penyelidikan itu, sangat mengejutkan.

Manager perusahaan tembaga terbesar dunia, Charles Schwab mengalami kebangkrutan, berutang banyak dan kemudian meninggal dalam penderitaan.

Manager Perusahaan Komersial terbesar dunia, Samuel Insult, hidup terlunta-lunta di luar negeri, kemudian meninggal karena melakukan tindakan kriminal.

Manager Perusahaan Gas terbesar dunia, Howard Hopson, karena menderita tekanan mental, akhirnya dirawat di rumah sakit gila.

Manager Perusahaan Pangan terbesar dunia, Arthur Cutten mengalami krisis ekonomi perusahaan, akhirnya meninggal dalam kemiskinan.

Kepala Kantor Kenotarisan New York yang terkemuka, Richard Whitney, pernah meringkuk dalam penjara negara.

Anggota Pejabat Tinggi di Departeman Dalam Negeri, Amerika, Albert Fall, setelah dilepas dari penjara, lalu meninggal di rumah.

Manager Perusahaan Swasta terbesar dunia, mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri.

Konglomerat New York, Jesse Livermore juga mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri.

Demikian juga Direktur Bank Internasional Leon Kruegen mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri.

 

 

“Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaanya seperti bunga rumput,
rumput menjadi kering dan bunga gugur,
tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.”

(I Petrus 1: 24 – 25)

 

 

 

 

KUASA CINTA

 

 

Seorang ayah memanggil anaknya yang baru pulang dari bekerja. “Benny”, katanya, “Coba tolong kirimkan surat penting ini!” Dengan uring-uringan si anak menjawab, “Ayah ini bagaimana sih, Ben’kan baru pulang dari bekerja. Tubuh terasa letih, sekarang disuruh-suruh lagi”. Dengan penuh pengertian si ayah mengatakan, “Kalau begitu, tidak apalah. Nanti ayah suruh adikmu saja yang mengirimnya”.

Baru saja Benny melempar tubuhnya di pembaringan untuk istirahat. Tiba-tiba telepon berdering. Dengan perasaan gusar ia mengangkat telepon. Dengan suara keras dan kasar ia berkata, “Siapa?” Diseberang sana terdengar suara lembut menjawab, Ben, aku Lucy!” Celaka pacarnya yang menelepon, dengan cepat ia mengubah suaranya, “Oh, dik Lucy, ada apa?”.”Ben, aku memerlukan pertolonganmu nih! Jika engkau tidak letih, tolong antarkan aku ke rumah kakak”. Dengan semangat yang berkobar-kobar ia berkata, “Oh, tentu! Aku akan mengantarmu dan aku segera menjemputmu!”.

Si ayah merasa terheran-heran melihat anaknya yang masuk kamar untuk istirahat, tetapi sekarang terburu-buru keluar rumah dan bertanya, “Benny, katanya kamu letih, mau istirahat, kenapa kok mau keluar lagi?” Dengan muka merah Benny menjawab, “Aku ada urusan penting ayah, lebih penting dari istirahat”. Si ayah hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Demikianlah tinggal tiga hal ini, yaitu: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah KASIH”.

(I Korintus 13 : 13)

“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus,
yaitu bahwa la telah menyerahkan nyawaNya
untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan
nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”

( 1 Yohanes 3: 16 )

 

 

 

CINTA MAMA

 

Keempat orang anak saling berebutan mengatakan, “Saya yang paling cinta mama”. Yang sulung mengatakan, “Di antara kalian aku yang paling besar, dan yang mencintai mama paling lama”. Anak kedua yang perempuan mengatakan, “Aku lebih cinta mama, karena didalam keluarga aku anak perempuan satu-satunya”. Anak ketiga mengatakan, “Mama, aku sangat cinta padamu, jika ada binatang buas yang mau mencelakai mama, saya  pasti akan membunuh binatang  itu”. Anak yang bungsu mengatakan, “Aku cinta mama, tetapi tidak tahu bagaimana mengutarakannya”. Setelah berkata demikian, ia lalu membuka kedua belah tangannya dan merangkul ibunya.

Si ibu dengan wajah berseri-seri mengatakan, “Mama senang mendengar kalian mencintai mama”.

Tiba-tiba mereka mendengar ketukan pintu, setelah dibuka baru diketahui bahwa pak pos sedang mengantarkan surat untuk ibu. lbu dengan segera membuka surat itu dan membacanya. Ticlak berapa lama, ia berkata, “Surat ini sangat penting  sekali dan harus segera dibalas. Siapa di antara kalian yang bisa menolong ibu untuk membawa surat ke kantor pos”.

Anak sulung melihat keluar jendela, di luar hujan rintik-rintik dan ia masih harus menyelesaikan PR-nya. Lalu ia berpikir, “Mengapa harus sekarang dikirim surat itu? Besok sambil ke sekolah, mampir ke kantor pos, bukankah lebih baik?”. Anak kedua berpikir, “Aku anak perempuan tentu ibu tidak menyuruh aku pergi”. Anak yang ketiga melihat ke luar, hari sudah hampir gelap, hujan mulai turun dengan deras, ia merasa malas untuk pergi.

Setelah si ibu selesai menulis surat, ia melihat mereka masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Hanya anak bungsu yang bersiap-siap dengan jas hujannya untuk mengantarkan surat. Si ibu menyerahkan surat kepadanya dan berkata, “Di luar hujan lebat, udara dingin dan gelap. Apakah engkau tidak takut nak?”. “Mama saya tidak takut, karena saya cinta padamu”. Jawab si bungsu.

Siapakah di antara anak-anak yang sungguh­-sungguh mencintai mamanya ?

“Jikalau barang seorang mengasihi Aku, ia akan menurut perkataanKu,

maka BapaKu itu mengasihi dia

dan Kami akan datang kepadanya
dan akan diam bersama-sama dengan dia”.

(Yoh 94:23)

 

 

 

 

HANYA TIGA LANGKAH

 

Seorang ateis mengolok-olok dan mengejek seorang Kristen yang miskin dengan mengatakan, “Perjalanan menuju surga begitu jauh, dan memerlukan sejumlah uang sebagai ongkos untuk sampai di sana. Engkau sebagai umat Kristen yang miskin, bagaimana dapat sampai ke situ?”

Orang Kristen yang miskin itu dengan tenang dan mantap menjawab, “Siapa yang mengatakan perjalanan ke surga itu jauh? Aku beritahu padamu , perjalanan ke surga tidak jauh, hanya tiga langkah saja sudah sampai. Tiga langkah itu, yaitu: bertobat, menerima Tuhan Yesus dan beroleh hidup yang kekal”.

 

 

RELA MATI ENAM KALI

 

Seorang pendeta bersaksi demikian: Pada suatu kali, saya mengunjungi seorang anak yang berusia tujuh tahun. Anak ini dalam keadaan sekarat. Saya duduk di tepi pembaringannya dan bertanya, “Adik, apakah yang kamu inginkan?” Jawabnya, “Aku  ingin bertemu dengan bapak pendeta, kemudian meninggalkan dunia fana ini”. Dengan heran saya bertanya lagi, “Adik apakah kamu tidak mau memperoleh kesembuhan?” “Tidak!” Jawabnya singkat. “Mengapa?” tanyaku. la berkata, “Setelah percaya, saya berusaha mengajak ayah untuk datang di gereja mendengarkan Injil, tetapi ditolaknya. Hati ayah sungguh keras. Jika saya mati, ayah tentu akan mengiringi jenasahku dan juga akan mengikuti upacara di gereja. Pada waktu itu, bapak pendeta mempunyai kesempatan yang baik untuk memberitakan Injil kepadanya. Asalkan ayah dapat mempunyai kesempatan mendengarkan Injil, meskipun harus mati enam kali, aku bersedia!”

Tidak berapa lama kemudian, adik kecil ini meninggal dunia dengan tenang dan dikuburkan. Pada suatu hari, saya mendapat kunjungan seorang pria usia pertengahan, yang  kemudian saya ketahui sebagai ayah dari si anak. Dengan wajah yang masih diliputi kesedihan, ia menceritakan bahwa anaknya rela mati sampai enam kali, untuk memberi kesempatan kepadanya mendengarkan Injil. Tekad anaknya itu menggerakkan hatinya, sehingga ia mengambil  keputusan untuk  menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Supaya Tuhan anaknya itu juga menjadi Tuhannya.

“Pergi jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus.”
( Matius 28: 19 )

 

“BeritakanlahFirman,
siapsedialah baik atau tidak baik waktunya,
nyatakanlah apa yang salah,
tegurlah dan nasehatilah
dengan kesabaran dan pengajaran”
( 2 Timotius 4: 2 )

 

 

 

PENGATURAN TUHAN

 

Seorang pemuda telah mempersembahkan diri untuk menjadi misionaris. Setelah menyiapkan diri dengan meriyelesaikan studinya di Sekolah Teologia dan bersiap-siap  berangkat  ke Afrika untuk mengabarkan Injil diantara suku-suku primitif.

Waktu keberangkatan sudah ditentukan, orang tua dan teman-teman beramai-ramai mengantamya ke stasiun kereta api. Mungkin  karena terlalu asyik mengobrol, tanpa disadarinya kereta api yang akan ditumpanginya sudah mulai berjalan. Begitu sadar, !a cepat-cepat  mengejar kereta tersebut, tetapi malang baginya karena kurang hati-hati, ia terjatuh dan kaki kanannya tergilas kereta.

 

Selama dalam perawatan, ia bertanya-tanya mengapa Tuhan memperkenankan dia menghadapi musibah tersebut ? Tetapi dengan imannya ia beriman bahwa Allah yang dipercayainya tidak pernah melakukan kesalahan. Setelah sembuh, maka terpaksa ia menggunakan kaki kanan palsu yang terbuat dari kayu untuk memudahkan gerakannya. Musibah tersebut tidak menghilangkan keinginan hatinya melayani Tuhan di tengah-tengah suku primitif tersebut.

Lalu pada suatu hari, berangkatlah ia dan berhasil sampai di tempat tujuan. Misionaris muda ini mengetahui bahwa  suku-suku yang akan dilayaninya masih liar dan masih mempunyai kebiasaan memakan daging manusia yang menjadi musuhnya. Dengan hati yang rela berkorban untuk Tuhan, ia masuk ke tengah-tengah hutan lebat itu. Tetapi malang baginya, ia tertangkap.

Suku primitif itu mengadakan pesta karena hasil tangkapannya dan seperti biasa mereka akan membunuh hasil tangkapannya, lalu menyantapnya beramai-ramai. Oleh karena tangkapan mereka kali ini adalah bule dan mereka juga belum pemah menyantap daging bule, sebab itu ada diantaranya ragu-ragu dari segi kelezatan dagingnya. Sebab itu ada yang mengusulkan sebelum dibunuh agar dicoba dulu sedikit. Maka satu diantaranya mengambil golok dan memotong sedikit daging dari misionaris tersebut.

 

Mungkin karena udiknya, orang itu memotong kaki palsu dari misionaris muda itu. Dalam hatinya ia berkata, “Keras sekali daging orang bule ini!” Setelah dicobanya, maka berteriaklah dia, “Daging bule ini kerasnya luar biasa, tidak enak dan hambar !” Karena daging bule ini tidak enak, maka percuma dibunuh, maka dilepaskan dan dibiarkan berada di tengah­-tengah mereka.

Kesempatan yang indah itu, dimanfaatkan oleh misionaris muda ini untuk mengabarkan injil diantara mereka. Tidak berapa lama setelah itu, banyak diantara suku primitif ini yang percaya kepada Tuhan.

Kita  tahu  sekarang,
bahwa  A 11ah  turut  bekerja
dalam  segala  sesuatu
untuk  mendatangkan  kebaikan
bagi  mereka  yang  mengasihi  Dia,
yaitu  bagi  mereka  yang  terpanggll
sesuai  dengan  rencana  Allah, “

(Roma 8.28)

 

 

 

PERSEMBAHAN

 

 

Salah satu anggota majelis penulis pernah bersaksi demikian: Meskipun ia sudah lama menjadi Kristen, tetapi belum mengetahui tentang kewajiban mempersembahkan perpuluhan kepada Tuhan. Pada suatu hari Minggu, ia mendengarkan Pendeta berkhotbah tentang masalah perpuluhan. Khotbah itu menyadarkannya, bahwa selama ini ia telah banyak mencuri uang Tuhan. Dalam hatinya ia berjanji untuk melaksanakan persembahan perpuluhan.

Waktu mau menjalankan janjinya, ia menghadapi kesulitan. Karena pendapatan-nya dan pengeluarannya selama ini hampir seimbang; alias tidah ada kelebihan. Jika sekarang ditambah dengan pengeluaran untuk persembahan perpuluhan, tentu saja akan mengalami defisit. Tetapi ia teguh dengan janjinya dan melaksanakan persembahan perpuluhan. Sungguh luar biasa terjadi, setelah melaksanakan persembahan itu, ia merasa bahwa pendapatan dan pengeluarannya untuk kebutuhan keluarga tetap sama, tetapi satu hal yang luar biasa terjadi; ia bukan saja bisa memberi pesembahan, bahkan sekarang ia mempunyai kelebihan uang untuk disimpan di bank.

 

 

`Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu
ke dalam rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku
dah ujillah Aku, Firman Tuhan semesta alam,
apakah Aku tidak membukakan bagimu
tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat
kepadamu sampai berkelimpahan.’

(Maleakhi 3:10)

 

 

 

MEMBERITAKAN KRISTUS

 

 

Di suatu tempat diselenggarakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Dengan tema ” Yesus Kristus ” pendeta memberitakan kabar kesukaan surgawi; menceritakan tentang karya yang sudah dilakukan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman karena dosa.

Setelah selesai, ada seorang datang kepadanya dengan mengatakan, ” Pak pendeta, mengapa Anda selama tiga hari, hanya bicara tentang Yesus … Yesus … saja! Apakah tidak ada topik lain, selain Yesus?”

Dengan tenang dan mantap pendeta berkata, “Apakah yang Anda makan hari ini?” Dijawab, “Nasi. ”Bagaimanakah hari besok dan lusa? “Dijawab pula, “Nasi!”. Mengapa nasi terus… nasi… melulu?”. Karena dengan nasi, kami mempertahankan hidup!”.

Dengan senyum ramah pendeta ini berkata, “Kami terus berkata-kata tentang Yesus, karena Dia adalah hidup kami!”

 

“Namun aku hidup

tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,

melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging,

adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah

yang telah mengasihi daku dan menyerahkan

diri-Nya untuk aku.”

(Galatia 2:20)

 

 

 

KESEMPATAN MELAYANI

Penulis pernah mengatur jadwal pelayanan seorang ibu untuk menyambut di pintu masuk gereja, tetapi ibu ini dengan perasaan tidak senang menolak dengan alasan bahwa usianya sudah tua dan pelayanan ini diberikan kepada orang-orang muda saja. Penulis sebagai pendeta, tentu menasehati agar ibu ini tidak menolak, dengan mengatakan bahwa tugas menyambut tidak terlalu berat, apalagi ini merupakan kesempatan untuk melayani Tuhan. Tetapi sayang, ibu ini tetap menolak dan penulis tidah dapat berbuat apa-apa, tetapi dalam hati menyesalkan sikapnya ini.

Tidak lama kemudian, penulis mendapat telepon dengan pemberitahuan bahwa ibu ini mendadak menderita sakit keras dan meminta penulis datang ke rumah sakit untuk mendoakannya. Pada saat tiba di tempat, empat dokter yang mengelilinginya, menyatakan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Anak-anaknya sudah mulai menangis dengan sedihnya.

Dalam keadaan demikian, penulis hanya dapat menghibur dan mendoakan dengan menyerahkan apa kehendak Tuhan yang paling baik. Bersyukurlah, Tuhan  masih  memberi rahmatNya, sehingga kondisi ibu ini, makin hari makin baik, tetapi yang tidak dapat dihindari, ia menderita kelumpuhan.

Pada suatu hari, penulis meluangkan waktu untuk berkunjung he rumah ibu ini. Dengan sedih ibu ini berkata, “Pak pendeta, jika Tuhan menyembuhkan dan memulihkan kesehatan saya, saya berjanji untuk melayani Tuhan dengan segenap hati.” Pada waktu penulis mendengar pernyataan ibu ini, terasa pedih di hati. Dalam hati penulis bertanya sendiri, “Mengapa pada waktu dalam keadaan sehat, tidak baik-baik melayani? Mengapa pada waktu ada peluang emas untuk melayani, disia-siakan begitu saja?”

 

 

 

PELUANG BEKERJA

Seorang hamba Tuhan yang pernah menjadi rekan kerja penulis menderita penyakit maag. Melalui pemeriksaan yang teliti, ternyata ia menderita penyakit kanker maag dan dokter memberitahukan bahwa hidupnya hanya tinggal tiga bulan lagi. Tetapi syukur bahwa Tuhan berkehendak lain, sampai sekarang sudah kurang lebih tiga tahun, Tuhan masih memperkenankan ia hidup untuk melayani.

Tetapi pukulan yang ia terima tidak berhenti sampai di sana. Karena pada suatu hari ia mendengar bahwa istri dan kedua orang anaknya, mengalami kecelakaan dan meninggal. Para majelis yang bersimpati padanya, menganjurkan agar ia beristirahat untuk menenangkan diri, tetapi ditolaknya. Hamba Tuhan ini berkata bahwa tidak tahu berapa lama waktu lagi ia mempunyai peluang untuk melayani Tuhan. Oleh karena itu, ia bertekad bahwa dalam keadaan bagaimanapun, ia tidak akan menyia-nyiakan peluang yang diberikan Tuhan untuk tetap melayani.

Rasul Paulus berkata,

“Beritakanlah firman,
siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,

nyatakanlah apa yang salah,

tegurlah dan nasehatilah

dengan segala kesabaran dan pengajaran.

(2 Timotius 4: 2)

 

 

 

HAMBATAN UNTUK BERBUAH

Seorang misionaris yang sudah melayani cukup lama di sebuah tempat terpencil, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Satu jiwapun ia tidak dapat bawa kepada Tuhan. Dalam kesedihan dan putus asa, ia bertanya kepada Tuhan. Allah memberi jawaban dalam bentuk kenangan. Tuhan membawa pikirannya untuk mengenang peristiwa pads waktu ia masih duduk di banguku Sekolah Menengah Atas.

Pada waktu acara penamatan, ia adalah orang yang paling bahagia. Siapa yang tidak bahagia, karena balk teman maupun guru memujinya. la adalah bintang kelas dan angka yang diraihnya tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya. Kepala sekolah dalam acara tersebut tidak putus-putusnya memuji dia. Sebagai penghargaan, ia menerima sejilid buku Ensiklopedia yang cukup mahal harganya. Meskipun kepala sekolah, para guru, orang tua bahkan teman-temannya tidak mengetahui angka baik yang diraihnya, bukan karena kepintarannya, melainkan karena kelihaiannya dalam menyontek.

Peristiwa ini sudah lama berlalu, misionaris ini pun sudah agak lupa, tetapi Tuhan tidak melupakannya. Tuhan seolah­-olah berbisik  padanya, ” Bagaimana aku dapat memakai orang yang masih menyembunyikan dosa.”

Setelah sadar dari kenangan masa lalu, maka dengan cepat ia menulis surat pengakuan kepada kepala sekolah yang sudah pensiun dan mengembalikan buku Ensiklopedia yang dihadiahkan sekolah, sebagai pernyataan penyesalannya. Setelah menerima surat pengakuan dan buku tersebut, Kepala sekolah menaruh buku dan surat pengakuan tersebut di perpustahaan sekolah untuk dijadikan kenangan dan peringatan bagi murid-murid generasi berikutnya. Setelah itu, sungguh luar biasa, Tuhan memakai misionaris ini dengan heran, banyak jiwa yang dibawanya kepada Tuhan.

Jika  seorang  menyucikan  dirinya  dari  hal-hal yang  jahat,
ia akan menjadi perabot rumah untuk rnaksud yang mulia,
ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannyad

dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

(2 Timotius 2: 21)

BERCABANG HATI

Pada suatu hari burung-burung di hutan bersatu untuk melawan binatang-binatang di gunung. Sang kelelawar yang cerdik tetapi licik, belum menyatakan pendiriannya untuk berpihak, karena ia mau melihat situasi, melihat arah angin ke mana.

Pertempuran kali ini sangat hebat, banyak korban yang berjatuhan. Kelihatan pihak burung terdesak dan jika diteruskan pasti akan kalah. Si kelelawar melihat bahwa pihak binatang akan segera memperoleh kemenangan, lalu menyatakan diri berpihak pada binatang. Agar pendapat kepercayaan dari singa sebagai raja hutan, lalu mengatakan, “Saga bukan golongan burung, karena burung tidak mempunyai gigi, tetapi saya punya. Jika saya bukan golongan binatang, lalu golongan apa?” Pernyataan kelelawar yang licik ini ternyata berhasil dan dipercayai oleh pihak binatang. Pada waktu pihak burung dalam keadaan terdesak, secara tidak diduga-duga, bala bantuan datang. Burung rajawali yang terhalang karena sesuatu, pada waktu keadaan genting muncul, sehingga keadaan peta perang berubah. Kelihatan pihak binatang mulai terdesak. Si kelelawar melihat situasi berubah, cepat-cepat ia menghadap raja burung dan menyatakan pendiriannya untuk berpihak pada burung. Ia takut tidak dipercayai, lalu mengatakan, “Binatang tidak mempunyai sayap dan tidak bisa terbang, sedangkan saya mempunyai dan bisa terbang, jika saya ini bukan golongan burung, lalu golongan apa saya ini?-‘ Pernyataannya berhasil dan raja burung mempercayainya.

Kelihatan pertempuran berlangsung agak alot, kekuatan mereka berimbang. Kelihatan agak sulit untuk salah satu pihak memperoleh kemenangan. Akhirnya atas kesepakatan bersama, maka diadakan pembicaraan di meja bunder dan mencapai kesepakatan untuk hidup berdampingan secara damai. Setelah berdamai, baru diketahui, kalau si kelelawar berkepala dua. Melihat kelicikan kelelawar, maka kedua belah pihak tidak mau menerimanya sebagai salah satu golongan mereka. Karena malunya, si kelelawar sampai sekarang tidak berani berkeliaran pada waktu siang. la baru berani muncul pada malam hari, setelah burung kembali ke hutan dan binatang kembali ke gunung.

 

“Hendaklah ia memintanya dalam iman,

dan sama sekali jangan bimbang,

sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut,

yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima

sesuatu dari Tuhan.”

(Yakobus 1:6-7)

 

 

KUASA DOA PUASA

Sebagaimana biasa setiap Jumat agung, penulis menganjurkan anggota jemaat berkumpul di gereja untuk mengikuti kebaktian doa dengan disertai puasa. Penulis berbuat demikian untuk melatih anggota jemaat agar melihat kuasa doa yang disertai dengan puasa.

Pada suatu kali Jumat Agung, tatkala kami membagi kelompok untuk berdoa, tiba-tiba penulis yang mengikuti kelompok di lantai bawah, mendengar ribut-ribut di kelompok doa lantai atas. Setelah diselidiki, barulah diketahui bahwa salah satu pernudi yang mengikuti kelompok doa di lantai atas dirasuk setan.

Penulis yang cepat datang untuk mengatasi situasi, melihat dari ujung jari pemudi ini sampai ke lengannya menjadi biru kehitam-hitaman. Pemudi ini berteriak-teriak ketakutan. Dalam hati penulis berkata, “Celaka!  iblis mau mengacaukan acara doa puasa kami.” Berfikir sampai di situ, penulis mulai merasa tegang. Karena penulis tahu, untuk mengatasi atau mengusir setan, pada umumnya bukanlah mudah. Minimal waktu yang dipakai akan cukup lama dan panjang dan tentu hal ini akan mengganggu sekali kelancaran dari acara doa puasa tersebut. Tetapi biar bagaimanapun, hal ini harus dihadapi dan diselesaikan.

Di samping penulis menganjurkan anggota lain untuk tetap berdoa dan menyanyi, penulis sendiri di dalam hati berseru meminta pertolongan Tuhan agar mempunyai hikmat dan kuasa untuk mengatasi dan mengusir setan yang ada di dalam diri pemudi ini.

Pemudi ini mulai berteriak ketakutan sambil mengatakan, “Lihat, lihat, tangan saya !” Penulis melihat tangan pemudi ini, makin biru kehitam-hitaman, menjalar dari telapak tangan sampai ke lengannya. Dengan cepat penulis memegang tangan tersebut dan berkata, “Jangan berteriak, berdoalah dan meminta tolong kepada Tuhan Yesus.” Pemudi ini mendengar anjuran tersebut dengan mengatakan, “Tuhan Yesus tolong saya, Tuhan Yesus tolong saya !”

Penulis menggunakan kesempatan ini dengan nama Tuhan Yesus mendengking setan yang ada di dalam diri pemudi agar meninggalkannya. Sungguh heran, dalam waktu yang sangat singkat, dengan satu kali dengkingan saja, setan ini langsung meninggalkan pemudi ini dan tangan pemudi ini secara perlahan-lahan pulih seperti sediakala. Setelah itu, kami lanjutkan doa puasa sampai selesai.

Tatkala penulis memikirkan kembali peristiwa tersebut, di samping kagum melihat kuasa Tuhan dan merasa heran pula, mengapa demikian mudah setan itu bisa dikalahkan? Tetapi setelah penulis renungkan lebih lanjut, barulah mengerti.

Pada waktu iblis datang mengganggu, kami sedang dalam posisi berdoa dan berpuasa. Kuasa Allah melalui doa puasa sedang menaungi kami, sebab itu tatkala setan datang mengganggu, !a tidak tahan menghadapi kuasa doa yang disertai puasa itu. Sebab itu, dengan mudah saja setan dapat diusir.

Pernah murid Tuhan bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu ?” )awab Tuhan, ”      setan jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” ( Matins 17: 19 – 21 ).

Yesus mendekati mereka dan berkata,

“KepadaKu telah diberikan
segala kuasa di sorga dan di bumi.

(Mat. 28: 18 )

DIBURU DOSA

Sepasang suami isteri yang berpendidikan tinggi, satu menyandang gelar doktor dan yang lain menyandang gelar master, sedang bertengkar dengan hebatnya, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk bercerai. Untung sebelum mengambil keputusan terakhir, atas kesepakatan berdua mereka datang ke mantan dosennya yang juga pendeta untuk minta nasehat.

Setelah diadakan bimbingan, maka diketahui akar permasalahannya. Ternyata sepasang suami isteri ini sebelum diberkati pernikahan di gereja, mereka sudah melakukan hubungan seks, sehingga menajiskan lembaga pernikahan kudus yang digariskan oleh Tuhan. Meskipun mereka kemudian menjadi suami isteri, tetapi dosa yang dilakukan tetap memburu, sehingga tanpa mereka sadari, dosa itu menjadi sebab musabab terganggunya hubungan suami isteri. Temyata dosa itu menjadi trauma bagi mereka berdua. Trauma ini diungkapkan dalam bentuk saling curiga satu dengan yang lain. Jika si suami pulang kantor agak lambat, timbul pikiran yang tidak-tidak di benak si isteri. la berpikir, jika dulu sebelum menikah dengan gampang saja ia berbuat begitu, apakah tidak mungkin ia juga akan berbuat sama dengan perempuan lain? Demikian juga si suami, jika isterinya ke mana-mana, selalu curiga kalau si dia itu main serong dengan laki-laki. Karena si suami berpikir, dulu sebelum menikah, ia diajak untuk berbuat dengan mudah saja mau, apakah tidak mungkin ia melakukan yang sama dengan laki-laki lain?

Kecurigaan satu dengan yang lain, menyebabkan kerisauan dan kemudian pecah menjadi pertengkaran kecil-kecil­ yang makin hari makin sengit dan akhirnya mau bercerai. Setelah mengetahui pokok permasalahannya, maka pendeta yang mantan dosen, menyuruh mereka untuk bertobat dengan tuntas mengakui kesalahan itu di hadapan Allah. Seusai pengakuan, dosa sudah diselesaikan dengan tuntas, maka hubungan mereka sebagai suami menjadi baik dan bahagia.

 

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang
dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya
tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!
Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena
aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tanganMu
menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti
oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahu kepadaMu dan
kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “aku akan
mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku, dan
Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.
( Mazmur 32: 1-5 )

 

 

 

HANYA ALMARHUM
SEORANG

Pada suatu hari seorang anggota senat Amerika dikunjungi oleh ayahnya yang berasal dari kampung. Meskipun dari segi pendidikan, si ayah agak kurang, tetapi ia seorang Kristen yang saleh.

Pada suatu hari, secara kebetulan di dalam suatu kesempatan mereka bertemu dengan duta besar dari negara sahabat. Anggota senat ini memperkenalkan ayahnya dan setelah basa-basi, tiba-tiba si ayah bertanya kepada duta besar tersebut, “Apakah anda sudah percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamat?” Duta besar lama berdiam dan tidak menjawabnya. Anggota senat ini merasa kurang enak atas kelancangan si ayah dan ia berusaha mengalihkan percakapan kearah lain.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, si ayah karena menderita sakit, meninggal dunia. Duta besar dari negara sahabat itu, mengirim bunga untuk menyatakan ikut berduka­cita. Kartu yang diselipkan dalam karangan bunga tersebut, terdapat kata-kata sebagai berikut : “Di antara orang-orang Amerika, hanya almarhum bapak ini yang memperhatikan keadaan rohani saya dengan menanyakan: Apakah anda sudah percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamat?”

Dalam keadaan duka-cita, anggota senat ini merasa malu atas sikapnya pada waktu itu. la mengira ayahnya sedikit lancang atas pertanyaan itu, siapa tahu justru pertanyaan itu yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang di dunia ini.

Karena itu pergilah,
jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka
dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

( Matius 28: 19 )

 

SETELAH ITU BAGAIMANA?

Pada bulan Oktober 1821, Charles G. Finnej masih sebagai seorang  mahasiswa hukum yang berusia muda. Pada suatu hari, waktu masih pagi sekali, ia sedang duduk di kantor advokat New York, Roh Tuhan bekerja dalam hatinya.

la seperti mendengar suara yang mengatakan, “Finney, setelah usai kuliahmu, apa yang akan kau kerjakan?” jawabnya, “Tentu menjadi seorang pakar hukum!” suara itu berkata lagi, “Setelah itu, apa yang akan kau lakukan?” “Tentu mencari uang, biar aku menjadi kaya!” jawabnya. Tapi suara itu terus berkata, “Setelah itu, bagaimana?” jawabnya, “Tentu pada suatu saat aku akan menjadi tua.”

Kelihatan suara itu tidak mau berhenti bertanya, “Setelah itu bagaimana?” Dengan jengkel ia menjawab, “Tentu aku mati!” “Setelah mati bagaimana?” Pertanyaan terakhir ini mengejutkan dan dengan suara perlahan dan agak gemetar ia menjawab, “Aku akan diadili dan dihukum!”

. Sampai di sini, ia cepat-cepat meninggalkan kantor pengacara itu dan pergi ke sebuah hutan kecil dan dengan tenang berdoa. la bertekad, jika tidak mendapat keselamatan, ia tidak akan berhenti berdoa.

Seolah-olah ia berada di hadapan Allah, dan sedang menghadapi pengadilan. la menyadari telah.empat tahun di bangku kuliah, tetapi selama ini hatinya dipenuhi oleh ketamakan akan dunia dan kehidupan pribadinya dipenuhi dengan kehampaan.

Pada waktu ia meninggalkan hutan kecil itu dengan mendapatkan suatu tujuan hidup yang leblh bernilai, yaitu mulai hari itu, ia akan hidup untuk kemuliaan nama Tuhan. Mulai sejak itu, kasih karunia Allah memenuhi dirinya. la dipakai secara heran oleh Tuhan, bukan sebagai pakar hukum, melainkan sebagai hamba Tuhan.

Hidupnya selama 50 tahun tidak sia-sia dilalui. Selama hidup ia membawa ribuan orang percaya kepada Tuhan.

“Dan sama seperti manusia
ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja,
dan sesudah itu dihakimi.”

(Ibrani. 9: 27)

 

 

 

T1DAK MAU
BERTENGKAR

 

Seorang atheis dengan sombongnya menantang pendeta dengan mengatakan, “Pak Pendeta, jika memang benar di dunia ini ada Allah, coba suruh Ia membunuh saya! Saya memberi waktu 15 menit !”

Waktu berjalan dengan cepat dan waktu yang diberi, yaitu 15 menit sudah berlalu dan ternyata tidak terjadi apa-­apa. Dengan sombongnya kembali ia berkata, “Pak pendeta, ternyata apa yang anda kabarkan tentang Allah, ternyata bohong ! Saya sudah tahu sejak semula, bahwa ajaran tentang adanya Allah itu tidak benar!”

 

Dengan tenang dan sabar pendeta berkata kepadanya, “Saudara atheis, jika pada saat ini ada seorang anak kecil mau berkelahi dengan anda, apakah anda mau meladeni?” Dengan tidak meninggalkan sikapnya yang angkuh, si atheis dengan cepat dan tanggapmenjawab, “Buat apa saya meladeni anak kecil ? Jika saya menanggapi tantangan itu, bukan saja orang mentertawakan saya dan akan mengatakan saya ini orang sinting.”

Dengan tidak kalah tenang dan sabarnya, pendeta mengatakan, “Demikian pula alasan pada saat ini, mengapa Allah tidak menjawab tantangan saudara? la bukannya tidak ada, melainkan tidak mau meladeni tantangan anda!”

Setelah mendengar jawaban tersebut, si atheis dengan rasa malu meninggalkan pendeta tersebut.

“Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi la sabar terhadap kamu,

karena la menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

( 2 Petrus 3: 9 )

 

 

SAYA KAGUM

Pada suatu kali, penulis bersama keluarga cuti ke Pulau jawa. Waktu berada di Surabaya, kami mempunyai kesempatan mengunjungi sebuah Plaza yang cukup besar. Karena sudah tengah hari, penulis bersama keluarga mencari tempat untuk mengisi lambung tengah yang sudah mulai berontak. Atas petunjuk satpam, kami naik ke lantai atas dan benar di atas itu, khusus menjual makanan dan minuman.

Untuk makan di tempat ini, sedikit khusus. Orang yang mau makan, harus lebih dulu memesan. Dari pesanan itu , ia akan mendapat nota bon dan nota bon itu harus dibawa ke kasir, setelah lunas baru dibawa kembali ke tempat di mana ia memesannya. setelah itu baru duduk dan menunggu orang membawa makanan yang dipesannya.

Penulis pun sesuai dengan prosedur memesan makanan. Peristiwa yang akan penulis tuturkan terjadi pada waktu mau membayar pesanan di tempat kasir. Penulis kurang tahu, mengapa kasir begitu melihat penulis langsung mau melayani dengan meminta nota bon tersebut, sedangkan masih banyak orang lain yang datang lebih dulu dan tentu harus dilayani lebih dulu. Seharusnya penulis merasa gembira, meskipun datang belakangan tetapi dilayani duluan. Tetapi pada waktu penulis mau menyerahkan nota bon tersebut, ada semacam perasaan yang kurang enak dan penulis percaya itu suara Roh Kudus yang bekerja yang seolah-olah memberitahukan bahwa sikap dan perbuatan demikian itu tidak benar. Sebab itu, penulis dengan sopan menolak kebaikan hati si kasir dengan mengatakan bahwa orang yang lebih dulu datang perlu didahulukan.

Pada waktu antri untuk menunggu giliran membayar, seorang bapak terus memandang penulis dan kemudian mengulurkan tangan dengan mengatakan, “Bapak, saya sungguh kagum pada anda! Biasanya orang rebutan untuk dilayani lebih dulu, tetapi bapak justru tidak demikian. lni sungguh luar-biasa dan saya belum pernah melihat orang seperti bapak.”

Waktu mendengar pujian bapak ini, penulis sangat terkejut. Dalam hati bersyukur, untung tadi dengar-dengaran pada suara Roh Kudus, kalau tidak ……………………………………………………………….. sungguh memalukan sekali sebagai anak-anak Tuhan, apalagi sebagai hamba Tuhan.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya
di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu
yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

( Matius 5: 16 )

 

 

PERSEMBAHAN YANG DIPAKAI TUHAN

 

Ada seorang ibu bangsa Skotlandia yang sudah berusia lanjut. Pada suatu hari, ia mendengar seorang hamba Tuhan yang berusia muda berkhotbah dan bersaksi panggilan Tuhan untuk ia pergi ke Afrika mengabarkan Injil. Ibu tua ini merasa tergerak untuk memberi sesuatu kepada prajurit Tuhan yang muda ini sebagai bekal nanti di Afrika. Apa yang harus ia berikan? la bukan orang kaya, sebagai orang tua yang reyot, penghasilannya pun sangat minim. Yang sekarang ia punyai hanyalah uang sebanyak 30 Paund dan uang ini pun adalah bekal untuk melewati masa tuanya. Setelah melalui doa, ia memutuskan untuk memberi uang jaminan masa tuanya kepada hamba Tuhan yang bernama Livingstone ini.

Pada waktu uang ini diberikan, ibu tua ini berpesan, “Livingstone, setibanya kamu di Afrika, pakailah uang ini untuk mengupah seorang penduduk yang bisa melayani dan menjaga kamu.” Sesuai pesan ibu tua ini, ia mengupah seorang penduduk asli untuk membantu dan mendampingi kemana saja ia pergi dalam rangka penginjilan.

Suatu hari, dalam perjalanan menga­barkan Injil, ia diserang seekor harimau, ia bukan saja terluka, tulang lengannya pun hancur, sehingga menjadi cacat. Dalam keadaan genting ini, pelayan yang setia mendampingnya tanpa menghiraukan bahaya, mencoba untuk menolong dan menyelamatkannya. Harimau yang galak ini merasa terusik karena ulah pelayan ini, meninggalkan Living–stone dan beralih menyerangnya. Syukurlah sebelum harimau ini sempat merobek-robek tubuh pelayan ini, sebutir peluru yang dilepas oleh pemburu yang sedang lewat, mengakhiri keganasan raja hutan ini. Karena uang persembahan ibu tua ini sehingga Living-stone bisa memperpanjang usianya 30 tahun lagi. Selama 30 tahun, Livingstone me­ngerjakan banyak pekerjaan yang berarti di ladang Tuhan di Afrika. Orang-orang yang mempelajari sejarah misi, tidak ada seorangpun yang tidak mengetahui nama Livingstone yang menghabisi waktu hidup-nya di padang belantara Afrika yang ganas dan penuh bahaya.

Di dalam Kerajaan Sorga, ibu tua ini akan tersenyum puas, karena tanpa dinyana persembahan uang jaminan masa tuanya bisa dipakai di ladang penginjilan di Afrika.

 

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih,
berdirilah teguh, jangan goyah,

dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!
Sebab kamu tahu,

bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan
jerih payahmu tidak sia-sia,

( 1 Korintus 15: 58 )

 

 

 

MENGUTAMAKAN PEKERJAAN TUHAN

 

Pdt. D. Oswald Smith, gembala sidang gereja “The Peoples Church of Toronto” menceritakan pengalamannya. Pada waktu ia memulai pekerjaan di gereja tersebut sebagai gembala sidang, para majelis memberikan informasi secara mendetail tentang keadaan gereja tersebut. Boleh dikatakan seluruh keadaan gereja tidak ada yang disembunyikan, terkecuali satu hal yaitu keadaan keuangan gereja.

 

Pada suatu hari Minggu menjelang Smith naik mimbar berkhotbah, bendahara gereja membisikinya tentang keadaan perbendaharaan gereja, bukan saja kosong dan masih mempunyai banyak hutang. Dengan bisikan tersebut bendahara gereja mungkin mengharapkan pendetanya mencari jalan keluar dengan membawa khotbah tentang persembahan, jika perlu memaksa anggota jemaat merogoh koceknya. Smith yang mendengar bisikan tersebut, sambil melangkah ke mimbar, sambil berdoa, “Oh … Tuhan, sejak lama aku ingin membuktikan bahwa FirmanMu itu benar adanya.”

Hasil doanya, Tuhan bukan mengge­rakkan ia bicara tentang persembahan untuk menutupi defisit gereja, melainkan bicara tentang penginjilan dunia. Karena firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya… (Mat. 6: 33).

Selama beberapa minggu, ia berbicara penginjilan dunia dan tanpa menyinggung sedikitpun kebutuhan gereja. Para majelis dan para anggota merasa heran untuk sikap pendeta baru mereka ini, dan benar hasil khotbahnya menghasilkan banyak persembahan, tetapi tidak ada satu sen pun dipakai untuk membayar hutang atau menutupi defisit keuangan gereja; seluruh dana yang masuk dipakai untuk penginjilan.

Dalam kesimpulan kesaksian Smith adalah keajaiban. Sejak gereja mereka mementingkan pekerjaan Tuhan di bidang penginjilan, mereka bukan saja tidak mengalami defisit keuangan, bahkan mereka bisa mengutus banyak misionaris ke berbagai negara untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan.

“Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya,.

maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”

(Mat 6. 33).

7. GIGI PALSU YANG BERTUAH

Seorang pendeta mengalami sebuah kecelakaan mobil yang mengakibatkan semua gigi depannya ron­tok. Ia merasa sangat sedih dan kecewa mengalami musibah itu. Ia lalu terpaksa memakai gigi palsu.

Suatu saat pendeta ini diutus untuk memberita­kan Injil ke daerah pedalaman yang belum terjang­kau oleh Injil. Orang-orang pedalaman ini masih pri­mitif, di mana mereka banyak menangkap orang lalu membunuhnya. Bapak pendeta ini akhirnya juga ter­tangkap. Ia merasa dua kali kecewa. Dahulu giginya rontok, dan sekarang nyawanya terancam.

Di dalam kurungan, ia kemudian menanggalkan gigi palsunya untuk dibersihkan sambil bersiul. Keti­ka hal itu dilihat oleh orang-orang pedalaman, mere­ka menjadi sangat ketakutan melihat “KESAKTIAN” pendeta itu, yang dengan mudah menanggalkan gigi dan memasangnya kembali seperti semula. Peristiwa itu dilaporkan kepada raja mereka. Semua mengang­gap bahwa pendeta itu adalah penjelmaan dewa Sakti yang turun dari langit.

Hanya dengan sederet gigi palsu, orang-orang di sana akhirnya mau mendengarkan, menerima Injil, bertobat, dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru­selamat pribadi mereka.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

13. GURU YANG PALING DISUKAI

Frank Hart adalah seorang pakar psikologi, dan pada tahun 1934 ia mengadakan sebuah penelitian terhadap 10.000 siswa sekolah. Ia lalu memberikan pertanyaan kepada mereka, “Guru yang bagaimana­kah yang paling mereka sukai dan mengapa mereka. menyukainya?” Mereka menjawab bahwa guru yang mereka sukai ialah guru yang:

  • Berperikemanusiaan atau penuh pengertian.
  • Bersikap ramah, hangat, akrab, dan bersahabat.
  • Suka membantu dalam pelajaran atau selalu bersikap mendorong muridnya.
    • Riang gembira dan mempunyai humor yang tinggi.
    • Bertanggung jawab.
    • Banyak akal.
    • Imajinatif dan kreatif.

Sifat-sifat yang dihargai oleh murid-murid itu ada­lah sesuai dengan gambaran guru yang demokratis. Ternyata guru yang paling disukai itu adalah guru yang terbaik dalam hal mengajar di kelas! Dalam Markus 10:16, ada tiga hal yang Yesus lakukan:

  • Memeluk anak-anak itu – kasih sayang­ – melindungi.
  • Meletakkan tangan pada anak-anak itu – ­membimbing – menuntun.
  • Memberkati anak-anak itu – memenuhi kebu­tuhan mereka – KASIH SAYANG, TELA­DAN, MENDORONG.

Bukankah tiga hal inilah yang menjadi pedoman pendidikan dan kebudayaan Indonesia dalam meng­ajar siswa, seperti yang telah dirintis oleh pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantoro, yang terkenal dengan semboyannya: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani:

  • MENJADI TELADAN DI DEPAN.
    • MENJADI SAHABAT/PENDAMPING/ KASIH SAYANG.
    • MENDORONG DI BELAKANG.

William Arthur Ward menulis:

  • Guru yang biasa-biasa saja hanya memberitahu.
  • Guru yang baik menjelaskan.
  • Guru yang lebih baik memperagakan.
  • Guru yang terbaik memberi inspirasi.

 

 

21. DIA SELALU MERAWAT

“Saya ingin menjadi orang Kristen,” kata seorang wanita kepada seorang pendeta yang berkunjung ke tempatnya,”tetapi saya takut tidak dapat bertahan. Saya pasti berbuat dosa lagi!”

Sambil. mengutip 1 Yohanes 1, pendeta itu ber­kata, “Ibu pasti akan berdosa lagi, sebab Allah berka­ta, jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita’ (ayat 8). Tetapi, jika Ibu jatuh ke dalam dosa lagi, Allah akan mengampuni dosa Ibu jika Ibu mengaku dosa kepada Dia. Tetapi, sebenarnya orang Kristen tidak perlu berdosa. Selama kita hidup ber­sekutu dengan Allah dan taat kepada firman-Nya, la akan memberi kita kemampuan untuk melawan do­sa dan untuk menang atas pencobaan.”

Kemudian, pendeta itu teringat bahwa ibu itu ba­ru saja menjalani operasi beberapa bulan sebelum­nya. “Ketika Ibu selesai operasi, apakah ada kemung­kinan timbulnya komplikasi atau penyakit-penyakit lain setelah itu?” pendeta itu bertanya. “Oh, tentu sa­ja,” jawab ibu itu, “tetapi, kapan saja saya mengalami suatu penyakit yang berhubungan dengan bekas ope­rasi saya, saya pergi ke dokter dan ia merawatnya.”

Tiba-tiba, ia pun sadar, “Oh ya, sekarang saya mengerti!-” teriaknya, “Kristus, telah hadir dan menjauh­kan saya dari dosa atau untuk mengampuni dosa saya!”

“JIKA KITA MENGAKU DOSA KITA, MAKA IA ADALAH SETIA DAN ADIL, SEHINGGA IA AKAN MENGAMPUNI SEGALA DOSA KITA DAN MENYUCI­KAN KITA DARI SEGALA KEJAHATAN” (1 Yohanes 1:9).

 

37. DISIPLIN

 

Dalam bahasa Inggris, kata disciple (murid) dari discipline (disiplin) adalah berasal dari akar kata yang sama. Seorang pemimpin adalah orang yang pertama-tama telah menyerah dengan sukarela dan belajar untuk menaati disiplin yang berasal dari luar dirinya, tetapi yang kemudian menaklukkan dirinya sendiri pada disiplin yang lebih keras dari dalam. Mereka yang memberontak terhadap penguasa dan meremehkan disiplin pribadi jarang yang cakap men­jadi pemimpin pada tingkat atas. Mereka mengelak dari kesulitan dan pengorbanan yang dituntut oleh kepemimpinan yang seperti itu dan menolak di­siplin ilahi yang ada di dalamnya.

Dr. Donald G. Barnhouse menarik perhatian kita dengan hasil penelitiannya terhadap kenyataan yang mencolok, bahwa umur rata-rata dari 40.000 tokoh yang riwayat hidupnya terdapat dalam buku American Who’s Who adalah di bawah 28 tahun. Ini menunjuk­kan suatu kenyataan yang sangat penting bahwa di­siplin pada masa muda, rela berkorban, jiwa yang kuat, militan, komitmen agar mendapat persiapan yang cukup untuk menghadapi tuntutan hidup, akan membuka jalan untuk menuju taraf keberha­silan yang tinggi.

Seorang negarawan suatu ketika menyampaikan sebuah pidato yang sangat besar pengaruhnya ter­hadap kehidupan bangsanya. “Bolehkah saya ber­tanya berapa lama Tuan mempersiapkan pidato itu?” tanya seorang pengagum. “Seluruh kehidupan saya merupakan persiapan untuk apa yang saya sampai­kan hari ini,” demikian jawabnya.

Orang muda yang berkaliber pemimpin akan be­kerja, sementara orang lain membuang waktu, bela­jar pada waktu orang lain tidur, dan berdoa pada wak­tu orang lain bermain. Baginya tidak ada waktu untukkebiasaan yang tidak baik dan ceroboh, di da­lam tutur kata atau pikiran, perbuatan, atau cara berpakaian. Ia mengikuti disiplin militer dalam hal makanan dan tingkah laku, supaya dapat bertempur dengan baik. Ia juga tidak segan-segan untuk mene­rima sebuah tugas tidak menyenangkan yang dihindari orang lain. la tidak akan menangguhkan untuk me­nulis surat yang sukar. Keranjang sampahnya yang dipenuhi surat-surat yang salah tidak akan menutupi bukti-bukti kegagalannya dalam menghadapi ma­salah yang mendesak.

Ketika Dr. Thomas Cochrane, pendiri The World Dominion Movement diwawancarai seseorang untuk pelayanan di bidang misi, “Untuk kedudukan apa Anda merasa khusus terpanggil?” ia menjawab, “Yang saya ketahui hanyalah, berikan tempat yang paling sukar untuk saya.” Demikianlah jawaban yang keluar dari orang yang berdisiplin keras.

Lyton Strachey menceritakan tentang Florence Nightingale: Bukannya dengan kemanisan yang lemah lembut, atau dengan sifat kewanitaan yang menyang­kali diri sendiri ia memulihkan keadaan yang kacau­balau di rumah-rumah sakit di Scutari; dari usaha­nya sendiri ia telah mencukupi kebutuhan pakaian tentara Inggris, yang telah meluaskan kuasanya atas gabungan kekuatan dunia secara resmi yang enggan; melainkan hanyalah dengan metode yang ketat, di­siplin yang keras, perhatian yang tidak putus-putus­nya terhadap hal-hal kecil oleh pekerjaan yang tidak henti-hentinya dan oleh keputusan yang bulat dari kehendak hati yang gigih. Di balik tindakannya yang dingin dan tenang tersembunyi nyala api yang pa­nas dan kasih yang berkobar-kobar.

Samuel Chadwick, seorang pendeta Methodis yang besar dan direktur Cliff College telah memberi pengaruh yang besar terhadap generasinya. Ia mendisiplinkan dirinya dengan keras, dengan bangun pukul 06.00 pagi dan mandi air dingin, baik pada musim panas atau musim dingin. la membiasakan diri untuk tidur sebentar saja. Lampu di ruang belajamya jarang dipadamkan sebelum pukul 02.00 dini hari. Kebiasaan yang ketat ini hanyalah merupakan ben­tuk luar dari pernyataan disiplin batinnya.

Seumur hidupnya George Whitefield selalu bangun pagi-pagi; sepanjang tahunia biasa bangun pukul 04.00 pagi. Demikian juga ia selalu pergi tidur pada waktu yang sama setiap malam. Jika lonceng ber­bunyi 10 kali, tidak peduli siapa yang menjadi tamu­nya atau percakapan apa yang sedang berlangsung, ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan me­nuju ke pintu dengan sopan sambil berkata, “Mari, Saudara-saudara, sekarang sudah waktunya untuk orang baik-baik berada di rumah”.

Beberapa cukilan riwayat hidup di atas hanya di­pakai untuk melukiskan kenyataan bahwa: Tingkat yang dicapai oleh orang-orang besar tidaklah diraih dalam waktu sebentar; Tetapi, mereka bekerja keras di malam yang gelap, manakala sahabat-sahabatnya tertidur lelap.

“TETAPI KUASAILAH DIRIMU DALAM SEGALA HAL” (2 Timotius 4:5a).

 

38. CARA BELAJAR YANG BAIK

Belajar adalah sepatah kata yang sudah akrab di telinga Anda. Setiap orang di dunia ini tidak luput dari kewajiban untuk selalu belajar dan belajar! Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun juga.

Kita sering kagum kalau melihat seseorang yang berotak jenius yang berhasil dalam bidangnya. Ada pula orang yang otaknya biasa-biasa saja, tetapi karena tekun belajar secara teratur ia pun berhasil pula dalam bidangnya. Untuk menerangkan cara belajar yang baik, kita perlu melihat hasil mengagumkan dari pene­litian Profesor Henry Gay Lindgren yang mengadakan penelitiannya terhadap sejumlah mahasiswa yang sukses di San Francisco State College. Ternyata keber­hasilan mereka ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Kebiasaan-kebiasaan studi yang baik (33%)
  2. Minat terhadap pelajaran (25%)
  3. Kecerdasan (15%)
  4. Pengaruh dari keluarga (5%)
  5. Lain-lain (22%)

 

Kebiasaan adalah suatu pola tindakan yang sudah kita pelajari; ada yang baik dan ada yang jelek. Otak kita yang mengagumkan dapat menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan aktivitas-aktivitas lain, lalu menggunakan informasi tersebut kapan saja bila diperlukan tanpa harus kita pikirkan atau sadari. Me­lakukan sesuatu dengan cara yang sama berkali-kali akan menjadi sebuah kebiasaan dan membuatnya tersimpan dengan baik dalam otak kita yang akhir­nya dapat membuat tindakan tersebut selanjutnya hampir “OTOMATIS”.

Para psikolog mengatakan:

—Kebiasaan menjadi sifat;

—Sifat menjadi watak;

—Watak menjadi kepribadian;

—Kepribadian membentuk karakter kita.

Kalau kita ingin berhasil dalam pendidikan mau­pun dalam bidang lain, lakukanlah kebiasaan-kebia­saan yang sehat setiap saat. Biasakanlah membaca Alkitab setiap hari. No Bible, no rice. Biasakan berdoa setiap hari, biasakan belajar setiap hari, biasakan ba­ngun pagi setiap hari, biasakan… dan juga kebiasaan lain yang baik, maka semuanya itu akan menjadikan hidup Anda yang terbaik.

“… PERGAULAN YANG BURUK MERU­SAKKAN KEBIASAAN YANG BAIK” (1 Korintus 15:33).

 

41.JANGAN PUTUS ASA

 

Di bawah ini adalah sebuah daftar tahun-tahun kegagalan dari orang yang ketika dewasa hidupnya banyak sekali menghadapi badai dan tantangan.

 

1831 Ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.

1832 Ia kalah dalam pemilihan lokal.

1833 Kembali ia mengalami kegagalan dalam usa­hanya.

1835 Istrinya meninggal dunia.

1836 Ia mengalami stres dan menderita tekanan mental sedemikian rupa sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa.

1837 Kalah dalam lomba pidato. 1840 Ia gagal dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat.

1842 Ia menderita kekalahan untuk duduk sebagai anggota Kongres Amerika Serikat.

1848 Ia kalah lagi di Kongres.

1855 Ia kalah lagi di Senat Amerika Serikat.

1856 Ia gagal dalam pemilihan Wakil Presiden Ame­rika Serikat.

1858 Ia gagal lagi di Senat Amerika Serikat.

1860 Akhirnya, ia berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

 

Siapakah dia? Namanya adalah Abraham Lincoln. Jika orang-orang lain mengalami begitu banyak kegagalan seperti di atas, mereka pada umumnya su­dah putus asa atau mundur secara teratur. Tetapi, tidak demikian dengan Abraham Lincoln. la tekun dan maju terus, tidak pernah goyah, sampai akhirnya ia mencapai sukses yang luar biasa.

Demikian halnya menurut teori aerodinamika, sebagaimana yang diperagakan melalui tes terowong­an udara, seharusnya kumbang tidak bisa terbang. Karena dilihat dari segi ukuran, bobot, dan bentuk badannya dalam hubungan dengan rentang sayap total, secara ilmiah kumbang mustahil untuk bisa terbang. Tetapi, karena kumbang tidak tabu teori ilmiah, bagaimanapun juga ia maju terus dan terbang untuk mengumpulkan madu setiap hari.

Satu Korintus 15:58 menyatakan dengan tegas:

“KARENA ITU, SAUDARA-SAUDARA­KU YANG KEKASIH, BERDIRILAH TEGUH, JANGAN GOYAH, DAN GIATLAH SELALU DALAM PEKERJAAN TUHAN! SEBAB KAMU TAHU, BAHWA DALAM PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA.”

 

 

42. MELAKUKAN YANG TERBAIK

 

Pada suatu hari seorang laki-laki mengawasi dua orang tukang batu yang sedang bekerja di sebuah bangunan. Ia memperhatikan salah seorang pekerja yang terus-menerus mengerutkan muka, mengeluh dan mengutuk pekerjaannya. Ketika ditanya apa yang dilakukannya, ia menjawab, “Hanya menyusun batu di atas yang lainnya sepanjang hari sampai punggung saya hampir patah. “Tetapi, tukang batu lainnya bersiul-siul sambil bekerja. Gerakannya cepat dan pasti serta wajahnya bersinar-sinar memancarkan kepuasan. Ketika ditanya apa yang dilakukannya, ia menjawab. “Pak, saya bukan hanya membuat dinding batu. Saya ikut membangun sebuah katedral.”

Seorang sopir di Ohio yang bekerja untuk sebuah perusahaan angkutan truk antar negara bagian, karena mengetahui jarak ratusan mil yang ditempuhnya setiap hari, pernah ditanya bagaimana cara ia mencegah kelelahan yang luar biasa. “Ini semua ada dalam sikap kita, ‘ia menjawab. “Beberapa sopir ‘pergi bekerja’ di waktu pagi, tetapi saya tidak. Saya pergi ‘pesiar’ keliling daerah. “Perspektif positif seperti ini memberinya “keunggulan” pada kehidupan.

 

“SEGALA SESUATU YANG DIJUMPAI TANGANMU UNTUK DIKERJAKAN, KERJAKANLAH ITU SEKUAT TENAGA, KARENA TAK ADA PEKERJAAN, PERTIMBANGAN, PENGETAHUAN DAN HIKMAT DALAM DUNIA ORANG MATI, KE MANA ENGKAU AKAN PERGI” (Pengkhotbah 9:10)

 

 

8. KESERAKAHAN

 

Abraham Lincoln suatu ketika berjalan-jalan dengan dua anak laki-lakinyayang sedang berkelahi sambil menangis. “Mengapa kedua anak itu?” seorang temannya bertanya. “Mereka melakukan kesalahan yang sama dengan yang diperbuat manusia di seluruh dunia ini,” jawab Lincoln. “Saya punya tiga butir kenari, tetapi setiap anak ingin mendapatkan dua butir!” Keserakahanlah…yang mengakibatkan peperangan dimana-mana, keserakahanlah…yang mengakibatkan banyak rumah tangga hancur berantakan…

“KETAHUILAH BAHWA PADA HARI-HARI TERAKHIR AKAN DATANG MASA SUKAR. MANUSIA AKAN MENCINTAI DIRINYA SENDIRI DAN MENJADI HAMBA UANG. MEREKA AKAN MEMBUAL DAN MENYOMBONGKAN DIRI, MEREKA AKAN…”(2 Timotius 3:1-2).

 

 

15. HUKUM MENGUATKAN

 

Ada suatu teori yang baik yang pernah ditemu­kan mengenai cara mengontrol perilaku yang dina­makan “Hukum Menguatkan”. Hukum ini ditemu­kan bertahun-tahun yang lalu oleh seorang ahli ilmu jiwa pendidikan yang bernama E.L. Thorndike. Saya menyebutnya baik karena dapat memberikan hasil yang baik. Dalam hukumnya, B.F. Skinner mengu­raikan keadaan di mana ketentuan-ketentuan akan memberikan hasil yang efektif. Secara sederhana hukum itu berbunyi demikian, “Perilaku yang mem­berikan akibat yang menyenangkan akan diulang kembali”.

Dengan kata lain, jika seseorang merasa senang dengan akibat perbuatannya, maka ia akan cende­rung untuk mengulanginya. Jika si Moy-Moy menda­patkan perhatian yang menyenangkan pada waktu ia memakai suatu gaun yang baru, maka ia akan me­makai gaun itu lagi. Jika si Eddie menang dalam per­mainan bulu tangkis dengan suatu raket tertentu dan kalah jika memakai raket yang lain, maka ia akan lebih senang untuk memakai raket yang dipakainya ketika ia mencapai kemenangan. Ini adalah suatu hukum yang sangat sederhana, tetapi mengandung implikasi yang penting dalam mendidik manusia.

Skinner mencoba penemuannya ini pada seekor burung merpati yang disimpannya pada sebuah kotak yang dapat diamati. Merpati itu diperintahkan untuk bergerak sekehendak. hatinya. Suatu saat kakinya menyentuh sebuah tombol kecil pada dinding kotak, lalu makanan pun keluar sehingga burung merpati itu bahagia. Mula-mula memang burung merpati itu tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Tetapi, sejenak ke­mudian burung merpati itu secara tidak sengaja me­nyentuh lagi tombol tersebut, dan makanan tersebut keluar lagi. Setelah itu, bila burung merpati itu ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol.

Sikap manusia adalah seperti itu pula. Bila setiap kali seorang anak menyebut kata yang sopan dan se­gera kita memujinya, maka anak itu kelak akan selalu memakai kata-kata yang sopan di dalam berkomu­nikasi. Bila ketika seorang anak rajin pergi ke gereja, membaca firman Allah, dan berdoa kita segera men­dukung dan menghargainya, maka anak itu kelak akan mencintai untuk pergi ke gereja dan bertum­buh dalam iman Kristen. Bila pada waktu pertama kali datang pada kebaktian di gereja seorang pemuda disambut dengan mesra, disalami, didekati, dan diterima dengan penuh kasih oleh aktivis-aktivis ge­reja, maka pemuda itu pasti akan senang berbakti dan akan datangkembali ke kebaktian.

Bila pada waktu seorang mahasiswa membuat prestasi yang baik dan kita menghargainya dengan ca­tatan yang bagus, maka mahasiswa tersebut akan meningkatkan prestasinya.

Proses memperteguh respons yang baru pada sti­muli tertentu berkali-kali disebut peneguhan (rein­forcement). Pujian, sambutan, dan catatan yang baik dalam contoh tadi disebut peneguh (reinforcer).

“PERKATAAN YANG DIUCAPKAN TE­PAT PADA WAKTUNYA ADALAH SE­PERTI BUAH APEL EMAS DI PINGGAN PERAK” (Amsal 25:11).

 

 

20.SANG KIPER YANG KENA SEPAK

 

Harald Schumacher (33 tahun) adalah seorang penjaga gawang legendaris, seorang penjaga gawang termasyhur dari Jerman Barat yang telah 15 tahun mengabdikan diri pada klub sepak bola Koln. la te­lah lebih dari 65 kali bermain untuk tim nasional­nya. Dan, ia telah menulis sebuah buku berjudul Der Anpfipp, yang menelanjangi praktek-praktek korupsi atau suap, kebohongan-kebohongan, eksploitasi pe­main, paksaan kepada pemain untuk menggunakan obat perangsang, dan sebagainya yang terjadi dalam dunia persepakbolaan Jerman Barat.

Schumacher menulis buku itu karena ia sudah tidak tahan lagi menyaksikan semuanya itu. Fede­rasi Sepak Bola Jerman Barat (DBF) menjadi berang karena buku tersebut. Kemudian, DBF “menekan” klub sepak bola Koln agar memecat Schumacher. Akhirnya Schumacher pun dipecat dari klub sepak bola Koln dan dengan demikian kariernya di dunia persepakbolaan pun berakhir sudah. Tidak ada satu klub sepak bola pun yang bersedia menampung Schumacher kembali, karena jika ada klub sepak bola yang berani mengontrak Schumacher, klub itu akan mendapat banyak hambatan, sebab DBF pasti akan menggunakan berbagai cara untuk memaksa klub tersebut memecat Schumacher. Setelah Schumacher dipecat dari klub sepak bola Koln, tidak ada seorang pun dari antara teman-temannya yang semula me­ngeluhkan perlakuan-perlakuan buruk yang mereka terima dari dunia persepakbolaan mau membelanya. Hanyalah Profesor M. Donike, seorang ahli obat pe­rangsang Jerman, yang berani mendukungnya. Se­kalipun demikian, Schumacher tidak pernah me­nyesal atas semuanya itu!

Di tengah-tengah dunia yang penuh dengan ke­jahatan, kebusukan, dan penyelewengan, di mana yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar, yang putih bisa menjadi hitam, dan yang hitam bisa menjadi putih, orang Kristen harus bisa menjadi terang dan garam dunia! Bukan dipenga­ruhi oleh dunia (termometer), melainkan mempenga­ruhi dunia (termostat), yaitu menentang arus dunia dengan kasih dan kebenaran.

“JIKA YA, HENDAKLAH KAMU KATA­KAN: YA, JIKA TIDAK, HENDAKLAH KAMU KATAKAN: TIDAK” (Matius 5:37a).

 

 

 

38. TIGA MACAM ORANG

 

 

Jenderal Charles Gordon pernah mengajukan per­tanyaan ganda kepada Li Hung Chang, seorang pe­mimpin Cina yang sudah lanjut usia, “Apakah kepe­mimpinan? Dan, bagaimana umat manusia dapat digolongkan?” la lalu menerima sebuah jawaban yang mengandung arti tersembunyi, “Hanya ada tiga macam orang di dunia ini, yaitu mereka yang tidak dapat digerakkan, mereka yang dapat digerakkan, dan mereka yang menggerakkan (mengubah) orang-orang itu.”

 

Memang benar bahwa kepribadian merupakan faktor yang penting. “Taraf pengaruh seseorang ber­gantung pada kepribadian orang itu,” tulis Lord Mont­gomery, “pada kekuatan daya pijarnya, pada nyala yang ada di dalamnya, dan pada daya tarik yang akan menarik orang-orang lain kepadanya.”

Tetapi, seorang manusia rohani dapat mempengaruhi orang lain bukan dengan kekuatan pribadinya saja, melainkan juga dengan kepribadian yang diterangi, ditembus, dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Oleh karena itu, ia membiarkan Roh Kudus mengatur hidupnya dengan sepenuhnya, sehingga kuasa Roh dapat mengalir melalui dirinya dan dapat menjangkau orang lain.

Di dalam kategori manakah kita berada? Satu, dua, atau tiga? Biarlah kita mau memilih untuk men­jadi manusia yang bisa menggerakkan (mengubah) orang-orang, dan membawa orang-orang kepada Kristus, sehingga banyak jiwa yang diselamatkan dengan kuasa Allah!

KETIKA AKU DATANG KEPADAMU BAIK PERKATAANKU MAUPUN PEM­BERITAANKU TIDAK KUSAMPAIKAN DENGAN KATA-KATA HIKMAT YANG MEYAKINKAN, TETAPI DENGAN KE­YAKINAN AKAN KEKUATAN ROH” (1 Korintus 2:1,4).

 

 

 

34. KEGIGIHAN POSITIF

 

Dua ekor katak terjatuh ke dalam sebuah kaleng susu. Sisi kaleng itu licin dan terjal, dan susunya hanya sepertiga dari kaleng itu serta sudah dingin. “Oh, apa gunanya?” kata katak pertama.

“Ini takdir—tidak ada pertolongan di sekeliling kita—Selamat tinggal, Kawan! Selamat tinggal dunia yang menyedihkan!” Dan sambil menangis, dia terbenam.

Tetapi, katak kedua lebih gigih. la terus mengayuhkan kakinya dengan keheranan, sementara dia menyeka mukanya yang dibasahi susu, dan mengeringkan matanya dari susu.

“Aku akan terus berusaha, setidak-tidaknya aku akan berenang sebentar,” katanya.

Satu atau dua jam dia menyepak-nyepakkan kakinya dan berenang bukan hanya sekali dia berhenti dan menggerutu.

Namun, dia terus melakukannya dan menyepak-nyepakkan kakinya dan berenang, berenang dan menyepak-nyepakkan kakinya, dan susu itu menjadi semakin mengental dan akhirnya menjadi keju, sehingga ia pun bisa melompat keluar dengan berpijak pada keju tersebut.

“AKU TELAH MENGAKHIRI PERTANDINGAN YANG BAIK, AKU TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR DAN AKU TELAH MEMELIHARA IMAN” (2 Timotius 4:7).

 

 

 

40. MOTIVASI DAN TINGKAT HIDUP

 

Dalam sebuah majalah manajemen, dimuat suatu artikel tentang “Motivasi Positif bagi Manajer”. Di situ diungkapkan bahwa zaman modern ini adalah zaman skeptisisme. Mayoritas manusia cenderung untuk berpikir negatif. Akibatnya, di dunia usaha timbul gejala di mana orangtua, guru, pelajar, dan rohaniwan dilanda pikiran negatif yang pada hakikatnya bertentangan dengan Alkitab. Untuk menangkal pikiran-pikiran negatif tersebut, Profesor L. Lopp, seorang pakar manajemen, telah mengembangkan satu konsep yang ia sebut sebagai “Empat Tingkat Hidup”. Konsep ini dapat dipilih oleh manajer atau siapa pun juga dalam mengembangkan kariernya.

Pertama: “Tingkat Hidup Enggan, Mati pun Tak Mau”. Pada tingkat ini orang melihat peker aannya semata-mata sebagai pekerjaan belaka yang memang harus dikerjakan . la puas jika dapat bekerja dan masih terus hidup, walaupun dunia ini banyak rintangan. Akibatnya, karya mereka sebagai manajer setengah-setengah dan sikapnya yang lesu berpengaruh terhadap orang-orang di sekitarnya.

Kedua: “Tingkat Hidup Kerja Keras”. Mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh memeras keringat dan bekerja keras dalam menangani pekerjaannya. Tetapi, sifatnya masih negatif, sebab

hasil kerja kerasnya hanya terpusat dan terbatas pada kepentingan diri sendiri saja.

Ketiga: “Tingkat Hidup Positif dan Penuh Hasrat”. Pada tingkat ini orang mulai melihat kedudukannya dalam hubungan yang lebih luas. Ia menetapkan sasaran dan standar, baik untuk diri sendiri, untuk karyawan yang bekerja baginya, maupun untuk perusahaan. Ia percaya bahwa peranannya sebagai manajer banyak memberi kesempatan untuk memberi sumbangsih yang berarti.

Keempat: “Tingkat Hidup yang Penuh Ilham”. Manajer yang penuh ilham memandang kedudukannya sebagai sebuah panggilan Allah. Ia sadar bahwa tanggung jawab pribadi maupun perusahaannya harus menjangkau kepentingan yang lebih luas. Oleh sebab itu, ia menaruh perhatian terhadap banyak orang yang menyandarkan diri kepadanya untuk kesejahteraan hidup mereka. Manajer yang penuh ilham sadar bahwa peranannya adalah merupakan sebuah panggilan hidup untuk menjadikan dunia ini lebih baik melalui sumbangsih yang dapat diberikannya.

“APA PUN JUGA YANG KAMU PERBUAT,PERBUATLAH DENGAN SEGENAP HATIMU SEPERTI UNTUK TUHAN DAN BUKAN UNTUK MANUSIA” (Kolose 3:23).

 

 

 

44. TUJUAN YANG PASTI

 

Florence Chadwick adalah wanita pertama yang berhasil berenang menyeberangi Selat Inggris bolak-balik. Pada usianya yang ke-34, ia memiliki tujuan untuk menjadi wanita pertama yang berhasil berenang dari Pulau Catalina menuju pesisir California. Jutaan orang menyaksikan usahanya tersebut melalui pesawat televisi pada tanggal 4 Juli 1952. Florence terlihat berjuang di hamparan lautan yang kelihatannya seperti padang es yang tak bertepi dan yang dikelilingi kabut yang sangat tebal. Begitu tebalnya kabut itu sehingga bahkan ia tidak dapat melihat perahu yang mengawalnya. Ibu dan pelatihnya berada dalam perahu itu sambil terus memberikan dorongan dengan berteriak: “Ayo, sedikit lagi sudah hampir sampai! “‘ Florence terus berjuang untuk melawan air laut yang dinginnya menembus kulit sambil menghindari ikan-ikan hiu yang berenang ke arahnya. Ikan-ikan hiu itu hanya dapat diusir melalui tembakan senapan.

Hampir enam belas jam lamanya Florence berenang tanpa henti, hingga suatu saat … ketika jarak yang ditempuhnya tinggal kira-kira 800 meter, Florence minta untuk ditarik ke perahu. Badannya menggigil sampai beberapa saat kemudian ia baru dapat memberikan jawabannya kepada seorang reporter yang menanyakan alasannya berhenti: “Begini, saya tidak mencoba membela diri, tetapi seandainya saja saya dapat “melihat” daratan, mungkin saya akan berhasil”. Yang membuat Florence gagal bukanlah air laut yang dingin yang menusuk kulit atau kelelahan, melainkan kabut yang menghalanginya untuk melihat tujuan yang pasti.

Tetapi, Florence tidak tinggal diam. Dua bulan kemudian ia mencobanya sekali lagi. Kabut di sekelilingnya sama tebalnya seperti yang dahulu, namun kali ini ia berenang dengan penuh keyakinan sambil membayangkan dengan jelas tujuan yang pasti yang akan dicapainya. la tidak bisa melihat dengan matanya, tetapi ia bisa melihat dengan pikirannya. Dengan pasti ia menggambar dengan pikirannya bahwa di balik kabut itu pasti ada daratan dan … kali ini ia berhasil! Sekarang Florence Chadwick telah menjadi wanita pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina melampaui rekor yang telah dibuat oleh seorang perenang pria dengan selisih waktu dua jam.

Cerita yang disumbangkan oleh Michele Borba ini mengajarkan kepada kita mengenai satu hal yang sangat penting dalam kehidupan ini, yaitu tujuan yang pasti. Untuk apa kita hidup di dunia ini? Apa tujuan kita menikah dan mempunyai anak, sasaran apa yang akan kita capai melalui pekerjaan kita, pelayanan kita, dan sebagainya? Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab tanpa ragu. Jika kita tidak dapat menjawab semua pertanyaan ini dengan mantap, maka kemungkinan besar kita dapat kehilangan arah dalam hidup, tersesat, dan ….

“KARENA BAGIKU HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN” (Filipi 1:21)

 

 

4. KRISTUS YESUS YANG MENG­HERANKAN

 

Seorang penulis tidak dikenal membuat perban­dingan demikian: Socrates mengajar selama 40 tahun, Plato selama 50 tahun, Aristoteles selama 40 tahun, dan Yesus hanya selama 3 tahun. Meskipun demikian, pengaruh ajaran Kristus jauh melebihi pengaruh yang ditinggalkan oleh para filsuf besar tersebut, bahkan jika pengaruh mereka digabungkan menjadi satu. Yesus tidak pernah menghasilkan satu lukisan pun, tetapi beberapa lukisan terbaik seperti karya Michael­angelo, Leonardo da Vinci, dan Raphael dihasilkan berdasarkan inspirasi mereka tentang Yesus. Yesus tidak pernah mengarang satu puisi pun, tetapi Dante, Milton, dan beberapa penulis puisi besar di dunia memperoleh ilham dari Dia. Yesus juga tidak meng­gubah musik, meskipun demikian Hadya, Handel, Beethoven, Bach, dan Mandelssohn mencapai kesem­purnaan musik dalam lagu pujian, simponi, dan ora­torium yang mereka gubah untuk memuji Dia.

Yesus belum pernah sekali pun melangkahkan kaki-Nya keluar dari daerah tempat la dilahirkan, yaitu Palestina, tetapi berjuta-juta utusan Injil mem­beritakan tentang Dia di seluruh dunia! Yesus tidak pernah menulis buku, tetapi sudah jutaan buku di­tulis mengenai diri-Nya. Yesus tidak pernah menge­palai angkatan perang atau mengatur tentara, na­mun tidak seorang tokoh sejarah pun memiliki suka­relawan seperti yang dimiliki-Nya.

Sekalipun sudah lewat 2.000 tahun lamanya, na­mun nama, pengaruh, dan wibawa-Nya tetap ada, tidak lekang kena panas matahari, tidak pudar dimakan waktu. Pengaruh-Nya saat ini masih tetap sama seperti pada waktu 2.000 tahun yang lalu. Setiap ruang lingkup karya manusia telah diperkaya oleh “Tu­kang kayu” dari Nazaret ini.

Karya unik-Nya yang dipersembahkan bagi umat manusia adalah keselamatan jiwa! Ajaran filsafat maupun psikologi tidak dapat memberikan hal tersebut. Demikian pula dengan karya seni, sastra, maupun musik. Hanya Yesus Kristus yang dapat meng­hancurkan rantai perbudakan dosa. Dia sendirilah yang dapat berbicara tentang damai bagi jiwa ma­nusia, yang dapat menguatkan yang lemah dan mem­berikan hidup yang kekal!

  • Kelahiran-Nya ajaib
  • Kehidupan-Nya ajaib
  • Pelayanan-Nya ajaib
  • Kematian-Nya ajaib
  • Kebangkitan-Nya ajaib
  • Kedatangan-Nya yang kedua kali ajaib

Siapakah Dia …? Dialah Allah yang menjelma menjadi manusia.

“…NAMA-NYA DISEBUTKAN ORANG: PENASIHAT AJAIB…” (Yesaya 9:5).

 

5. DOA YANG MENGUBAH SEJARAH

 

Pada tahun 1933, Adolf Hitler menjadi penguasa Jerman yang benar-benar haus kekuasaan. Hal ini terbukti ketika ia kemudian tidak puas hanya dengan menguasai seluruh Jerman saja. Dengan pasukan Nazinya ia melakukan ekspansi ke negara-negara lain. Polandia dengan mudah ditaklukkannya. Hitler kemudian mengirimkan divisi tanknya untuk menyerang Perancis. Dapatlah dibayangkan betapa panik­nya pasukan tentara Perancis, Inggris, dan Belgia yang gagal mempertahankan Perancis sehingga dalam waktu dekat dikuasai Hitler. Pasukan Sekutu ini telah terperangkap dan dapat diperkirakan da­lam waktu beberapa hari saja Hitler dengan pasukan Nazinya dengan mudah akan menghancurkan pa­sukan Sekutu itu.

Bila pasukan Sekutu mencoba meloloskan diri de­ngan menyeberangi sungai Channel, pastilah kapal­kapal selam Jerman dan angkatan udaranya akan menghabisi pasukan Sekutu yang tidak berdaya itu. Jadi, secara manusia sudah tidak ada jalan keluar bagi pasukan Sekutu tersebut. Namun, masih ada faktor yang patut diperhitungkan, yaitu … Allah! Oleh karena itu, Raja George III yang menyadari ke­adaan genting tersebut segera menyerukan agar se­luruh rakyat Inggris menaikkan doa syafaat bagi se­luruh pasukan Sekutu yang terjepit itu. Jutaan orang Kristen di Inggris, Perancis, dan Belgia lalu menyam­but seruan itu dan menaikkan doa syafaat dengan penuh kesungguhan.

Dan … jawaban Allah pun segera dinyatakan de­ngan ajaib. Topan yang hebat melanda sehingga angkat­an udara Jerman tidak berani melepaskan pesawat­-pesawat tempurnya untuk menghancurkan tentara Sekutu. Di wilayah-wilayah pendudukan Jerman turun hujan dengan lebatnya, sehingga banyak sekali tank-tank Jerman yang terjebak dalam lumpur yang tebal. Boleh dikatakan tentara Jerman lumpuh untuk sementara waktu. Sebaliknya, di daerah pasukan Se­kutu cuaca begitu baik dan terang, sehingga dapat diki­rimkan ribuan perahu-perahu karet untuk menye­lamatkan pasukan Sekutu yang terjepit itu. Tiba-tiba ada kabut tebal yang menghalangi pandangan pasu­kan Jerman yang mencoba untuk menghalangi peng­ungsian besar-besaran tentara Sekutu itu. Akibatnya, 330.000 pasukan Sekutu dapat dipindahkan dari tem­pat yang sangat berbahaya ke tempat yang aman di daratan Inggris. Ketika tiba di daratan Inggris, ten­tara Sekutu lalu segera membentuk lingkaran-ling­karan dan berdoa mengucap syukur kepada Allah yang telah memberikan pertolongan yang begitu be­sar dalam hidup mereka. Sesungguhnya, Allah kita adalah Allah yang besar yang sanggup menolong se­tiap kita dalam setiap keadaan.

Janji firman Tuhan menyatakan:

“BERSERULAH KEPADA-KU PADA WAK­TU KESESAKAN, AKU AKAN MELUPUT­KAN ENGKAU, DAN ENGKAU AKAN MEMULIAKAN AKU” (Mazmur 50:15).

 

 

7. MAKAN SIANG GRATIS

 

Bertahun-tahun yang lalu seorang raja tua yang bijaksana memanggil orang-orang arif di negerinya untuk berkumpul dan memberi sebuah tugas, “Aku ingin kalian mengumpulkan untukku kebijaksanaan sepanjang zaman’. Kumpulkanlah dalam bentuk se­buah buku supaya kita dapat meninggalkannya untuk anak cucu kita.” Kaum arif bijaksana ini lalu mening­galkan raja mereka dan bekerja dalam waktu yang la­ma sekali. Akhirnya, mereka kembali dengan 12 jilid buku dan dengan bangga menyatakan bahwa itu be­nar-benar adalah “kebijaksanaan sepanjang za­man”. Raja lalu melihat isi dari ke-12 jilid buku itu dan berkata, “Bapak-bapak, aku yakin ini adalah ‘kebi­jaksanaan sepanjang zaman’ dan berisi pengetahuan yang harus kita tinggalkan kepada umat manusia. Walaupun demikian, ini terlalu panjang, dan aku khawatir jangan-jangan orang tidak mau membacanya.      Oleh karena itu, ringkaslah.” Sekali lagi orang-orang bijaksana ini bekerja keras dalam waktu yang lama sebelum mereka kembali hanya dengan satu jilid buku. Namun, raja tahu bahwa itu masih terlalu panjang, sehingga ia memerintahkan agar mereka meringkasnya menjadi satu bab, kemudian satu halaman, kemudian satu paragraf, dan akhirnya menjadi satu kalimat. Setelah raja tua yang bijaksana itu me­lihat kalimat itu, ia pun sangat bersukacita. “Bapak­-bapak,” ia. berkata, “ini benar-benar adalah ‘kebijak­sanaan sepanjang zaman’, dan segera setelah semua orang di mana-mana mempelajari kebenaran ini, ma­ka sebagian besar dari masalah kita akan terpecah­kan.” Ternyata, kalimat itu hanya berbunyi, “Tidak Ada Makan Siang Cuma-cuma”, dan hal itu memang “tidak ada”.

“JIKA SEORANG TIDAK MAU BEKERJA, JANGANLAH IA MAKAN” (2 Tesalonika 3:10b).

 

 

       9. BURUNG RAJAWALI DAN ANAK AYAM

 

Ada suatu kisah yang menarik tentang seekor burung rajawali yang tertangkap ketika masih kecil. Petani yang menjerat burung rajawali tersebut mengikat kaki burung itu, sehingga ia tidak dapat terbang. Kemudian, petani tersebut membiarkan burung ra­jawali tersebut berkeliaran di pekarangan gudang temaknya. Dalam waktu singkat, burung rajawali itu bertingkah laku seperti seekor anak ayam. Ia suka mematuk makanannya dan mengais tanah. Dan, bu­rung rajawali yang seharusnya dapat terbang mem­bubung tinggi di awan ini kini tampak puas hidup di pekarangan dan mengais makanan seperti seekor ayam.

Suatu hari seorang gembala dari pegunungan mengunjungi petani yang memiliki burung rajawali tersebut. Melihat burung rajawali yang berkeliaran di pekarangan itu, gembala tersebut lalu menyarankan sang petani untuk membiarkan burung itu terbang saja. Petani itu pun setuju dan mereka lalu memotong tali yang mengikat kaki burung rajawali ter­sebut. Bukannya terbang, burung rajawali itu malah tetap berkeliaran sambil mematuk dan mengais se­perti dahulu. Gembala itu kemudian menangkap dan meletakkan burung rajawali tersebut di sebuah tembok yang tinggi. Maka, untuk pertarna kalinya se­jak tertangkap, burung rajawali itu baru melihat la­ngit biru yang luas membentang dan dengan sebuah lompatan, ia pun mulai mengepakkan sayapnya dan terbang membubung tinggi ke atas dan terus ke atas. Akhirnya, burung itu kembali kepada sifat aslinya, yaitu bertindak sebagai seekor burung rajawali.       Mungkin demikian pula dengan Anda. Anda te­lah membiarkan diri Anda merasa senang berada di tengah-tengah dunia ini, menolak untuk menya­takan kedudukan yang mulia sebagai anak-anak Allah. Allah menginginkan kita untuk hidup dalam dunia yang lebih tinggi. Akuilah dosa-dosa Anda dan carilah perkara yang di atas. Dan, Anda pun akan segera merindukan hal-hal yang lebih mulia daripada hal-hal duniawi. Seperti burung rajawali, itu, tidak ada kata terlambat untuk terbang membumbung tinggi dan semakin tinggi.

“KARENA ITU, KALAU KAMU DIBANG­KITKAN BERSAMA DENGAN KRISTUS, CARILAH PERKARA YANG DI ATAS, DI MANA KRISTUS ADA, DUDUK DI SE­BELAH KANAN ALLAH” (Kolose 3:1).

 

 

11. PENYEMBAHAN YANG BENAR

 

       Waktu menyanyikan lagu-lagu pujian di gereja, mungkin kita pernah merasakan bahwa bibir kitalah yang bergerak menyanyikan pujian. Dalam berdoa di gereja, mungkin kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya hati dan pikiran kita melayang-layang beribu-ribu kilometer jauhnya. Saya khawatir hal-­hal ini terlalu sering terjadi, dan kita berada di gereja tanpa sungguh-sungguh menyembah Allah.

       Ada suatu kisah dalam sebuah buku kuno, dan kisah ini menceritakan seorang laki-laki yang ber­mimpi bahwa seorang malaikat mengantarnya ke gereja pada suatu hari Minggu. Di gereja, ia melihat orang memainkan organ dengan keras, tetapi sua­ranya tidak ia dengar. Paduan suara dan jemaat mu­lai menyanyi, tetapi laki-laki itu tetap tidak mende­ngar apa-apa. Waktu pendeta berdiri dan mulai ber­doa, bibirnya bergerak-gerak, tetapi ia juga tidak mendengar suaranya. Laki-laki itu merasa heran dan menoleh kepada malaikat yang mengantarnya. “Kamu tidak mendengar apa-apa,” kata malaikat itu, “se­bab memang tidak ada suara apa-apa. Orang-orang ini tidak sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Mereka hanya tampaknya saja memuji Tuhan. Hati mereka belum tersentuh dan kesunyian ini belum dihancurkan oleh Tuhan.”

Kisah ini memberi kita suatu pelajaran yang pen­ting sekali. Pada masa-masa mendatang jika kita pergi ke rumah Allah, marilah kita pergi dengan keingin­an yang tulus untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, dan marilah kita memuliakan Dia de­ngan setiap kata dan tindakan kita. Marilah kita me­nyanyi dengan segenap hati, baik dalam paduan suara maupun dalam nyanyian jemaat. Marilah kita ber­khotbah dengan seluruh pikiran dan hati yang berse­rah penuh kepada pengurapan Roh Kudus. “Sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh meng­hidupkan” (2 Korintus 3:6b). Marilah kita berdoa de­ngan hati yang tulus dan marilah kita mendengar­kan firman Allah dengan penuh hormat. Marilah kita bermain musik untuk kemuliaan Tuhan. Maka, kita akan sungguh “masuk” ke dalam penyembahan yang benar dan pujian kita di dunia akan terdengar sampai ke takhta Allah di sorga.

“ALLAH ITU ROH DAN BARANGSIAPA MENYEMBAH DIA, HARUS MENYEM­BAH-NYA DALAM ROH DAN KEBE­NARAN” (Yohanes 4:24).

Puji-pujian tidak akan menjadikan Yesus sebagai Raja, karena walaupun tidak dipuji, Yesus tetap adalah Raja. Namun, puji-pujian mempersilakan Yesus sebagai Raja di dalam hati kita, dan dalam kebaktian kita.

 

 

 

13. DIA MELATIH ANAKNYA

 

Induk burung rajawali mempunyai sebuah kebiasaan sebagai berikut: Ketika melihat anak-anaknya mulai bertumbuh dan bulu-bulu sayapnya mulai muncul, maka burung rajawali itu akan mengambil anak-anaknya dan membawanya terbang tinggi. Lalu, tiba-tiba ia menjatuhkan anak-anaknya itu ke bawah. Tentunya anak-anak burung rajawali itu akan terkejut dan berusaha untuk mengepak-ngepakkan sayapnya agar tidak terjatuh. Dengan demikian, me­reka dapat diajar untuk terbang.

Lalu, ketika mereka mulai tidak tahan dan hampir jatuh, induknya pun turun, mencengkeram mereka dan membawanya kembali ke dalam sarang. Pengalaman pertama yang mendebarkan itu disusul dengan pengalaman-pengalaman berikutnya, hingga pada suatu saat anak burung rajawali itu menjadi seekor burung rajawali yang dewasa. la menjadi seekor bu­rung yang gagah perkasa yang sanggup terbang melintasi gunung-gunung yang tinggi. Tetapi, bagairnana jadinya jika ia tidak pernah diajar terbang oleh induk­nya? la akan menjadi seekor rajawali dewasa yang tidak bisa terbang, yang bisanya hanya bertengger di sarangnya dan ia bahkan tidak akan dinamai burung rajawali, tetapi seekor ayam!

Demikian juga dengan kehidupan anak-anak Tuhan. Ia melatih anak-anak-Nya agar tumbuh men­jadi seekor burung rajawali yang sanggup terbang tinggi mengatasi segala gunung-gunung pencobaan. Itu semua terjadi karena la melatih otot-otot rohani kita.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang ma­hatahu cara membentuk kita supaya kita menjadi seorang yang tahan uji. Allah sedang mempersiap­kan kita untuk naik ke tingkat rohani yang lebih ting­gi, bukan lagi sebagai anak-anak yang hanya minum susu dan terombang-ambing kian kemari oleh angin, melainkan menjadi orang dewasa yang bisa bekerja dan sanggup menghadapi segala tantangan dengan iman.

Buku Robinson Crusoe ditulis oleh penulisnya se­waktu dalam penjara. John Bunyan menulis buku Pilgrim’s Progress dalam penjara Bedford. Sir Walter Releigh menulis The History of the World selama hu­kuman penjara tiga belas tahun. Luther menerjemah­kan Alkitab ketika ia dikurung dalam Puri Wartburg. Selama sepuluh tahun, Dante, penulis buku The Divine Comedy, menulis bukunya dalam pengasingan dan di bawah ancaman hukuman mati. Beethoven hampir tuli secara total dan dibebani kesedihan ketika ia menciptakan hasil-hasil karyanya yang hebat.

Kalau Tuhan ingin mendidik seseorang, Ia tidak mengirimnya ke sekolah yang nyaman, tetapi ke se­kolah yang serba kekurangan. Melalui kurungan dan penjara bawah tanahlah Yusuf naik ke singgasana. Musa menggembalakan kambing domba di padang gurun sebelum Tuhan memanggilnya untuk mengab­di kepada-Nya. Petrus, yang merasa dirinya rendah dan patah semangat karena telah mengingkari Kristus, mematuhi perintah “Gembalakanlah domba-dom­ba-Ku”. Hosea mengasihi dan merawat istrinya yang tidak setia karena patuh kepada Tuhan.

Sebuah goresan yang dalam tentang “pemben­tukan” berkata sebagai berikut:

Bila Allah hendak menggembleng seseorang, membakar semangatnya,

dan menjadikan dirinya terlatih ….

Bila Allah hendak membentuk seseorang untuk melakukan peran yang mulia ….

Bila Allah dengan segenap hati ingin menjadikannya gagah berani,

sehingga seluruh dunia heran dan kagum sekali ….

Maka …

Perhatikanlah cara-Nya, perhatikanlah jalan-Nya.

Bagaimana Ia dengan tidak segan-segan

menyempurnakan orang pilihan-Nya.

Bagaimana Ia menempa dan melukai

serta membongkarnya habis-habisan

untuk mengubahnya.

Bagai penjunan membentuk tanah liat,

menurut maksud yang hanya dimengerti oleh-Nya.

Sementara hati yang terluka itu menangis, menjerit, dan tangannya terulur

memohon pertolongan-Nya!

Lihatlah, bagaimana Allah menekuk ….

Namun, Ia tidak mematahkannya.

Bila yang baik pada seseorang hendak dikem­bangkan ….

Bagaimana Allah memakai orang pilihan-Nya,

dan menyiapkannya sesuai dengan tujuan ilahi.

Setiap perbuatan Allah memperlengkapi dirinya agar dapat memancarkan kemuliaan-Nya.

Tuhan tahu benar apa yang diperbuat-Nya.

            “SAUDARA-SAUDARAKU, ANGGAP­LAH SEBAGAI SUATU KEBAHAGIAAN,           APABILA KAMU JATUH KE DALAM BERBAGAI-BAGAI PENCOBAAN, SEBAB KAMU   TAHU, BAHWA UJIAN TERHA­DAP IMANMU ITU MENGHASILKAN KETEKUNAN.    DAN BIARKANLAH KE­TEKUNAN ITU MEMPEROLEH BUAH YANG MATANG,        SUPAYA KAMU MEN­JADI SEMPURNA DAN UTUH DAN TAK KEKURANGAN SUATU           APA PUN” (Ya­kobus 1:2-4).

 

 

15. NASIHAT ORANG BIJAKSANA

           

            Pada suatu hari sepasang suami-istri mengalami suatu masalah dalam hidup mereka. Dan, mereka merasa tidak sanggup lagi untuk menyelesaikan masalah mereka. Ketika masalah yang satu belum selesai, datang lagi masalah yang lain. Masalah da­tang bertubi-tubi, seakan-akan tidak ada habisnya. Hampir setiap hari suami-istri itu mengeluarkan kata-kata kotor, sehingga mereka tidak tahan lagi dan berniat untuk pindah rumah. Tetapi, suatu saat mereka mendengar ada seorang bijaksana yang se­dang berkunjung di kota mereka. Lalu, suami-istri itu pun datang untuk meminta nasihatnya.

            Setelah mendengarkan keluhan suami-istri ter­sebut, orang bijaksana itu lalu mengambil sebuah kotak kecil bertuliskan “SAMPAH”, dan memberikan­nya kepada suami-istri itu. Mereka lalu menerimanya dengan terheran-heran, tetapi tidak berani untuk menolak dan bertanya. “Jika kotak berisi sampah itu kuberikan kepadamu dan kalian menerimanya, di manakah kini barang busuk itu berada?” tanya orang yang bijaksana itu. “Pada kami,” jawab suami­istri itu. “Seandainya walaupun saya mendesakmu, tetapi engkau tetap tidak mau menerimanya, di manakah kotak sampah itu berada?” tanyanya lagi. “Tetap ada pada Bapak,” jawab mereka serempak.

“Begitulah anakku, fitnah, caci maki yang kotor dan yang jahat tidak akan menyakiti atau menusuk hatimu jika engkau tidak menerimanya! Sumpah serapah dan yang jahat itu akan tetap berada pada si jahat itu. Maka, janganlah memasukkan sampah ke dalam hatimu, dan engkau akan hidup berbahagia.”

“JAGALAH HATIMU DENGAN SEGALA KEWASPADAAN, KARENA DARI SITU­LAH TERPANCAR KEHIDUPAN” (Amsal 4:23).

 

 

 

16. TIGA SARINGAN SOCRATES

 

Suatu hari, Socrates yang adalah seorang filsuf yang sangat terkenal, menerima sebuah pengaduan dari seorang sahabatnya. Sahabatnya ini mengadu kepadanya tentang gosip di luar yang disebarkan oleh orang lain yang isinya menjelek jelekkan nama Socrates. Menghadapi gosip ini, Socrates lalu bertanya kepadanya, “Apakah gosip yang kau dengar dan laporkan kepadaku sudah kau uji melalui tiga saringan?” “Dengan tiga saringan?” tanya sahabat Socrates itu heran sebab tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan oleh Socrates itu. “Ya, tiga saringan,” jawab Socrates lagi, “marilah kita uji apa saja tiga saringan ini.”

“Yang pertama adalah saringan kebenaran. Artinya, apakah engkau sudah sungguh me­nyelidiki bahwa orang-orang itu benar-benar menga­takan demikian atau apa yang dikatakannya itu jus­tru didengar pula dari orang yang lain lagi?” Sahabat Socrates segera menjawab, “Ya, terus terang saja saya belum menyelidiki hal itu. Bahkan, informasi itu juga tidak saya dengar sendiri dari teman-temanku, tetapi dari orang lain yang mendengarnya dari orang lain lagi.”

“Sekarang dengarlah saringan kedua, yaitu kebaikan. Artinya walaupun apa yang kau katakan itu

tidak semuanya benar, tetapi toh pasti masih ada sesuatu yang baik, bukan?” Kembali sahabat Socra­tes itu menjawab, “Ah, kukira bukannya sesuatu yang baik, melainkan sebaliknya, semua itu tidak me­ngandung kebaikan.” Socrates lalu tersenyum, “Se­karang dengarkan saringan ketiga, yaitufaedah. Apakah hal-hal yang kau ceritakan kepadaku itu ber­faedah atau tidak?” Sahabatnya itu lalu menunduk dan dengan malu mengaku,”Ya,memang harus kuakui bahwa apa yang kuadukan kepadamu memang tidak ada faedahnya sama sekali, bahkan bisa merusak hubunganmu dengan orang yang sudah bercerita itu.” Kemudian, Socrates menutup pembicaraan itu dengan berkata, “Kalau begitu, lebih baik engkau pulang saja dan melupakannya, sebab apa yang eng­kau ceritakan kepadaku ternyata tidak benar, tidak baik, dan tidak berfaedah!”

“UJILAH SEGALA SESUATU DAN PE­GANGLAH YANG BAIK. JAUHKANLAH DIRIMU DARI SEGALA JENIS KEJA­HATAN” (1 Tesalonika 5:21-22).

 

 

 

20. KEBAIKAN HATI

 

         Seorang lelaki tua menahan air matanya ketika ia menceritakan kebaikan hati teman-temannya, yaitu umat Kristen, sewaktu ia dirawat di rumah sakit. Ada yang mengantarkan istrinya untuk me­ngunjunginya setiap hari. Sedangkan seorang te­tangganya memotong rumput dan mengurus ke­bunnya. Dan, ada pula yang mau menolong mem­bersihkan rumahnya.

Ada lagi sebuah kisah tentang kebaikan hati. Seorang wanita Kristen telah beberapa tahun tinggal di sebuah rumah jompo. la bercerita bahwa suatu hari seorang temannya yang sedang berkunjung ke desa untuk membeli sebuah stroberi mampir dan menga­jaknya berjalan-jalan. Mereka mengunjungi bebera­pa tempat yang mengingatkan wanita tua itu akan kenangan-kenangan manis di masa lampau, lalu mere­ka berhenti di sebuah kios buah dan sayuran. Beberapa lama kemudian, wanita tua itu menulis, “Memang su­lit untuk mengerti sukacita yang saya alami waktu membeli sebuah tomat. Tampaknya sepele, tetapi sungguh membuat saya sangat bahagia. “

         Kisah-kisah seperti ini membuat saya menjadi ter­sentuh. Demikian pula pada waktu saya membaca

kisah kebaikan hati Daud kepada Mefiboset, ketu­runan Saul yang cacat kakinya. Tetapi, saya khawa­tir, kita sering lupa bahwa kebaikan hati kepada sesa­ma itu sangat perlu. Kita sering terlalu sibuk untuk mengejar keinginan-keinginan kita sendiri sehingga lupa akan kebutuhan orang lain. Dan, betapa kita tidak menunjukkan watak kristiani! Jadi, marilah kita memohon kepada Allah agar menolong mengubah pola hidup kita yang buruk dan egois itu.

Ingatlah, perbuatan yang kecil dan tampak tidak berarti jika dilakukan dengan penuh kasih dapat mem­bahagiakan jiwa orang-orang yang kesepian, patch hati, dan putus asa. Dan, kebaikan hati, walaupun kecil, sangat menyukakan hati Allah. Baik hati adalah bim­bingan penuh kasih yang menunjukkan bagaimana kita seharusnya hidup.

  • Harta yang makin bertambah banyak ada­lah jika kita memberikannya kepada sesama (anonim).
  • Kebaikan hati adalah bahasa yang dapat di­dengar oleh orang tuli dan dapat dilihat oleh orang buta.

Ronald Reagan, mantan Presiden Amerika Seri­kat, menulis: “orang dapat melakukan kebaikan tanpa batas bila ia tidak peduli apakah akan menda­pat pujian atau tidak.”

“TETAPI HENDAKLAH KAMU RAMAH SEORANG TERHADAP YANG LAIN, PENUH KASIH …” (Efesus 4:32).

 

 

25. KEBAHAGIAAN SEJATI

 

Baru-baru ini, dua orang terkaya di Amerika Se­rikat meninggal dunia. Pada saat wafatnya, jutawan Howard Hughes meninggalkan warisan sebanyak dua miliar dolar! Namun, ia telah mengakhiri hidupnya dalam kesepian setelah mengasingkan dirinya selama sepuluh tahun terakhir. Ia tidak memiliki anak dan istri yang menangisi kepergiannya.

Dengan kekayaan sekalipun, hidup Howard Hughes tetap diliputi suasana kesepian.

Orang kedua adalah John Paul Getty. Ia telah meng­hasilkan dua sampai empat miliar dolar dari perusaha­an minyaknya, namun kehidupan pribadinya juga tidak bahagia. Ia telah kawin cerai sebanyak lima kali. Putra bungsunya meninggal dunia karena penyakit pneu­monia pada tahun 1953, dan pada tahun 1973 putra sulungnya meninggal dunia karena keracunan alkohol. Jika kekayaan material merupakan ukuran kebahagiaan, maka kedua orang ini seharusnya berbahagia. Namun, kebahagiaan memiliki dasar yang jauh lebih kuat dan abadi daripada sekedar keuntungan material. Kita semua memerlukan jawaban bagi persoalan-­persoalan pribadi yang amat dalam. Dan, tanpa ada­nya hal ini, hidup, kita akan penuh dengan ketidak­tenangan, hampa, dan tidak bahagia.

Agustinus pernah berkata, “Engkau telah mem­buat kami untuk diri-Mu, dan hati kami senantiasa kacau sampai kami menemukan ketenangan di da­lam Engkau.” Agustinus telah berhasil mengung­kapkan tujuan sejati dari hidup umat manusia, yaitu memiliki Tuhan di dalam hatinya, sebagai Pembim­bing kekal dalam setiap langkah hidupnya.

Kristus sendiri menyadari tujuan hidup-Nya di dunia ini. Ia tahu dari mana Ia datang dan ke mana Ia pergi, “… Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Kenyataan yang amat tegas dan sederhana ini menunjukkan kepada kita bahwa hanya oleh iman kepada Kristus kita dapat didamaikan dengan Allah untuk mem­peroleh hidup, yang berbahagia di dunia ini. Anda harus memiliki Yesus Kristus sebagai tujuan utama hidup Anda. Hanya dengan Kristus saja kita tahu asal usul, tujuan, dan alasan keberadaan kita di dunia ini.

 

 

 

17. MUSIK DAN PENGARUHNYA

 

Saat ini musik sudah menjadi bagian dari kehi­dupan manusia. Di mana-mana, baik tua atau muda, besar atau kecil, kaya atau miskin, semua orang me­nyanyi dan mendengar musik. Musik telah menjadi bahasa universal manusia yang mendatangkan rasa cinta damai dalam hati manusia. Lewat musik pula­lah perasaan seseorang dapat diperhalus. Dari musik pula kepribadian seseorang dapat dianalisis, yaitu melalui musik macam apa yang ia senangi. Sebagai con­toh, seorang yang bertemperamen Melancholy bia­sanya menyenangi musik yang lembut dan roman­tis. Kelihatannya sepele, tetapi sebenamya musik mempunyai pengaruh yang besar sekali. Musik mem­punyai fungsi audio-mental (pendengaran yang mem‑pengaruhi jiwa, Red.). Musik mempunyai efek psi­kologi yang universal. Musik dapat mengekspresikan keagungan atau suasana santai, sukacita ataupun dukacita. Musik mempunyai “bahasa” tanpa kata tersendiri yang dapat dikomunikasikan dalam ting­gi rendahnya nada, ritme lagu, melodi, dan lain-lain sehingga sejak zaman dahulu musik telah dikenal. Inilah beberapa pendapat “mereka” mengenai musik:

  • Plato menganjurkan penggunaan musik dalam pendidikan anak muda.
  • Dr. Schoen dalam buku The Psychology of Music mengatakan bahwa musik adalah alat yang paling berpengaruh yang pernah dikenal oleh para pendidik.
  • Su Tjing (filsuf Cina abad ke-6 s.M.) menga­takan bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk mengubah adat kebudayaan dan ke­biasaan manusia selain musik.

Zaman sekarang kita juga melihat penggunaan terapi musik di dalam dunia medis. Kepada orang yang akan dioperasi, dicabut giginya, atau yang akan melahirkan diperdengarkan musik yang lembut untuk menenangkan saraf sehingga pengobatan dapat berjalan tanpa rasa sakit dan lancar.

Dalam bidang peternakan, musik juga menolong sapi untuk menghasilkan lebih banyak susu dan juga ayam yang dapat menghasilkan lebih banyak telur. Buah-buahan juga lebih besar dengan bantuan musik. Jika tanaman dan hewan begitu banyak- dipenga­ruhi oleh musik, masakan manusia tidak. Dalam 1 Sa­muel 16:23 kita melihat bahwa musik Daud, musik seorang anak Tuhan, mampu menghilangkan stres, bahkan mampu mengusir roh jahat! Ada suatu kuasa yang luar biasa yang terselubung dalam musik.

Ketika lagu Hallelujah, karya komponis ternama Handel, dinyanyikan, Ratu Victoria pun menanggal­kan mahkotanya sebagai penghormatan terhadap keagungan lagu tersebut. Beberapa waktu yang lalu kita juga melihat seorang komponis besar bernama Horowitz membuat banyak orang menangis di kota Moskow lewat pagelaran piano tunggalnya (“The Hands That Makes The People Laugh and Cry”, Majalah TIME, Vol. 18, Mei 1986).

Bentuk yang paling modem yang sedang dipakai oleh iblis dalam musik adalah ROCK! Musik rock yang mulai populer sejak tahun 1960-an telah di­pakai iblis untuk menguasai pikiran dan perasaan manusia dengan suaranya yang bising, beat yang dominan, kata-kata yang destruktif, dan subliminal advertisement.

Suara keras dan bisingnya juga merusak kesehat­an, lagi pula beat lagu rock kadang-kadang membuat detak jantung tidak sinkron, seperti yang telah diteliti oleh Dr. John Diamond, seorang profesor psikologi di New York Mount Sinnai Hospital. Seorang peneliti dalam bidang konferensi internasional dan juga sarjana Ilmu Akustik di Paris menyimpulkan bahwa orang yang sering pergi ke diskotik memiliki daya pendengaran yang agak turun seperti halnya orang yang berusia 60 tahun.

Sudah saatnya bagi kita untuk menyadari penga­ruh negatif dari musik yang dipengaruhi iblis dan menolaknya, serta kembali memberikan musik itu bagi kemuliaan Allah Baja (Yesaya 43:7). Itu bukan berarti kita harus membuang seluruh kaset kita, melainkan kita harus bersikap SELEKTIF!

Allah sedang merestorasi musik dalam gereja­Nya, agar kita mempersembahkan musik yang telah diberikan kepada kita seperti musik Daud kepada­Nya. Seperti juga kata-kata William Both (pendiri Bala Keselamatan), “Musik adalah pemberian Allah, satu­satunya seni dari sorga yang diberikan kepada dunia dan satu-satunya seni dunia yang dapat kita berikan balik kepada sorga. Melalui musik kita dapat mela­yani Allah, membangun saudara seiman, dan meme­nangkan mereka yang belum diselamatkan.”

“BAGI DIALAH KEMULIAAN SAMPAI SE­LAMA-LAMANYA, AMIN!”

 

 

 

35. NILAI SEORANG ISTRI

 

Dalarn sebuah artikel harian Detroit Free, Bob Greene mengungkapkan suatu penyelidikan yang dilakukan oleh pengacara Michael Minton tentang nilai moneter pelayanan seorang istri di rumah. Mula-mula ia men­daftar berbagai fungsi seorang istri, yang meliputi sopir, tukang kebun, penasihat keluarga, perawat, tukang cuci, pemelihara rumah, tukang masak, benda­hara keluarga, penghias rumah, ahli pengatur ma­kanan, sekretaris, dan juga penerima tamu. Dengan menggunakan daftar tugas itu, Minton menghitung nilai kerja seorang ibu rumah tangga sesuai dengan pasaran saat itu. Dia menghitung bahwa nilai kerja seorang istri adalah Rp 884.773,89 per minggu atau Rp 46.008.242 per tahun!

Jika pelayanan seorang wanita dilakukan karena kasih kepada keluarganya, Minton tidak memperhi­tungkan pembayaran atas waktu yang telah dihabis­kannya dalam jumlah uang. Bahkan, penghasilan suamilah yang disebut sebagai “pendapatan keluarga”. Jadi, tidak seorang suami pun boleh berkata, “Uang yang saya hasilkan adalah milik saya pribadi”. Peng­hasilan itu adalah untuk seluruh keluarga. Penyelidikan Minton sungguh-sungguh meng­ungkapkan berbagai fungsi dari seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Seorang ibu harus menjadi dokter, juru ra­wat, ahli jiwa, guru, pendeta, juru masak, dan polisi. Dan, karena ia lebih banyak di rumah dibandingkan dengan suaminya, ia juga yang mempunyai wewe­nang tertinggi untuk mendisiplin, memberi keaman­an, dan kasih yang utama. Pekerjaan-pekerjaan itu penuh dengan tantangan. Setiap istri dan ibu yang setia pantas untuk menerima sebulat kasih dan peng­hargaan dari keluarganya.

Berapakah harga seorang istri? Nilai seorang istri tidak dapat diukur dengan uang dan seorang suami yang  panjang  pikir akan selalu menunjukkan rasa terima kasihnya kepada istrinya. Sungguh, suami harus me­ngasihi dan memberikan dirinya kepada istrinya, bah­kan seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya (Efesus 5:25).

“ISTERI YANG CAKAP SIAPAKAH AKAN MENDAPATKANNYA? IA LEBIH BERHARGA DARI PADA PERMATA” (Amsal 31:10).

 

 

 

5. HIDUP BERPUSATKAN KRISTUS

 

Seorang pengarang yang tidak dikenal menulis, “Ketika bertemu dengan seorang mahasiswa, saya bertanya kepadanya apa yang paling diinginkannya. Ia menjawab, ‘Buku’. Lalu, saya bertemu dengan seseorang  yang amat  pelit dan menanyakan hal yang sama, la langsung berseru, ‘Tentu saja uang!’ Saya kemudian beralih kepada seorang pengemis, dan dengan lemah ia mengucapkan,Makanan’. Seorang peminum juga saya tanyai, dan ia menjawab bahwa yang diinginkannya tiada lain adalah alkohol. Berbagai macam orang lainnya saya tanyai, dan mereka meneriakkan jawaban yang beraneka ragam, tetapi semuanya dapat dirangkum dalam tiga kata: kekayaan, ke­masyhuran, dan kesenangan.”

Pada akhirnya saya bertemu dengan seorang pria sederhana yang telah lama hidup dalam kesaksian se­bagai seorang Kristen. Ia menjawab bahwa ada tiga hal yang sangat ia inginkan: Pertama, hidup di dalam Kristus; kedua, menjadi seperti Kristus, dan ketiga, supaya selalu bersama Kristus. Keinginannya yang terdalam hanyalah berpusat pada Kristus sendiri.

Ketika istrinya memberitahukan bahwa suatu arti­kel surat kabar telah menilai bahwa ia serupa dengan beberapa rasul dan utusan Injil, Adoniram menjawab, “Saya tidak ingin menjadi serupa dengan seorang Paulus, atau seorang manusia lain mana pun. Saya hanya ingin menjadi seperti Kristus! Saya hanya ingin mengikuti Dia, menuruti ajaran-Nya, minum Air Hidup-Nya, dan menapakkan kaki saya mengikuti jejak-Nya. Oh, tiada lain yang lebih indah daripada menjadi seperti Yesus!” Berdasarkan segala hal yang telah Yesus lakukan untuk kita, pengakuan ini hen­daknya menjadi kerinduan bagi setiap orang yang sudah mengenal-Nya selaku Juruselamat.

Hendaklah Ia yang menjadi sasaran cinta kasih kita, kebahagiaan hidup kita, dan Seorang yang kita sangat ingin menyerupai-Nya. Biarlah Ia saja yang menjadi tujuan segenap hidup kita.

“… bagiku hidup adalah Kristus …” (Filipi 1:21).

 

 

 

7. ALLAH SELALU MEMBERI

 

Beberapa saat sebelum Perang Dunia II mendekati akhir, Eropa mulai dilanda krisis. Sebagianbesar dari kota-kota di Eropa sudah luluh lantak oleh peperangan dan menjadi reruntuhan. Barangkali yang sungguh sangat mengharukan dan menyayat hati adalah dida­patinya anak-anak yatim piatu yang menderita kelaparan di pinggir-pinggir jalan kota yang porak-po­randa itu.

Di suatu pagi yang dingin, seorang tentara Amerika sedang dalam perjalanan pulang ke tempat tinggalnya di London. Sementara dia mengarahkan pandangan­nya ke sebuah sudut kota dari dalam kendaraan yang ditumpanginya, ia menyaksikan ada seorang anak laki-­laki kecil yang sedang merapatkan hidungnya pada sebuah kaca etalase dari sebuah toko yang menjual kue-kue kering. Di dalam, si tukang kue sedang mengeluarkan dari oven, sejumlah kue donat yang masih segar. Si anak kecil yang kelaparan itu berdiri me­matung,  menyaksikan dengan kedua matanya setiap kali si tukang kue itu mengeluarkan donat dari ovennya. Si tentara tersebut segera saja memarkir mobilnya dan berjalan pelan-pelan mendekati tempat anak laki­-laki itu berdiri. Bersamaan dengan uap yang mengepul dari jendela yang menebarkan bau harum kue donat yang membangkitkan nafsu makan itu, dia melihat mulut si anak itu berkerut-kerut, seraya menyaksikan ditempatkannya kue-kue donat yang masih hangat itu di tempat yang sudah disediakan. Si anak laki-laki kecil ini lalu semakin mendekatkan hidungnya dengan hati-­hati, setelah la melihat bahwa tumpukan kue donat yang masih hangat itu ternyata ditempatkan tidak jauh dari etalase kaca tempat di mana ia berdiri.

Hati si tentara ini sungguh terharu dan tergugah, sementara dia berjalan mendekati si anak itu.

“Nak, apakah kamu mau beberapa donat itu?”

Si anak ini pun sungguh terhenyak mendengar per­tanyaannya itu.

“Oh, ya … saya mau sekali!”

Si tentara Amerika ini lalu melangkah ke dalam toko kue itu dan membeli beberapa kue donat, memasukkannya ke dalam sebuah tas kue, dan kernudian keluar menuju ke tempat di mana si anak laki-laki itu berdiri, pada saat kabut pagi masih meliputi kota London. Ia pun tersenyum, dan memberikan tas berisi kue donat sebanyak sepuluh potong itu dan berkata “Ini Nak, makanlah.”

Sementara ia berjalan menuju ke mobilnya, ia merasa ada orang yang memegangi ujung pakaiannya. Ia pun menoleh kembali ke belakang dan mendengar si anak kecil itu bertanya dengan suara kecil yang terbata-bata

“Tuan … apakah Tuan itu Allah?”

            Dalam hal memberi, kita tidak jauh berbeda dengan Allah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, se­hingga la telah mengaruniakan …” (Yohanes 3:16)

 

 

 

12. KURANGNYA KOMUNIKASI

 

Virgina Satir, seorang terapis keluarga, menceritakan sebuah kisah tentang sepasang suami-istri yang datang kepadanya karena pernikahan mereka yang telah berusia 20 tahun membutuhkan bantuan.

Setelah beberapa kali pertemuan, ia meminta mereka masing-masing untuk mengatakan secara terbuka apa yang tidak mereka senangi dari pasangannya. Dengan penuh emosi, suami itu berkata dengan keras, “Saya berharap kamu tidak lagi menyajikan bayam yang memuakkan itu!”

Setelah pulih dari rasa terkejutnya, istrinya pun menjawab, “Saya juga tidak suka bayam, tetapi saya kira kamu menyukainya!”

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” (Filipi 2:1)

 

 

16. PENDIDIKAN ANAK

 

            Beberapa tahun yang lalu, sebuah tim sosiolog dari negara bagian New York berupaya menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan oleh kehidupan seorang ayah terhadap anak-anaknya maupun generasi penerusnya. Dalam kajian itu, mereka menyelidiki riwayat dua orang pria yang hidup dalam kurun waktu yang bersama­an di abad ke-18. Yang seorang bernarna Max Jukes, dan yang lain Jonathan Edwards.

Max Jukes, bukanlah orang beriman, ia adalah orang yang tidak punya prinsip. Istrinya juga tidak per­nah menjadi orang beriman sampai saat wafatnya. Gambaran yang diperoleh mengenai 1.200 orang ke­turunan Max Jukes adalah:

  • 440 orang hidup dalam pesta pora
  • 310 orang menjadi gelandangan dan peminta-minta
  • 190 orang menjadi pelacur
  • 130 orang menjadi narapidana
  • 100 orang menjadi pecandu minuman keras
  • 60 orang mempunyai kebiasaan mencuri
  • 55 orang menjadi korban pelecehan seks
  • 7 orang menjadi pembunuh

Hasil penyelidikan membuktian bahwa tidak satu pun keturunan Jukes yang memberi kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Sebaliknya, keluarga yang terkenal karena keburukannya ini secara kolektif te­lah merugikan negara bagian New York sebesar 1.200.000 dolar.

Sedangkan Jonathan Edwards dikenal sebagai pe­mikir paling cemerlang di Amerika. Ia adalah gembala yang terpandang dan teolog yang pandai. Jonathan Edwards berasal dari keluarga yang taat. Ia menikah dengan Sarah, seorang wanita yang sangat setia ke­pada Tuhan. Inilah keturunan. mereka:

  • 300 orang menjadi pendeta, utusan Injil, atau guru besar di bidang teologi
  • 120 orang menjadi profesor di bidang akademis
  • 110 orang menjadi pengacara
  • lebih dari 60 orang menjadi dokter
  • lebih dari 60 orang menjadi penulis buku bermutu
  • 30 orang menjadi hakim
  • 14 orang menjadi rektor universitas
  • banyak yang menjadi pemilik pabrik di Amerika3 orang menjadi anggota Kongres Amerika
  • 1 orang menjadi wakil presiden Amerika Serikat

Keduanya sama-sama pria, sama-sama menjadi ayah dari anak-anaknya, tetapi keadaan keturunannya sangat berbeda sekali. Di mana letak perbedaannya? Jawabannya adalah terletak pada pendidikannya!

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6).

 

 

 

21. TIDAK TEPAT PADA WAKTUNYA

 

Seorang tukang cukur bertobat dalam suatu kebaktian kebangunan rohani yang diadakan oleh penginjil Billy Graham. Dengan semangat yang membara ia lalu berjanji akan bersaksi kepada para langganannya supaya dimenangkan bagi Kristus.

Esok harinya, ia pun bergumul dalam doanya supaya Tuhan memberinya keberanian. Ketika langganan pertamanya sedang dicukur ia ingin sekali bersaksi, tetapi ia tidak berani karena ia kebingungan “Dari mana saya harus mulai bersaksi?” Sampai ia selesai dan langganannya pulang, tidak ada sesuatu pun yang bisa disampaikannya. la sangat kecewa, “Untuk langganan kedua, saya harus bisa,” katanya meya­kinkan diri sendiri.

Ketika langganan kedua dicukur, hatinya juga ber­debar dan bingung! Sambil menenangkan diri ia lalu mengambil sebuah pisau tipis panjang yang biasanya dipakai untuk mengikis bulu-bulu rambut yang halus dan mengasahnya pada selembar kulit. Lalu, tukang cukur itu bertanya kepada langganannya, “Sudan siap­kah Tuan untuk mati?” Mendengar itu, pelanggan tersebut langsung lari terbirit-birit, dan tukang cukur itu pun terkejut dengan apa yang terjadi.

Maksud hati tukang cukur itubaik dan caranya pun tidak salah, tetapi ia berada dalam situasi yang salah. Perkataannya tidak tepat pada waktunya.Semangat­nya tidak diimbangi dengan hikmat.

“Seseorang bersukacita karena jawaban yang dibe­rikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang te­pat pada waktunya!” (Amsal 15:23).

 

 

 

24. JADILAH SEPERTI YANG DIPIKIRKAN

 

Hawthorne menceritakan tentang seorang anak yang sangat mengagumi seorang pahlawan dan selalu mempunyai keinginan untuk memandangi wajah orang itu. Setiap ada kesempatan, anak itu selalu me­mandangi wajah si pahlawan dengan hati yang penuh kekaguman—dan dalam hati kecilnya, ia ingin satu kali kelak bisa seperti dia. Setelah bertahun-tahun lewat, pada suatu hari ada seseorang yang menge­nali anak itu (yang sekarang sudah menjadi dewasa) dengan muka yang mirip sekali dengan si pahlawan itu. Benar sekali, wajahnya telah berubah menjadi se­perti yang ia pikirkan.

Apa yang orang pikirkan menentukan bagaimana keadaan orang itu. Keinginan hati kita yang terdalam mau tidak mau akan terlihat pada wajah kita. Pada suatu hari ada seorang penasihat merekomendasikan seseorang untuk satu posisi di kabinet.

“Saya tidak ingin menemui dia,” kata Lincoln.

“Tetapi, engkau bahkan belum mengenal dan me­ngetahui kepribadiannya,” temannya memprotes.

Lincoln lalu berkata, “Saya tidak suka wajahnya.” “la tidak ingin mukanya seperti itu,”‘ kata temannya.

“Setiap orang yang berusia lebih dari empat puluh ‘tahun bertanggung jawab atas wajahnya,” kata sang presiden.

Dan, Lincoln memang benar. Wajahnya sendiri adalah contohnya. Meskipun sederhana dan kasar, pada wajah Lincoln tercermin kehangatan dan keju­juran, yang membuat ia menjadi orang yang paling. disegani di Amerika.

Beberapa psikolog telah membuat suatu penyelidikan yang luas yang menunjukkan bahwa apa yang dipikirkan oleh seseorang akan terlihat pada ciri-ciri tubuhnya. Charles L. Allen berkata, “Saya telah memperhatikan bahwa pasangan suami-istri yang telah hidup bersama selama beberapa tahun dengan bahagia dan harmonis lama-kelamaan akan kelihatan lebih seperti kakak beradik daripada suami-istri. Sementara mereka hidup bersama, menikmati pengalaman yang sama, dan berpikir sama, mereka memiliki kecenderungan akan kelihatan mirip satu sama lain.

Ralph Waldo Emerson berkata, “Wajah seseorang adalah sama seperti apa yang ia pikirkan sehari-hari. Tetapi, itu bukanlah pendapat orisinil dari dia. Markus Aurelius, orang yang paling bijaksana pada zaman Romawi kuno, berkata, “Hidup kita dibentuk oleh pikiran kita.” Norman Vincent Peale mengatakan, “Ubahlah pikiran Anda dan Anda akan mengubah dunia di sekeliling Anda.”

Tetapi, sebelum orang-orang di atas mengatakan hal itu, beberapa ribu tahun yang lalu orang-orang yang penuh hikmat dari Alkitab berkata, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amsal 23:7a).

 

 

 

27. VISI

 

Banyak orang besar yang memulai kehidupannya di rumah yang paling miskin dan paling sederhana, dengan sedikit pendidikan dan tidak punya keung­gulan apa pun. Thomas Edison adalah penjual koran di kereta api. Andrew Carnegie mulai bekerja dengan upah 4 dolar sebulan, dan John D. Rockefeller dengan upah 6 dolar seminggu. Hal yang menonjol pada diri Abraham Lincoln bukanlah bahwa ia dilahirkan di dalam sebuah pondok kayu, melainkan bahwa ia bisa keluar dari pondok kayu itu.

Demosthenes, ahli pidato terbesar pada zaman kuno berbicara gagap! Pertama kalinya dia mencoba untuk berbicara di muka umum ia ditertawakan. Julius Caesar menderita sakit ayan. Napoleon mempunyai orangtua kelas rendahan dan jauh dari dilahirkan seba­gai seorang jenius (peringkatnya adalah empat puluh enam dari enam puluh lima orang siswa dalam sebuah kelas dengan siswa sebanyak di Akademi Militer). Beethoven telinganya tuli, sama seperti Thomas Edison. Charles Dickens kakinya pincang; demikian pula Handel. Homerus matanya buta; Plato punggungnya bungkuk. Dan, Sir Walter Scott lumpuh total.

Apa yang memberi orang-orang besar ini stamina untuk mengatasi kekurangan mereka yang parah dan menjadi sukses? Setiap orang mempunyai impian dalam batinnya yang bisa menyalakan api yang tidak dapat dipadamkan. Wawasan yang hebat adalah memulai sebuah “pekerjaan dalam”‘. Kata Napoleon Hill, “Peliharalah wawasan dan impian Anda seakan-­akan itu adalah anak-anak jiwa Anda, rancangan untuk pencapaian akhir Anda.”

  • Seorang yang mempunyai visi sedikit bicara, tetapi banyak bekerja.
  • Seorang yang berangan-angan sedikit bekerja, tetapi banyak bicara.
  • Seorang yang mempunyai visi mendapatkan kekuatan dari keyakinan batin.
  • Seorang yang berangan-angan mendapatkan kekuatan dari keadaan luar.
  • Seorang yang mempunyai visi berjalan terus ke­tika muncul masalah.
  • Seorang yang berangan-angan berhenti setelah jalan menjadi sulit untuk dilalui.

Seorang yang mempunyai visi adalah selangkah lebih maju daripada orang lain, artinya:

“Saat orang lain diam, kita mulai berjalan.

Saat orang berjalan, kita mulai berlari.

Saat orang berlari, kita sudah sampai.

Saat orang sampai, kita beristirahat.

Saat orang beristirahat, kita mulai berjalan lagi.”

“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat” (Amsal 29:18a).

 

 

 

31. KEYAKINAN

 

Ada seorang lelaki pemabuk dan jahat hampir membunuh orang berkali-kali. Sekarang ia dipenjara karena telah menewaskan seorang kasir toko di jalan. la mempunyai dua orang anak. Anak sulungnya juga pemabuk dan pencuri, sehingga ia juga dipenjara. Anak bungsunya hidup bahagia dan mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Banyak orang terkejut, meng­apa dua orang anak yang berayah sama mempunyai jalan hidup yang berbeda. Keduanya pun memberi ja­waban yang serupa, “Mau jadi apa lagi saya dengan ayah seperti itu?”

Anda sering.  kali percaya bahwa peristiwa yang mengendalikan kehidupan dan lingkungan akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Sebenarnya, bukan peristiwa kehidupan itu yang membentuk Anda, me­lainkan keyakinan terhadap makna suatu peristiwa.

Dua orang tentara tertembak di Vietnam dan di­penjarakan di Hoa Lo. Mereka diisolasi, dirantai, dan terus dibelenggu. Meskipun mereka menerima per­lakuan yang tidak wajar, pengalaman keduanya mem­bentuk kepercayaan yang berbeda. Satu orang meng­anggap hidupnya telah tamat. Dan, untuk mencegah penderitaan lebih lanjut, ia ingin bunuh diri. Yang lain­nya mengambil hikmah atas kejadian brutal tersebut untuk bercermin pada diri sendiri, sahabat, dan Tuhan. Kapten Gerald Coffee lalu menggunakan pengalaman tersebut untuk mengingatkan semua orang dalam meng­atasi segala duka, tantangan, dan musibah.

Dua orang wanita berusia 70 tahun mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menyikapi hidup. Yang satu tahu bahwa ia akan segera mati. Bagi dia, 7 dekade berarti tubuh harus beristirahat, dan lebih baik meng­akhiri segala urusan. Wanita yang satunya lagi ber­pendapat bahwa kemampuan tidak tergantung pada usia, tetapi pada kepercayaan. Maka, standar tertinggi pun harus ditetapkan. Bagi dia mendaki gunung ada­lah cocok untuk  usia 70 tahun. Dalam dua puluh lima tahun mendatang ia ingin menekuni petualangan pe­nuh misteri, untuk mengukur titik puncak di dunia. Hingga kini, dalam usia 90 tahun, Hulda Crook menjadi wanita tertua yang mampu mencapai puncak gu­nung Fuji.

Artinya, bukan lingkungan dan bukan pula peris­tiwa hidup yang membentuk Anda hari ini dan esok. Melainkan, makna peristiwa tentang bagaimana Anda menafsirkannya. Keyakinanlah yang membedakan bahagia dan sengsara.

“Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31b).

 

 

 

34. MENATAP KE DEPAN

 

Ada seekor bangau yang baru saja belajar menangkap ikan. Biasanya ia berdiri menunggu pada aliran sungai, dan jika ada ikan yang lewat, dipatuknya ikan itu. Tetapi, setiap kali ia mencoba, ia selalu gagal, hingga teman-temannya pun menertawakan dia  “Kamu bangau yang bodoh, menangkap ikan begitu saja tidak bisa.”

Demikian ejekan mereka. Akhirnya, bangau menjadi malu dan kecewa, sehingga ia menjadi takut untuk mematuk ikan lagi. Kalau ada ikan yang lewat, ia menjadi ragu-ragu untuk mematuknya. Sampai

akhimya bangau itu pun mati kelaparan karena tidak berani mematuk ikan.

Rasul Paulus mengatakan, “… Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” (Filipi 3:13).

Janganlah kita terpaku dengan kegagalan-kega­galan pada hari-hari yang lalu! Angkatlah hati kita kepada Allah, dan berkatalah seperti Rasul Paulus, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku”. Lupakanlah masa lalu yang berisi kegagalan dan kekecewa­an. Bersama dengan Tuhan Yesus, bangkitlah dan berusahalah kembali untuk memperoleh keberhasilan pada hari-hari mendatang.

Contoh yang baik tentang prinsip ini ialah Yusuf (Kejadian 45:5). Ketika ia berjumpa dengan kakak-ka­kaknya pada kali yang kedua dan menyatakan siapa dirinya kepada mereka, ia tidak mempunyai rasa dendam terhadap mereka. Yang pasti mereka telah meng­aniaya dia, tetapi ia melihat masa lalunya dari sudut pandang ALLAH. Akibatnya, ia tidak marah terhadap saudara-saudaranya. Yusuf tahu bahwa ALLAH mempunyai suatu rencana untuk hidupnya—suatu perlombaan yang harus, diikutinya–dan dalam melaksanakan rencana itu dan melihat ke depan, ia me­matahkan kekuatan masa lalu.

 

 

 

1. HIDUP  YANG KOSONG

 

Dalam satu terbitannya, majalah Time pernah me­muat  kisah seorang  pemudi yang kuliah di universitas Harvard, Amerika Serikat. la selalu menangis, tetapi kawan-kawannya tidak dapat menemukan apa yang menjadi penyebabnya. Akhimya, ayahnya didatang­kan dan pemudi itu berseru sambil menangis, “Ayah, saya  ingin sesuatu, tetapi saya tidak tahu apa yang saya inginkan itu.”

Banyak orang pada saat ini mengeluh dan mena­ngis untuk sesuatu, tetapi tidak ada satu pun yang da­pat memuaskan mereka. Uang, harta, kedudukan, se­mua mereka miliki, namun semua itu tidak bisa me­muaskan mereka. Batin mereka hampa.

‘..Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Ku­berikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus meman­car sampai kepada hidup yang kekal”‘ (Yohanes 4:13-14).

 

 

 

3. SUDAH DIBAYAR

 

Dr. G. Campbell Morgan sedang berusaha menje­laskan tentang “keselamatan yang cuma-cuma” kepada seorang penggali tambang batu bara, tetapi orang itu tidak dapat memahaminya.

“Saya harus membayar untuk memperoleh itu,” debatnya. Dengan secercah pengertian dari Tuhan, Dr. Morgan lalu bertanya, “Bagaimana Anda menu­runi tambang tadi pagi?”

“Mudah sekali,” jawab orang itu. “Saya hanya ma­suk ke dalam lift, lalu turun.”

Kemudian, Dr. Morgan bertanya, “Bukankah itu terlalu mudah? Tidakkah Anda harus membayar se­suatu untuk itu?”

Orang itu tertawa.

“Tidak, saya tidak usah membayar apa-apa; tetapi perusahaan tentunya mengeluarkan banyak biaya untuk memasang lift tersebut.”

Akhirnya, orang itu melihat kebenaran yang di­sampaikan Dr. Morgan; “Saya tidak membayar apa pun untuk diselamatkan, tetapi Allah membayarnya dengan menyerahkan anak-Nya.”

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang ma­hal, yaitu darah Kristus yang sama seperti da­rah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

 

 

 

15. DIPILIH UNTUK MELAYANI

 

Selama pekan kebangunan rohani “Billy Sunday”, ada seorang anak laki-laki lemah mental yang dengan setia setiap malam hadir untuk ikut menyanyi dalam paduan suara.

“Joey memang tidak sepandai anak yang lain,” kata Homer Rodeheaver, pemimpin paduan suara Billy Sunday yang terkenal itu, “tetapi ia selalu hadir dalam setiap kebaktian dan pada setiap acara paduan suara. Joey tidak akan pulang sebelum berjabat tangan de­ngan saya. Kadang-kadang saya merasa terganggu de­ngan caranya yang setiap saat mengekor saya, dan diam­-diam saya berharap ia segera pulang.”

Pada suatu malam, seorang pria, yang ternyata ayah Joey, datang menemui Rodeheaver dan berkata, “Terima kasih, Bapak telah begitu baik kepada Joey. Ia memang terbelakang, tetapi ia tidak pernah merasa begitu bahagia seperti saat ia menyanyi bersama pa­duan suara yang Bapak pimpin. Ia berlatih dengan keras di rumah, meski hanya untuk sebuah lagu se­derhana, sehingga dapat ambil bagian dalam padu­an suara itu. Oleh karena permintaannya, istri saya dan kelima anak kami yang lain menerima Kristus. Kemarin malam kakeknya bertobat. Semula ia ada­lah seorang ateis. Saat ini dia berusia 75 tahun. Dan pada malam ini, neneknya juga mau menerima Kristus. Kini seluruh keluarga saya telah diselarnatkan!”

Kita mungkin terlalu besar untuk dipakai Tuhan, tetapi tidak mungkin terlalu kecil. Namun, sekecil apa pun, bila dipersembahkan ke dalam tangan Tuhan, akan membuahkan hasil yang besar.

“Tetapi, apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Korintus 1:27).

 

 

 

20. MELIHAT LUMPUR ATAU BINTANG-BINTANG

 

Dalam Perang Dunia II, seorang prajurit muda menikah dengan seorang wanita dan kemudian meng­ajaknya ke pos di gurun California. Wanita ini tidak menyukai gurun; ia tidak menyukai ketandusan; sua­minya selalu berada dalam tugas aktif di tempat yang jauh dan ia sangat kesepian serta merasa bosan. Akhirnya, wanita ini menulis sebuah surat kepada ibunya dan mengatakan, “Ibu, saya akan pulang. Saya tidak menyukai gurun, saya tidak menyukai kekeringan, dan saya tidak menyukai kenyataan bahwa suami saya pergi. Ini benar-benar tempat yang buruk untuk didiami.” Ibunya membalas surat ini dengan dua kalimat: “Dua laki-laki melihat ke luar dari balik terali penjara; yang satu melihat Lumpur dan lainnya melihat bintang-bintang.”

Istri yang masih muda ini menangkap isi pesan­nya; ia memutuskan untuk mencari bintang-bintang. Lalu, ia mulai belajar sebanyak mungkin tentang bunga gurun dan kaktus. la mempelajari bahasa, cerita rak­yat, dan tradisi suku Indian yang menjadi tetangga­nya. Pada waktu tugas suaminya berakhir, ia begitu tekun mempelajari gurun sehingga ia menulis sebuah buku tentang gurun. Permasalahannya bukanlah masalah itu sendiri,melainkan bagamana cara ia melihatnya.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabar­lah dalam kesesakan, dan bertekunlah do-lam doa!” (Roma 12:12).

 

 

 

31. HIDUP SECUKUPNYA

 

Falsafah hidup John Wesley adalah menghemat sebisanya dan memberi semampunya. Ketika ia berada di Oxford, ia memiliki pendapatan sebesar 30 poundsterling setahun. Ia hidup dengan 28 poundsterling dan member 2 poundsterling kepada orang lain.

Ketika pendapatannya bertambah hingga menjadi 60 poundsterling, 100 poundsterling, dan 120 poundsterling setahun, ia masih hidup dengan 28 poundsterling dan memberikan sisanya.

Petugas akuntan untuk alat-alat makan perak memintanya untuk melaporkan semua alat-alat makan peraknya. Jawabannya adalah, “Saya mempunyai dua buah sendok teh dari perak di London dan dua buah di Bristol. Itulah alat-alat makan perak yang saya miliki sekarang ini, dan saya tidak akan membeli lagi sementara banyak orang di sekitar saya yang membutuhkan makanan.”

“Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki”(Amsal 28:27)

 

 

 

35. PELAJARAN DARI KEHIDUPAN MUSA

 

Inilah ketiga periode dalam kehidupan Musa. Pada periode pertama, di dalam segala kehebatannya, Musa meninggikan dirinya dengan berkata, “Iam something (Saya hebat).” Pada waktu kita mengalami atau berada di dalam periode seperti Musa ini, mudah sekali kita tergoda untuk menyombongkan diri, dan menganggap diri lebih hebat dari orang lain. Kita perlu mengingat bahwa cuaca tidak selalu cerah dan perjalanan hidup kita tidak selamanya akan lancar.

            Pada periode kedua Tuhan memimpin Musa untuk mempelajari dan menyadari dirinya yang sangat terbatas, ‘Iam nothing (Saya bukan apa-apa)”‘. Segala pengetahuan yang dimiliki Musa pada periode ini tidak berguna sama sekali; binatang-binatang yang digembalakannya tidak mengerti segala sesuatu yang telah dipelajarinya. Orang yang mempunyai ilmu untuk mengajar orang lain yang tidak mempunyai ilmu pun akan mengalami kesulitan besar, karena ada dua dunia yang sangat berbeda. Pada waktu hidup kita meng­alami kesulitan seperti Musa ini, barulah kita sadar bahwa diri kita sangat terbatas.

            Pada periode ketiga, setelah Musa menyadari keterbatasannya sampai pada titik nol, barulah Tuhan bekerja, memberikan pengharapan kepadanya. Tuhan tidak bekerja pada saat kita merasa diri kita hebat dan tidak memerlukan Dia. Sebaliknya, Tuhan sering mem­biarkan kita berada dalam kesulitan, keterbatasan, dan kepapaan, untuk kita belajar satu hal: God is everything (Allah adalah segala-galanya). Allah yang Mahakuasa sanggup dalam melakukan segala sesuatu dan segala sesuatu yang ada pada kita adalah semata-mata anugerah Tuhan. Segala sesuatu yang kita terima dari Tuhan sebenarnya tidak layak kita terima, tetapi kalau itu diberikan kepada kita, itu adalah untuk memuliakan Dia. Kalau kita mempunyai keyakinan ini, barulah hidup kita bisa bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan memuliakan Dia.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

 

 

 

36. IMAN DAN PERBUATAN

 

Seorang guru agama dan seorang pembuat sabun berjalan bersama-sama. Pembuat sabun yang ucap­annya sinis ini berkata, “Apa manfaatnya agama? Lihat, betapa banyaknya kesusahan dan penderitaan di dunia! Masih tetap ada, bahkan setelah bertahun­-tahun, atau beribu-ribu tahun, diajarkan tentang kebaikan, kebenaran, dan kedamaian. Tetap ada kesu­sahan walaupun sudah dipanjatkan doa-doa, diberikan khotbah dan pengajaran. Jika agama baik dan benar, mengapa semuanya terjadi seperti sekarang?”

Guru agama itu tidak berkata apa-apa. Mereka terus berjalan sampai mereka menyaksikan seorang anak sedang bermain-main di selokan. Kemudian, guru agama itu berkata, “Lihat anak kecil itu. Engkau ber­kata bahwa sabun bisa membuat orang bersih, tetapi lihat kotoran pada anak itu? Apa gunanya sabun? Sudah bertahun-tahun sabun ada di dunia, tetapi anak kecil itu tetap kotor. Saya meragukan seberapa efektifnya sabun!”

“Tetapi, Guru,” protes pembuat sabun itu, “sabun tidak bisa bermanfaat kalau tidak dipakai”

“Tepat sekali,” jawab guru itu. “Benar!”

Ini juga suatu pelajaran yang baik untuk kita se­mua. Kebenaran dan disiplin rohani yang dipelajari anak-anak dari kita hanya bermanfaat bagi mereka sepanjang itu diterapkan. Tetapi, ada satu hal yang menggembirakan: jika Anda memberi teladan yang baik, anak-anak Anda akan menunjukkannya dalam tindakan. Namun, Anda tidak bisa berharap anak-­anak Anda akan otomatis menerapkan apa yang me­reka pelajari tanpa bantuan Anda—setidaknya pada saat-saat permulaan. Mereka perlu waktu untuk me­lakukannya. Bagaimanapun juga, kerinduan Anda haruslah ingin menolong mereka mengenal kebenaran rohani dan menjadi terbiasa untuk menerapkan apa yang mereka pelajari sehingga menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

“… iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).

 

 

 

 

 

 

 

9. DUA SETENGAH JIWA

 

Selesai D.L. Moody melayani kebaktian penginjil­an, ada seorang temannya menanyakan hasil kebak­tian itu. la menjawab bahwa ada dua setengah jiwa yang bertobat pada malam itu. Temannya heran pada jawabannya dan menanyakan apa maksudnya. D.L. Moody berkata, “Dua orang anak yang disela­matkan, dan satu orang dewasa.” Kemudian, ia menerangkan alasan untuk jawabannya. Setiap anak itu mempunyai potensi segenap hidupnya diserahkan kepada Yesus, sedangkan orang dewasa itu sudah menghabiskan setengah hidupnya dan tinggal setengah lagi untuk dipakai melayani Tuhan.”… anak itu (SAMUEL, Penulis) menjadi pelyan TUHAN …” (1 Samuel 2:11).

Biasanya kita berpikir, biar masa muda dinikmati dengan bersenang-senang dahulu, nanti setelah lulus SMA, lulus universitas, atau sudah bekerja, baru ber­tobat dan melayani Tuhan. Melalui “panggilan Samuel” ini ditegaskan bahwa, adalah wajar bagi anak muda untuk menerima panggilan Tuhan dan melayani Tuhan sejak kecil atau muda. Hal itu WAJAR dan ALKITABIAH.

Biasanya kita berpikir, bahwa tidak enak bertobat sejak muda, sebab tidak bisa merasakan semua kesenangan dunia atau dosa. Bila semua dosa pernah dicicipi dan pada suatu saat nanti bertobat itu baru hebat kesaksiannya. “Saya telah mencuri emas, merampok bank, memperkosa, membunuh, dan lain lain, lalu masuk penjara 15 tahun dan … suatu hari saya ingat Injil Kristus, di dalam penjara Pak Pendeta mendoakan saya, saya menangis meraung-raung sampai baju Pak Pendeta basah semua, lalu saya bertobat dan sekarang “sisa” hidup saya dipakai untuk melayani Tuhan… ” demikian kesaksian yang biasanya dianggap “wah”, “luar biasa”, “hebat” oleh banyak orang padahal itu adalah kesaksian biasa. Adalah lebih hebat kesaksian seorang anak SMP yang berkata, “Saya kenal Tuhan sejak saya muda dan kasih-Nya memenuhi hati saya, maka seluruh hidup saya, saya berikan untuk melayani Tuhan!”

 

 

 

15. HATI YANG BERKORBAN

 

Pada suatu hari, di sebuah kelas sekolah Minggu, ada seorang anak perempuan yang akan pulang ke rumahnya karena tidak ada tempat lagi baginya di kelas itu. Tiba-tiba seorang guru melihatnya, dan murid tadi dikejarnya, sambil berkata, “Nak, jangan pulang, Bapak akan mencarikan tempat bagimu.”

Lalu, anak itu digendongnya serta dicarikan tempat di kelas yang memang sudah menjadi terlalu kecil karena padatnya. Sambil mengusap butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi anak yang manIs itu, si guru berkata sambil menghibur, “Kami berharap lain kali sekolah dapat menyediakan ruangan kelas yang lebih besar.” Setelah pulang ke rumah murid itu segera menceritakan persoalan itu kepada orangtuanya.

Orangtuanya lalu menasihatinya supaya menabung sehingga dapat disumbangkan untuk memperbesar kelas sekolah Minggu. Begitulah si kecil mulai menabung dengan setia. Namun, beberapa hari kemudian, oleh karena sakit anak itu meninggal dunia.

Setelah upacara pemakaman selesai, ayah anak itu menceritakan kepada Dr. Russel Conwell segala sesuatunya dan menyerahkan uang tabungan anaknya yang hanya berjumlah 57 sen.

Sejak saat itu sebuah panitia pembangunan gereja dibentuk dengan modal uang sebesar 57 sen. Tuhan lalu menggerakkan hati umat-Nya begitu rupa; sehingga dalam tempo yang singkat dapat dikumpulkan uang tunai sejumlah 10.000 dolar. Beberapa waktu kemudian, sebuah gedung gereja yang besar, lengkap dengan ruang-ruang kelas yang lebar untuk sekolah Minggu telah didirikan. Pada akhirnya gedung-gedung perguruan tinggi dan rumah sakit Philadelphia yang megah juga dapat didirikan.

Persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan ketulusan hati, tidak akan terbuang percuma.

“… supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

 

 

 

17. MENJADI SEORANG PEMENANG

 

Tahukah Anda bahwa tawon besar tidak dapat terbang? Benar. Menurut prinsip-prinsip ilmu penerbangan, bentuk dan berat tubuh tawon itu bila dibandingkan dengan ukuran sayapnya tidak memungkinkan baginya untuk terbang. Namun, untungnya tawon besar tersebut tidak tahu apa-apa mengenai prinsip-prinsip ilmu penerbangan. Jadi, tawon itu pokoknya terus saja terbang.

Mungkin ini juga sama dengan Anda. Mungkin hidup telah melumpuhkan Anda.

Mungkin Anda seorang pecundang (yang kalah) —atau begitulah yang telah mereka katakan. Namun, mungkin apa yang telah mereka katakan bukanlah apa yang semestinya terjadi. Mungkin Anda dapat menjadi seperti seekor tawon besar. Abaikan saja apa yang “mereka” katakan. Pokoknya teruskan saja terbang!

Sering kali yang membedakan seorang pernenang dari seorang pecundang adalah keputusan untuk menjadi seorang pemenang. Dan, hanyalah Anda yang  dapat memutuskan untuk menang. Anda dapat menang pada saat orang lain kalah dan mernbubung tinggi pada saat orang lain tenggelam. Anda telah dipanggil untuk menjadi seorang pemenang! Dan saya ingin menantang Anda untuk menjadi seorang pemenang di dalam dunia yang penuh dengan orang yang mundur dan kalah.

Sifat pernbawaan Anda sejak lahir, keadaan-keadaan Anda, dan apa yang dikatakan oleh orang lain kepada Anda tidaklah menentukan apakah Anda akan menjadi seorang pemenang atau tidak.  Kemenangan merupakan suatu hal yang tergantung pada keputusan Anda. Sekarang ini Anda dapat menjadi salah seorang dari para pemenangnya Allah di dalam hidup ini, di dalam lingkungan Anda, tepat di mana Anda hidup.

Anda dapat menjadi seorang juara, seorang pejuang yang gagah berani, dan memperoleh keunggulan atas musuh-musuh yang akan menjatuhkan Anda. Anda dapat menjadi seorang penakluk dan bahkan lebih daripada seorang penakluk, yang mengatasi segala kekuatan yang menentang Anda dengan kemenangan yang gemilang. Anda dapat menjadi seorang pemenang!

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37).

 

 

 

 

 

 

 

23. KEBAIKAN YANG IKHLAS

 

Seorang mahasiswa dari sebuah universitas di Jakarta, kala itu sedang melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah pelosok. Suatu ketika ia merasa kepanasan, lalu mampir di suatu rumah untuk meminta minum. Bapak yang punya rumah tidak memberinya air putih, tetapi ia memberi segelas sapi, karena bapak itu mempunyai seekor sapi perah.

“Pak, saya cuma minta air,” kata mahasiswa itu.

Bapak itu lalu menjawab, “Nak, di sini aimya mentah, lebih baik minum saja air susu.”

Diminumnya air susu itu, lalu bertanya, “Berapa Pak?”

“Tidak perlu bayar, Bapak sudah ikhlas memberikan air susu itu kepadamu.”

Sebelum berpisah, mahasiswa itu mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan alamatnya di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian bapak tersebut, terkena penyakit kanker. la pun harus menjual sawahnya untuk biaya pengobatan. Oleh anak gadisnya ia lalu dibawa ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Ternyata biaya operasi, obat-obatan, dokter, semuanya berjumlah enam juta rupiah. Sedangkan hasil penjualan sawah belum mencukupinya.

Anak gadisnya menjadi gemetar ketika mengetahui jumlah yang harus dibayar. Lalu, ia meminta waktu untuk melunasi, tetapi petugas kasir menyuruhnya membaca sebuah keterangan di bagian bawahnya. Ketika dibaca, temyata sudah ada tanda lunas! Dan, dibawahnya lagi ada tulisan “harga segelas susu”. Ternyata dokter spesialis yang mengoperasinya itu adalah mahasiswa yang dahulu minum susu di rumahnya.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah’ (Galatia 6:9).

 

 

 

25. BERTERIMA KASIH

 

Almarhum Jenderal Harry C. Trexler, adalah sakah seorang warga terkemuka dan salah seorang terkaya di kota Allentown, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia pun seorang dermawan besar yang telah menyediakan biaya bagi kebutuhan empat puluh mahasiswa pada tahun 1933. Empat bulan sebelum meninggal dunia, ia memanggil sekretarisnya untuk menanyakan jumlah pemuda-pemudi yang telah dibiayai olehnya sampai tamat kuliah. Ketika mendapat penjelasan dari sekretarisnya, ia kebingungan bercampur sedih. Lalu katanya, “Hari Natal yang lalu aku hanya menerima satu atau dua kartu Natal dari mereka.”

Mengucapkan terima kasih, merupakan pekerjaan yang ringan. Tetapi, justru karena itu, sering terlupakan, baik itu kepada sesama maupun kepada Tuhan yang telah berkorban bagi kita.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri…dan tidak tahu berterima kasih….” (2Timotius 3:2).

 

 

26. TIDAK SEORANG PUN

 

Bertahun-tahun yang lampau terjadi sebuah kecelakaan kapal di danau Michigan, Amerika Serikat. Seorang mahasiswa Universitas Northwestern yang  juga adalah seorang perenang yang sangat kuat, pada waktu itu dapat menolong dua puluh tiga orang, sebelum ia akhirnya jatuh pingsan.

Beberapa tahun sesudah itu, di Los Angeles, R.A. Torrey menceritakan tentang keberanian dan kasih pengorbanan seorang pahlawan yang telah menjadi penolong dalam kecelakaan kapal itu. Betapa terkejutnya Dr. Torrey, karena sang penolong itu ada di antara orang-orang yang hadir, tetapi kini ia sudah agak tua.

Dalam percakapan dengan orang itu, Dr. Torrey bertanya kepadanya tentang hal-hal yang tidak bisa dilupakan dari peristiwa itu. Ternyata ada satu hal yang tetap terukir dalam ingatannya setelah bertahun-tahun kejadian itu berlalu. Namun, masalah itu membuat ia menundukkan mukanya, dan dengan suara yang lemah ia berkata, “Tidak ada seorang pun dari antara mereka itu yang mengucapkan terima kasih.”

Tidak hanya manusia, Tuhan pun kecewa jika kita sebagai umat-Nya tidak tahu mengucap syukur. Bukankah Tuhan Yesus juga kecewa karena hanya satu orang yang mengucap syukur dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan?

“Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-­perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak­-anak manusia” (Mazmur 107:8).

 

 

 

30. MEMBERI DENGAN SUKACITA

 

Rockefeller, pada usia 60 tahun menderita kanker di perutnya, dan dokter berkata bahwa tiga bulan lagi ia akan meninggal dunia. Ia lalu berkata, “Buat apa kekayaanku yang bermiliar-miliar, dan buat apa rumah-rumahku yang mewah.” Lalu, ia datang kepada Tuhan dan berjanji, “Tuhan, dahulu saya hanya mencari uang, tetapi sekarang saya mau memberi.” Kemudian, ia mulai membangun rumah sakit Kristen, memberikan uangnya kepada hamba­-hamba Tuhan yang pergi menginjil di Afrika, dan mengirim utusan-utusan Injil. Ia berkata bahwa sebelum meninggal dunia, ia mau memberi dahulu supaya dapat meninggalkan hal-hal yang baik. Tetapi, setelah 3 bulan ia tetap hidup, justru malah ia merasa semakin sehat. Lalu, ia pergi memeriksakan diri pada dokter, dan dokter berkata bahwa kanker itu telah lenyap. Puji Tuhan, ia sembuh bukan karena didoakan oleh pendeta, melainkan karena memberi. Dari mana datangnya kanker? Dari sifat yang kikir. Dari mana datangnya kesembuhan? Dari suka memberi.

Memberi bukanlah berarti hanya dalam bentuk uang. Banyak orang yang salah paham, dan jika ada seorang pendeta yang berkhotbah mengenai memberi dikatakan ia mata duitan. Memberi tidak hanya berarti memberi uang, tetapi juga bisa berupa kasih, perhatian, waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya.

Martin Luther berkata, “Bertobat itu artinya per­tama-tama membuka hati, kemudian membuka dompet.”

Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35).

 

 

 

32. HUKUM MENABUR DAN MENUAI

 

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berada di tengah hutan, dan tiba-tiba ia mendengar jerit meminta tolong. Lalu, dilihatnya ada seorang pemuda sebaya dengannya sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin ia bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi kemudian berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pertolongannya, dan dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama lalu memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya. Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah…. Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan. Sejak kejadian itu lalu mereka menjalin persahabatan. Si pemuda pertama adalah seorang anak yang miskin, sedangkan si pemuda kedua adalah seorang bangsawan yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi, ada seorang yang bermurah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. Ia memberinya beasiswa sampai ia akhirnya meraih gelar dokter. Tahukah saudara nama pemuda miskin yang kemudian menjadi seorang dokter ini? Nama­nya adalah Fleming, yang kemudian menemukan obat penisilin.

Si pemuda bangsawan kemudian masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter lalu mendengar tentang penisilin penemuan Dr. Fleming dan kemudian mereka menyuntiknya dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu mereda dan si pemuda akhirnya sembuh!! Tahukah Saudara siapa nama pemuda ini?

Namanya adalah Winston Churchill – Perdana Menteri Inggris yang termasyhur itu.

Dalam kisah ini kita dapat melihat adanya, hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan – ia menuai kebaikan pula – cita-citanya terkabul, dan ia menjadi seorang dokter. Fleming lalu menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churchill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan oleh ayah Churchill?

“Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7b).

 

 

 

35. MENJADI BARU

 

Pada masa mudanya, teolog Augustinus terkenal sebagai seorang pemuda berandalan, pemabuk, dan bejat moralnya. Kemudian, ia bertobat dengan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan di dermaga, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang dengan genit menyapa dan menariknya sambil berkata, “Augustinus, mari mampir!” Setelah

diperhatikan, baru diketahui bahwa wanita tersebut adalah penghuni rumah bordil yang dahulu sering dikunjunginya.

Dengan tenang Augustinus lalu mengebas lengan bajunya untuk melepaskan diri dari tarikan wanita itu. Dan, dengan tidak kalah tenangnya, menjawab ajakan wanita cantik itu dengan mengatakan, “Aku bukan Augustinus!” Dengan terheran-heran wanita itu lalu berkata, “Kalau kau bukan Augustinus, lalu siapa kamu ini?”

Dengan mantap Augustinus menjawab, “Augustinus yang kamu kenal dahulu itu sudah mati! Sekarang yang berdiri di depanmu bukan Augustinus, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.” Setelah ia meninggalkan wanita yang berdiri terbengong-bengong dengan seribu pertanyaan dalam hati.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” Korintus 5:17).

 

 

 

43. HIDUP DI DALAM DOSA

 

Leonardo da Vinci adalah seorang pelukis termasyhur di seluruh dunia. Salah satu karya terbaiknya ialah lukisan Monalisa, yang memancarkan suatu senyuman yang misterius. Pada suatu hari, Leonardo berniat melukis sebuah karya besar, yang meng­gambarkan Tuhan Yesus dengan kedua belas murid-Nya pada Perjamuan Malam yang terakhir. Untuk lukisannya itu ia memerlukan dua model yang khusus: pertama ialah model untuk Tuhan Yesus, dan kedua ialah model untuk Yudas. Model untuk Tuhan Yesus dapat dijumpainya yaitu seorang pria yang benar-benar cocok dengan konsepnya mengenai Tuhan Yesus: seorang yang lemah-lembut dan penuh kasih. Setelah melukis Tuhan Yesus dengan 11 orang murid-Nya, mulailah ia mencari orang yang cocok untuk model Yudas. Temyata mencari orang yang cocok untuk memerankan Yudas tidak semudah yang ia duga. Ia telah keluar masuk penjara untuk memperhatikan wajah-wajah para narapidana, tukang-tukang copet, bajingan-bajingan, dan para pemeras yang biasa berkeliaran di jalanan. Tetapi, lum juga ia menjumpai orang yang cocok.

Pencarian ini berlangsung sampai 3 tahun, sampai akhirnya ia menjumpai seorang pengemis yang du­duk dekat sebuah selokan. Pengemis ini tampang­ya licik, dan ini kelihatan dari sorot matanya. Ia merasa, orang inilah yang cocok untuk dijadikan model Yudas, dan ia segera menawarkan pekerjaan

untuk dilukis sebagai model Yudas. Ketika mulai dilukis, pengemis itu menangis tersedu-sedu, sehingga ia

menjadi heran dan bertanya mengapa ia menangis. Pengemis itu menjawab, “Tuan, apakah tuan sudah lupa kepada saya? Tiga tahun yang lalu saya juga pernah duduk di sini sebagai model Tuan!” Ia lalu mengamat-amati orang itu dengan saksama, dan akhimya ia ingat bahwa memang benar dahulu ia pernah memakai orang itu sebagai model Tuhan Yesus! Orang itu kemudian melanjutkan, “Dalam waktu 3 tahun, hidup saya demikian jauh terperosok ke dalam dosa dan kejahatan sehingga akhirnya saya menjadi seperti sekarang ini!”

Leonardo da Vinci sudah lama meninggal dunia, tetapi kisah ini dapat pula terjadi pada masa kini dalam versi yang berbeda. Jangankan tiga tahun … satu tahun, bahkan satu bulan pun dapat mengubah manusia! Dari orang yang hidupnya saleh dan baik, oleh karena dosa, dapat berubah menjadi manusia yang hina dan kotor.

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perba­haruilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12).

 

 

 

 

 

58. LAUTAN DI DALAM SEBUAH LUBANG

 

            Pada suatu hari, Augustinus, Bapak Gereja yang terkenal, sedang berjalan-jalan di sebuah pantai. Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil yang sedang menggali sebuah lubang di pasir pantai itu. Ia menghampiri anak itu dan bertanya apa yang sedang diperbuatnya. Anak itu menjawab: “Tuan, tidakkah Engkau lihat aku sedang menggali sebuah lubang?” Augustinus kemudian melanjutkan pertanyaannya: “Apa maksudmu dengan menggali lubang seperti itu?” Anak itu dengan polosnya berkata: “Tuan, aku hendak mengosongkan laut itu, aku hendak memasukkan laut ke dalam lubang ini.”

Augustinus, tokoh Gereja yang sangat terkenal dan juga seorang filsuf yang besar, melanjutkan perjalanannya seraya berpikir: Anak kecil itu berpikir ia bisa mengosongkan laut dan memindahkannya ke dalam lubang kecil di pantai. Acap kali manusia juga berpikir dan berbuat seperti itu. Kita mencoba untuk memasukkan Allah yang tidak terbatas ke dalam otak kita yang besarnya hanya sekepalan tangan.

 

 

 

59. KACA

 

Apabila kita melihat melalui kaca berwarna merah, maka semua yang ada di balik kaca itu menjadi merah. Demikian juga jika kaca itu berwarna biru, semua menjadi biru. Jika kacanya kuning, semua tampak kuning, dan seterusnya.

Saat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat, Allah melihat orang itu lewat Tuhan Yesus yang suci tanpa noda dosa. Maka, dilihat dari sudut pandang Allah, kita sekalian menjadi orang-orang kudus (Saints). Kita menjadi kudus bukan karena kita tanpa noda dosa tapi kekudusan Kristuslah yang diberikan kepada kita.

Dalam 1 Korintus 1:1-2, Rasul Paulus menulis demikian: Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi Rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

 

 

 

JANGAN MENYEMBAH BERHALA

 

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari 3 orang, yaitu ayah, ibu dan seorang putra yang telah menginjak usia remaja. Ayah dan ibu anak itu adalah penyembah berhala, dan di rumahnya mereka mempunyai beberapa patung yang mereka sembah dengan sepenuh hati. Ada patung yang besar dan ada pula yang kecil ukurannya. Ada yang terbuat dari batu dan ada pula yang terbuat dari kayu. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka menjadi penyembah berhala. Tetapi sang anak mempunyai kepercayaan yang lain sekali dengan orangtuanya. Anak ini justru adalah seorang pengikut Tuhan Yesus yang setia! Seorang teman sekolahnya mengajak anak itu ke Sekolah Minggu dan sejak saat itu hatinya terbuka untuk Yesus dan la tidak mau lagi menyembah berhala-berhala yang dimiliki kedua orangtuanya. Tentu saja anak ini mendapat perlakuan kurang enak dari ayah dan ibunya yang tidak mau percaya kepada Yesus, tetapi anak itu tetap setia dan bertekun di dalam iman.

Pada suatu hari si ayah dan ibu hendak pergi menengok keluarganya di luar kota selama beberapa hari lamanya. Anak itu tidak ikut serta sebab sekolah tidak libur. Maka ia tinggal di rumah ditemani pembantu rumah tangganya. Sebelum mereka pergi, ayah dan ibunya berpesan: “Nak, kami akan ke luar kota beberapa hari lamanya. Tolonglah agar selama beberapa hari ini, kamu beri makan patung-patung sembahan kami. Awas ya… jangan lupa beri makan mereka supaya patung-patung itu merasa senang.” Setelah berpesan demikian, pergilah mereka ke luar kota.

Anak ini mulai berpikir, “Apakah yang akan kuperbuat? Memberi makan patung-patung? Bukankah ini sangat ber­tentangan dengan kepercayaanku kepada Tuhan Yesus yang jelas menentang segala macam bentuk penyembahan berhala?” la mulai berdoa untuk memohon hikmat dari Tuhan. Dua tiga hari dibiarkannya berlalu tanpa berbuat suatu apapun, sehingga akhirnya hari kedatangan ayah dan ibunya sudah di ambang pintu. Apa akal? Anak itu kemudian menyuruh pembantunya memasak nasi serta lauk-pauk. Lalu ia mengambil sebilah kapak dan dengan kapak itu ia menghancurkan semua patung yang berukuran kecil sampai remuk redam. Lalu ia menghampiri patung yang ukurannya paling besar dan melekatkan semua nasi dan lauk pauk yang ada itu ke bagian mulut patung tersebut. Akhirnya kapak itu diletakkan pada tangan si patung itu.

Tak lama kemudian ayah serta ibunya datang dari luar kota dan mereka menjadi sangat marah melihat keadaan yang sama sekali tidak diinginkannya. Anak itu dipanggil dan dimintai pertanggungan jawabnya: “Mengapa terjadi kehancuran yang demikian itu? Apa yang telah kau perbuat? Mengapa berhala­-berhalaku hancur semuanya kecuali satu yang paling besar itu?” Anak itu dengan tenang menjawab: “Ayah, aku telah mentaati perintah ayah untuk memberi makan berhala-berhala itu. Aku telah menyuruh pembantu rumah tangga kita untuk membuat makanan. Tetapi rupa-rupanya patung yang paling besar itu terlalu serakah sehingga ketika ia melihat makanan, ia lalu menghancurkan patung-patung yang lebih kecil dan merampasnya yang seharusnya menjadi bagian patung-patung kecil ,Ayah, coba lihat itu, bukankah mulut patung yang besar itu masih penuh dengan nasi? Itu bukti kerakusannya, bukan? Lihat pula kapak di tangannya, nah ayah, dengan kapak itulah ia menghancurkan patung-patung yang lebih kecil.” Ayahnya menjawab: “Ah… aku sama sekali tidak percaya kepada omonganmu itu. Masakan patung bisa menghancurkan sesama patung untuk merebut makanan. Itu hanya isapan jempol.

Si anak segera menjawab, “Ayah, Ayah mengetahui bahwa patung yang Ayah sembah itu tidak bisa makan dan tidak bisa minum, sebab mereka hanyalah buatan manusia yang mati. Lalu… kalau sudah tahu demikian, mengapa Ayah menyembahnya? Kalau berhala itu tidak bisa makan dan minum, mana mungkin mereka itu memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka yang menyembahnya?”

Kata-kata si anak itu benar-benar masuk ke dalam hati Ayah dan ibunya. Mereka mulai berpikir bahwa kata-kata itu 100% benar. Mulailah mereka melihat kesia-siaannya berbakti pada patung-patung yang mati, dan terbukalah hati mereka untuk kebenaran-kebenaran Firman Tuhan.

Sebuah perintah penting dalam dasa titah berbunyi sebagai berikut – “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adolah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku ” (Kel. 20:4-6).

 

 

 

 

YUDAS

 

 

Leonardo Da Vinci adalah seorang pelukis yang sangat terkenal. Salah satu karyanya yang sangat termashyur Monalisa, yang katanya mengandung suatu senyuman misterius. Pada suatu hari, Leonardo Da Vinci berniat melukis sebuah karya yang besar, yang menggambarkan Yesus dengan kedua belas murid-Nya pada Perjamuan Malam yang terakhir. Untuk lukisannya itu, ia memerlukan orang model yang khusus: Yang pertama model untuk Yesus, sedangkan yang:kedua ialah model untuk Yudas. Sebagai model untuk Tuhan Yesus, dijumpainya seorang pria menurut Da Vinci benar-benar cocok dengan konsepnya mengenai Tuhan Yesus: seorang yang lemah lembut dan penuh belas kasih. Setelah selesai melukis Tuhan Yesus dengan 11 orang murid-Nya, mulailah Da Vinci mencari orang yang cocok untuk memerankan tokoh Yudas. Ternyata mencari orang yang cocok untuk memerankan Yudas tidak semudah yang diduga. Leonardo Da Vinci terpaksa keluar masuk penjara untuk memperhatikan wajah-wajah para narapidana di sana, tetapi belum juga dijumpai orang yang cocok. Kemudian ia mulai memerhatikan wajah tukang-tukang copet, bajingan-bajingan dan para pemeras yang biasa berkeliaran di jalanan. Namun belum juga dijumpai orang yang sesuai dengan konsep Da Vinci tentang Yudas.

Demikianlah hal itu terus berlangsung sampai 3 tahun lamanya, sampai akhirnya ia menjumpai seorang pengemis yang duduk dekat sebuah selokan. Pengemis itu tampangnya benar-­benar licik, dan ini kelihatan dari sorot matanya yang demikian culas. Leonardo Da Vinci merasa, orang inilah yang cocok untuk dijadikan model Yudas, dan ia segera menawarkan pekerjaan untuk dilukis sebagai model Yudas. Ketika persiapan untuk melukis sedang diadakan, pengemis itu menangis tersedu­-sedu. Da Vinci menjadi heran dan bertanya apa sebabnya ia menangis demikian sedihnya. Pengemis itu menjawab: “Tuan, apakah tuan sudah lupa kepada saya? Tiga tahun yang lalu saya juga duduk di sini sebagai model tuan!” Da Vinci mengamati-­amati orang itu secara saksama, dan akhirnya ingat bahwa memang benar dahulu ia pernah mengambil orang itu sebagai model Tuhan Yesus! Orang itu kemudian melanjutkan: “Dalam waktu 3 tahun, hidupku demikian jauh terperosok ke dalam dosa dan kejahatan sehingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang ini! “.

Leonardo Da Vinci sudah lama meninggal, tetapi kisah ini dapat pula terjadi di masa kini dalam versi berbeda. Jangankan tiga tahun… satu tahun, atau bahkan satu bulan dapat mengubah manusia! Dari orang yang hidupnya saleh dan baik, oleh karena dosa, dapat menjadi manusia yang hina dan kotor.

Karena itu, taatilah Firman Tuhan dalam Efesus 4:27,

… janganlah beri kesempatan kepada iblis,” supaya hidup kita, senantiasa berada dalam keadaan berkenan di hadapan Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

MATINYA SUPERMAN

 

Friedrich Nietzsche (1844-1900) adalah seorang ahli filsafat yang sangat terkenal dengan pandangan-pandangannya yang hendak mendobrak segala norma manusia yang telah berlaku sejak lama. Dengan tegas ia menyatakan bahwa ia menolak hal-hal yang romantis, sebab itu berbau kekanak­-kanakan. la juga menolak nilai-nilai moral dan tidak mau tunduk kepada kaidah masyarakat. Dengan demikian, ia mengembangkan suatu ide tentang “SUPERMAN”, yaitu manusia yang ganas, kuat, mementingkan diri sendiri, meng­agungkan hawa nafsu dan tidak berperikemanusiaan. Orang­ yang tidak setuju dengan pandangan semacam itu dipandang sebagai golongan kelas budak, yang hanya pantas menjadi ­objek pemuasan nafsu kaum superman. Dengan filsafat semacam itu, ia memberi dasar untuk sikap hidup yang pada ke-XX bertumbuh secara pesat: seks bebas dan hidup mementingkan kenikmatan tubuh saja (hedonisme). Friedrich Nietzsche sendiri secara konsekuen mempraktikkan apa yang ia ajarkan dalam filsafatnya: la memusuhi agama secara terang‑terangan dan hidup sebagai “Superman” yang tak mau mengerti akan nilai-nilai moral yang berlaku di kalangan masyarakat. Tetapi, apakah dengan berbuat demikian la sudah benar-benar menjadi seorang manusia “super” yang tiada tandingannya? Kenyataan justru menunjukkan bahwa akibat dari hidupnya yang begitu liar, akhirnya ia mengalami kegilaan yang hebat. Tidak ada seorangpun yang sanggup mengobatinya. Pada suatu hari ia menghampiri sebuah piano dan memainkan piano itu dengan kedua belah sikunya seraya menyanyi menjerit-jerit tidak keruan. Lalu ia melihat seekor kuda tertambat di luar, dan Nietzsche, sang “superman” itu keluar serta memeluk dan menciumi kuda itu dengan mesranya. Demikianlah akhirnya, “superman” ini mati dalam kehinaan dan penderitaan.

Itulah tuaian yang dipetik seseorang yang menabur dalam hawa nafsunya. Nietzsche adalah alat setan yang meracuni jutaan jiwa manusia yang kemudian mengikuti jejaknya, sedangkan ia sendiri hancur kehidupannya. “Barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.” (Gal. 6:8).

 

 

 

 

PERBEDAANNYA

 

Pada suatu hari, bapak pendeta merasa perlu untuk mengunjungi salah seorang anggota jemaatnya. Ia adalah seorang Kristen yang kaya raya, tetapi hidup kerohaniannya makin hari kelihatan makin menurun, oleh karena yang ia perhatikan adalah harta, harta dan sekali lagi harta. Ia tidak berbeban sama sekali untuk membantu pelayanan pekerjaan Tuhan yang demikian luas. Baginya berbakti di gereja, memuji Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan seminggu sekali sudahlah cukup.

Ketika bapak pendeta dan  jutawan Kristen ini sedang ber­cakap-cakap, Tuhan memberikan suatu ilham kepada hamba­Nya yang setia itu. Pendeta itu mengajak sang jutawan berdiri di dekat jendela kaca yang terdapat di situ, dan ia bertanya: “Apakah yang engkau lihat?” Jutawan itu menjawab: “Saya melihat orang-orang yang hilir mudik di jalan yang sangat sibuk.””Ya benar,”Demikian kata pak pendeta, lalu ia mengajak jutawan itu mendekati sebuah cermin yang terdapat dalam ruangan itu seraya berkata, “Sekarang apakah yang engkau lihat?” jutawan itu menjawab: “Yang kulihat hanyalah diriku sendiri.” Pak pendeta yang bijaksana itu berkata: “Apakah engkau sadar bahwa baik jendela kaca maupun cermin itu dibuat dari bahan yang sama, yaitu gelas? Perbedaan di antara keduanya ialah – cermin itu dilapisi dengan perak, sehingga engkau tidak bisa melihat yang lain kecuali dirimu sendiri. Janganlah biarkan perak duniawi menghalangi pandanganmu kepada jutaan manusia yang memerlukan pertolongan kese­lamatan dari Tuhan!”

Amsal 11:28, “Siapa mempercayakan diri kepada keka­yaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.”

 

 

 

KEBOBROKAN MORAL

 

Pada bulan November 1996, Svensk Export Strategy, satu lembaga konsultan di Swedia, menerbitkan sebuah daftar yang dimaksudkan sebagai panduan para pengusaha yang banyak bepergian dari satu negara ke negara lainnya. Daftar ini sangat menarik untuk diperhatikan karena memuat situasi dan kondisi negara-negara di dunia diukur dari kebobrokan moral mereka.

Sebagai patokan mereka, lembaga tersebut memakai tujuh “dosa” modern yang bersifat mematikan. Ketujuh hal negatif itu adalah: rokok, minuman keras, obat-obatan, judi, makan berlebihan, kehidupan malam dan pelacuran. Hasil penelitian lembaga tersebut ialah sebagai berikut:

Pada urutan pertama ialah negara Spanyol. Pasca pemerintahan Jenderal Franco, wajah masyarakat Spanyol meng­alami perubahan total. Dahulu, di Spanyol orang tidur siang untuk menghindari teriknya sinar matahari, tetapi sekarang pola hidup mereka berubah. Mereka sekarang tidur larut malam sampai siang, karena malamnya asyik begadang menikmati kehidupan malam yang penuh dosa.

Urutan kedua negara paling bobrok diduduki oleh Perancis, karena di negara ini konsumsi alkohol menempati peringkat tertinggi. Amerika Serikat ada di urutan ketiga dan masalah paling pelik yang dihadapinya ialah pemakaian obat bius yang sudah hampir tidak bisa dikontrol lagi. Peringkat keempat ditempati oleh Inggris, dan kelima oleh negeri Belanda yang mempunyai masalah paling serius dengan pelacuran yang semakin merajalela.

Denmark ada pada urutan keenam dengan jumlah pe­rokok paling banyak, terutama di kalangan kaum wanita yang menyukai cerutu. Jerman ada pada posisi nomor tujuh, disusul Austria, Belgia, Italia, Swiss, Luxemburg dan Yunani. Portugal ada pada urutan ketujuh belas diikuti oleh Jepang, yang mempunyai  masalah dengan semakin meningkatnya orang yang merokok di negeri itu.

Alkitab sudah menubuatkan keadaan manusia pada akhir zaman ini semakin penuh dengan dosa dan kejahatan. Karena itu, 1 Yohanes 2:15-17 harus dipegang teguh oleh setiap anak Tuhan agar tidak terjerumus ke dalam lembah dosa.

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-­lamanya”

 (1 Yoh. 2:15-17).

 

 

DIEGO MARADONA

 

Nama Diego Maradona tentunya tidak asing bagi para pecandu sepak bola, karena ia adalah seorang pemain bola yang pada masa jayanya sukar dicari tandingannya.Namun,pada penghujung tahun 1996, superstar lapangan hijau ini bagaikan seekor ayam jago yang kalah bertarung. la kini kehilangan

semangat hidup. Kalau dahulu ia demikian bersemangat ingin mengukir prestasi abadi dalam karir sepak bolanya, kini ia bagaikan orang “mati” akibat kecanduan kokain yang sudah memengaruhi sistem kerja syaraf tubuhnya. Bahkan hasil pemeriksaan medis di Spanyol pernah menyatakan bahwa pahlawan Piala Dunia asal Argentina itu sewaktu-waktu dapat mati.

Dalam wawancara dengan jaringan televisi Argentina, Maradona yang memiliki banyak penggemar itu berkata, harapan untuk bangkit kembali kini sudah sirna dan tidak ada jalan keluar. Terkadang saya berpikir untuk bunuh diri saja, tetapi saya tidak mau melakukannya sebab saya masih mengasihi kedua anak saya.” Pernyataan Maradona itu membuat para penggemarnya terharu. Mereka tidak mengira sama sekali karier sepak bola Maradona yang demikian hebat harus berakhir dengan cara yang amat tragis seperti itu.

Sebenarnya waktu itu (tahun 1996), dalam usia 36 tahun, Maradona masih memiliki sisa-sisa kejayaannya sebagai pemain sepak bola kelas wahid. Ada sebuah klub dari Divisi l Liga jepang, yang mau mengontraknya untuk bermain di negeri Sakura itu. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, Maradona sudah tidak lagi mempunyai kekuatan untuk memelihara semangat juangnya. Itu semua karena keterikatannya dengan obat bius!

Tahun 1991, Maradona terkena hukuman berupa larangan bermain di arena sepak bola internasional selama 14 bulan, karena terbukti menggunakan kokain secara aktif. Di Italia, waktu ia bermain di sana, Maradona pernah pula dikenakan hukuman bersyarat selama 14 bulan oleh pengadilan Italia karena kasus serupa.

Ketika Maradona memperkuat Argentina di Piala Dunia tahun 1994 di USA, ia ketahuan menggunakan obat perangsa ephedrine, sehingga ia terpaksa segera diusir dari Amerika Serikat dan kemudian Federasi Sepak Bola Internasional menjatuhkan skorsing selama. 18 bulan kepadanya. Sungguh suatu akhir yang sangat tragis bagi seorang superstar seperti Maradona! Itu semua karena keterikatannya dengan obat bius yang sudah berlangsung lama.

 

 

 

 

CARA-CARA HIDUP SEHAT DAN PANJANG UMUR

 

Beberapa tahun lalu dua dokter bernama Dr. Breslow dan Dr. Belcock telah mengadakan penyelidikan terhadap 7.000 orang dengan tujuan untuk mengetahui bagaimanakah cara hidup yang sehat dan cara memperpanjang usia. Hasil penelitian mereka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Memiliki hidup sehat dan berusia panjang erat sekali kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan itu adalah:

  1. Makan tiga kali sehari pada waktu teratur, tanpa makan kudapan di antara ketiga jam makan tersebut.
  2. Membiasakan sarapan pagi.
  3. Berolahraga 2 sampai 3 kali seminggu.
  4. Tidur yang cukup antara 7 sampai 8 jam sehari.
  5. Tidak merokok.
  6.  Mempertahankan berat badan ideal, tidak terlampau gemuk dan juga tidak terlalu kurus, dan
  7. Tidak minum minuman yang mengandung alkohol.

Menurut Dr. Breslow dan Dr. Belcock, kalau seorang pria berusia. 45 tahun menaati 3 saja dari prinsip tersebut di atas, maka ia kemungkinan besar akan mendapat tambahan usia 21,6 tahun. Jadi bisa hidup terus sampai kurang lebih usia 67 tahun. Tetapi kalau ia ternyata ketat menaati ke-7 prinsip kesehatan tadi, harapan hidupnya ditambah dengan 33,1 tahun, sehingga usianya diperkirakan akan dapat mencapai usia 70 tahun. Bukan hanya usia yang panjang saja, demikian kata mereka. Kalau ada orang yang dengan patuh menaati ke-7 prinsip yang telah dikemukakan tadi, maka ia akan memiliki keadaan yang sama dengan orang yang berusia 30 tahun lebih muda, namun tidak mempraktekkan satu pun dari ke-7 prinsip ini.

Usaha mencegah proses penuaan memang patut dipuji. Namun, betapapun kerasnya manusia berusaha, hasil akhirnya tentu sudah dapat dipastikan, yaitu: maut. Rasul Paulus berkata, “Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23).

 

 

SELAMAT MALAM ATAU SELAMAT TINGGAL

 

Pada suatu hari, Pak Markus, seorang pedagang Kristen yang saleh mengalami kecelakaan parah. Mobilnya di­seruduk truk dan Pak Markus berada dalam keadaan kritis. Dokter di rumah sakit berpendapat bahwa Pak Markus hanya akan bertahan beberapa jam saja. Sebab itu, berkumpullah segenap keluarga di sekeliling swami dan ayah mereka tercinta. “Istriku yang kekasih,” demikian kata Pak Markus, “Engkau adalah wanita paling baik bagiku. Kita telah bersama-sama melalui masa-masa yang cerah maupun mendung. Acapkali aku melihat imanmu yang teguh kepada Tuhan, sehingga hal ini juga menguatkan diriku. Kini aku harus meninggalkanmu untuk sementara… kuucapkan selamat malam istriku yang manis… sampai jumpa lagi nanti di pagi surgawi yang indah.” Kemudian anak yang pertama, Maria, datang mendekat dan mencium ayahnya. Pak Markus berkata: “Aku sungguh tidak kecewa mempunyai anak sulung seperti engkau. Sejak kecil sampai dewasa dan berumah tangga, engkau telah menunjukkan perilaku yang tidak mengecewakan. Juga engkau selalu taat beribadah kepada Tuhan, sehingga engkau benar-benar men­jadi cahaya surgawi di dalam keluarga kita. Nah, Maria… kuucapkan selamat malam anakku yang tercinta…”

Sekarang datanglah anak yang kedua, mendekat serta mencium ayahnya untuk terakhir kalinya. Pak Markus berkata: “Wahai anakku Hendro … engkau juga tidak mengecewakan ayah yang telah membesarkanmu! Engkau mengasihi orangtua dan saudara-saudaramu, dan engkau juga aktif di gereja melayani Tuhan dengan penuh kesungguhan hati. Nah, anakku, kini ayah akan pulang ke surga… selamat malam sampai bertemu lagi!”

Kini tibalah giliran anak yang ketiga yang merupakan anak bungsu, yang terlibat dalam pergaulan yang tidak baik dan amat mengecewakan ayahnya. Pak Markus berkata: “Anakku Rudy… ketika engkau dilahirkan, sebenarnya aku sangat menaruh harapan agar engkau kelak akan menjadi orang yang beriman seperti saudara-saudaramu… tetapi rupa-rupanya engkau mengeraskan hatimu kepada panggilan Sang Juruselamat itu. Karena itu, tak bisa lain… pada saat yang terakhir seperti ini, aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal kepadamu.”

Rudy tidak dapat menerima kata-kata ayahnya begitu saja, ia berkata: “Ayah, mengapa ayah mengatakan selamat tinggal kepadaku, sedangkan kepada yang lain ayah mengatakan selamat malam?” Pak Markus menjawab: “Ya, sebab tadi aku sudah mengatakan bahwa engkau mengeraskan hati terhadap panggilan Yesus. Ibu dan kedua saudaramu sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka. Jadi, mereka semua pasti masuk ke dalam sorga, dan satu hari kelak aku akan bertemu lagi dengan mereka. Tetapi, engkau kelak akan masuk neraka, dan tentunya aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Jadi tak ada kata-kata yang pantas kuucapkan kecuali… selamat tinggal.” Mendengar kata-kata ayahnya ini Rudy bertelut di sisi tempat tidur ayahnya dan menangis: “Ayah, aku ingin pada suatu ketika dapat berkumpul kembali dengan ayah.” Pak Markus menjawab: “Kalau demikian, maukah kau  menerima Kristus sebagai Juruselamatmu?” Baiklah ayah, sekarang juga saya mau membuka hati untuk Yesus supaya la menjadi Juruselamat pribadiku,” demikian kata Rudy. Dengan tersenyum Pak Markus berkata: “Oh, syukurlah Rudy… kalau begitu aku juga harus mengatakan… selamat malam Rudy, anakku yang tercinta.” Tak berapa lama kemudian Pak Markus meninggal dunia, dan Rudy ternyata benar-benar bertobat, bahkan sekarang ini ia menjadi seorang pendeta!

Bagi orang percaya, kematian bukan suatu momok yang menakutkan, sebab kuasa maut itu sudah dikalahkan. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:54-55 berkata, “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

Dan dalam 2 Korintus 5:1 ditegaskan bahwa “Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”

 

 

 

PERTOLONGAN DATANG DARI ATAS

 

Seorang kepala suku Indian tiap hari selalu bersaksi betapa indah Yesus bagi hidupnya. Di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja, ia pasti menceritakan betapa besar kasih Yesus bagi dirinya. Teman-temannya heran melihat sikap kepala suku ini. Mereka bertanya: “Mengapa kau selalu membicarakan tentang Yesus, seolah tidak ada topik pembicaraan lain yang lebih menarik?” Kepala suku ini terdiam sejenak, lalu mengumpulkan rumput dan ranting-ranting po­hon yang ada di sekitarnya dan ia membuat sebuah lingkaran kecil. Kemudian di tengah-tengah lingkaran itu ia meletakkan seekor ulat. Teman-teman kepala suku ini bertambah heran melihat perbuatannya, namun mereka menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

Kepala suku itu lalu menyalakan api dan menyulut rumput dan ranting yang membentuk lingkaran itu. Dengan cepat api menyala dan ulat yang berada di tengah-tengahnya, menggeliat mencari jalan keluar dari panas yang membara itu. Namun, sia-­sia saja perbuatannya itu, karena sebentar lagi ulat itu akan hangus dimangsa api yang nyalanya semakin berkobar-kobar. Tetapi, apa yang terjadi ketika api semakin mendekati ulat itu. Ulat tersebut mengangkat kepalanya setinggi-tingginya. Kalau ia bisa bicara mungkin ia akan berkata: “Pertolonganku datang dari atas.” Maka dengan tenangnya kepala suku Indian itu menunduk dan mengulurkan jari telunjuknya kepada si ulat yang sedang mengangkat kepalanya itu. Dengan cepat ulat itu merapat di jari tangan si kepala suku dan keluar dengan selamat dari api yang menghanguskan itu.

Kepala suku Indian itu kemudian berkata, “Hai teman­-temanku, seperti itulah yang Tuhan Yesus telah lakukan buatku! Aku sebenarnya adalah orang berdosa yang terancam hukuman di api neraka yang kekal. Keadaanku benar-benar tidak berdaya, aku sudah terjebak jatuh ke dalam dosa, tetapi Tuhan Yesus datang dan la membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya mengangkat aku dari lembah dosa masuk ke dalam terang keselamatan-Nya yang mulia! Itulah sebabnya aku sangat bersyukur dan berterima kasih dan tak henti­-hentinya bersaksi dan. berbicara tentang Yesus, satu-satunya Juruselamatku.”

 

 

RAJIN BERIBADAH MEMBUAT BADAN MENJADI SEHAT

 

Sebuah studi ilmiah menunjukkan bahwa ketekunan seseorang dalam beribadah di gereja akan membawa dampak yang sangat positif, yaitu: kesehatan orang tersebut akan lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak pernah pergi ke gereja. Secara lengkap, inilah data-data yang diperoleh dari penelitian tersebut.

Penelitian selama 30 tahun menyatakan bahwa tekanan darah mereka yang setia menjadi pengunjung gereja lebih rendah dari mereka yang tidak pernah ke gereja.

Mereka yang aktif ke gereja secara teratur memiliki kemungkinan mengidap sakit jantung koroner 50 persen lebih kecil daripada mereka yang tidak pernah ke gereja.

Pemberitaan Firman di gereja yang menegaskan jemaat supaya tidak merokok, minum alkohol, menggunakan obat bius dan melakukan seks bebas – menghasilkan tingkat kesehatan yang baik sekali.

Doa-doa yang dinaikkan bagi jemaat ternyata amat berguna, untuk menetralisir “hormon-hormon stres”, sehingga mereka yang didoakan menjadi lebih tenang dan tidak mudah terkena stres. (Dari 1.004 angket yang disebarkan, ternyata 82% orang Amerika Serikat percaya bahwa ada kuasa yang besar di dalam doa).

 

 

PEMBUAT SABUN DAN PENDETA

 

Tuan X adalah seorang pemilik pabrik sabun mandi yang terkenal. Pada suatu hari ia bertemu dengan Pendeta Yohanes dalam sebuah acara di Balai Kota. Keduanya berbincang-bincang sejenak, namun pembicaraan akhirnya menjadi agak tegang sebab Tuan X berkata: “Berita Injil yang kau khotbahkan itu sama sekali tidak berguna. Buktinya sudah berapa lama engkau berkhotbah, di kota kita ini masih saja banyak orang yang berbuat jahat.”

Pendeta Yohanes terdiam sejenak dan berdoa dalam hatinya memohon hikmat dari Tuhan untuk memberikan jawaban yang tepat. Ketika ia sedang berdiam sejenak, seorang anak kecil lewat untuk mengambil bolanya di dekat kaki Pak Yohanes. Rupanya anak itu sedang asyik main sepak bola dengan teman-­temannya di lapangan yang becek dan berlumpur karena baru saja turun hujan. Pakaian dan tubuh anak itu kotor penuh dengan Lumpur. Melihat itu semua, timbullah ilham untuk memberikan jawaban kepada Tuan X. la berkata: “Saya lihat walaupun Anda sudah menghasilkan ribuan sabun di pabrik Anda, semua sabun itu tidak bermanfaat, buktinya masih ada anak yang badannya kotor penuh Lumpur.” Tuan X tersinggung mendengar jawaban Pak Pendeta, lalu ia menjawab: “Engkau tentunya tahu bahwa sabun hanya akan berfungsi dengan baik apabila dipakai untuk membersihkan badan waktu mandi.”

Pak Pendeta tersenyum, ia melanjutkan: “Demikian pula halnya dengan berita Injil yang aku khotbahkan. Injil itu hanya akan bekerja dengan efektif apabila orang mau membuka hati dan menerimanya dengan suka cita!” Pemilik pabrik sabun yang congkak itu terdiam seribu bahasa, ia tidak memiliki kata-kata lagi untuk mempermalukan Pak Pendeta!

 

 

TUGAS SEORANG PRAJURIT

 

Pada tahun 1852 sampai 1870, Prancis diperintah oleh Napoleon III. Pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya, meletus perang dahsyat antara Prancis dan Jerman. Banyak wilayah Prancis yang direbut dan diduduki pasukan Jerman. Dalam keadaan mendesak itu, Prancis mengambil tindakan cepat, yaitu mendaftar pemuda-pemudanya untuk dijadikan tentara sukarela.

MacMahon, komandan pasukan tempur bagian meriam menerima pendaftaran seorang sukarelawan cerdas dan rajin, Pierre namanya. Tanpa memakan waktu lama, Pierre sudah menjadi anggota pasukan inti pimpinan MacMahon. Pierre ternyata sangat pandai dalam menembakkan. meriam. Tiap kali menembak, sasaran yang dituju pasti hancur berantakan. Ia dikenal sebagai spesialis menembak dengan meriam dan menjadi prajurit kesayangan Komandan MacMahon.

Suatu hari, pasukan Perancis mengadakan pengintaian ke daerah. musuh. Komandan MacMahon yang selalu berada di dekat Pierre memberikan teropong. “Coba kau amati tempat di sebelah sana”, katanya seraya menunjuk ke suatu tempat di kejauhan. Pierre segera mengambil teropong itu. dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. “Apa yang kaulihat?” tanya MacMahon selanjutnya. “Saya melihat sebuah rumah, Komandan!” Jawab Pierre. MacMahon melanjutkan “Menurut keterangan yang kuperoleh, rumah itu dahulu milik orang Prancis, tetapi sekarang dijadikan markas tentara Jerman. Jadi, siapkan meriammu dan tembaklah rumah itu sampai hancur!”

Biasanya, begitu mendengar perintah dari atasan, Pierre segera melaksanakannya dengan baik. Tetapi kali ini tertegun agak lama … bibirnya terkatup, seolah tak mampu mengeluarkan kata-kata. Untunglah segera ia dapat menguasai dirinya, lalu menyiapkan meriamnya dan tak lama kemudian terdengarlah letusan meriam berkali-kali dan rumah yang diteroponginya tadi hancur berkeping-keping. Komandan MacMahon memuji tembakan Pierre itu. Melalui teropongnya, ia melihat tidak ada satu tembakan pun yang meleset. Semua mengenai sasaran dengan baik, rumah itu sekarang sudah rata dengan tanah.

Maka meluncurlah kata-kata pujian dari MacMahon, “Pierre, engkau sungguh hebat. Engkau adalah prajuritku yang  paling cakap.” Tetapi sang komandan terkejut karena ia melihat Pierre tertunduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu. Hai, mengapa engkau menangis? Bukankah seharusnya engkau gembira sebab markas musuh sudah dapat kita hancurkan, demikian tanya MacMahon dengan heran.

Masih dengan tersedu-sedu Pierre menjawab: “Komandan, tahukah engkau bahwa rumah yang saya tembak tadi ada rumahku sendiri? Dengan susah payah saya menyisihkan gaji saya sebagai prajurit untuk membangun rumah itu, tetapi sekarang rumah itu telah rata dengan tanah karena tembakanku sendiri.” MacMahon sangat terkejut mendengar penjelasan itu, tetapi hal itu sekaligus membuat Pierre menjadi prajurit yang istimewa. Sebagai prajurit, ia tahu tugas utamanya ialah menaati perintah komandan. Maka, walau sangat berat karena ia harus menghancurkan rumahnya sendiri, perintah itu dilaksanakannya dengan baik. Sebagai penghargaan kepada Pierre, pangkatnya dinaikkan dan diberi medali kehormatan.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketaatan adalah unsur yang sangat penting dalam iman Kristen. Yohanes 14:21 ber­bunyi sebagai berikut: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” bukti bahwa kita mengasihi Tuhan ialah ketaatan. Orang Kristen akan memancarkan terangnya di dunia ini, tetapi tanpa ketaatan, orang Kristen hanya akan menjadi cemohan saja.

 

 

EMPAT PULUH PRAJURIT SETIA

 

Pada waktu Kaisar Nero memerintah kerajaan Roma, ada sekelompok prajurit elit pendukung Kaisar yang diberi nama “Para Pembela Kaisar”. Mereka adalah orang-orang pilihan yang gagah perkasa dan diberi pengarahan untuk senantiasa membela dan mendukung kaisar Roma yang berkuasa. Pasukan ini sangat terkenal karena keperkasaan dan jugs kesetiaannya kepada kaisar. Di medan pertempuran terlihat bahwa pasukan elit ini selalu bertempur dengan penuh keberanian, lebih dari prajurit-prajurit yang lain.

Pada suatu hari sampailah berita ke telinga kaisar Nero bahwa banyak anggota pasukan khusus ini menjadi orang Kristen. Maka, ia segera mengeluarkan sebuah perintah kepada Vespasianus, komandan pasukan elit tersebut untuk menghukum mati anggotanya yang menjadi Kristen.

Vespasianus merasa sedih sekali menerima perintah ini, sebab ia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan anak buahnya. Dengan hati berat ia mengumpulkan pasukannya disebuah tanah lapang di tepi danau yang membeku di musim dingin, dan bertanya siapa saja di antara mereka yang sudah menjadi orang Kristen.

Ternyata ada empat puluh prajurit dengan gagah berani maju ke depan dan menyatakan dirinya sebagai orang Kristen. Vespasianus terkejut melihat jumlah yang cukup banyak itu, lalu ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk segera menyangkal iman mereka dan kembali kepada penyembahan berhala yang dianut orang-orang Roma. Tetapi tidak ada seorang pun yang mau menyangkali iman mereka kepada Kristus.

Melihat kenyataan itu, Vespasianus berkata: “Perintah sang kaisar harus ditaati, yang mengaku Kristen harus dihukum mati. Tetapi aku ingin tidak ada setetes darah pun tertumpah di tempat ini. Jadi, sekarang aku perintahkan kepadamu bagi yang tetap ingin menjadi orang Kristen untuk membuka pakaiannya dan berjalan ke tengah danau yang membeku ini dan tetap berada di situ sepanjang malam. Tetapi siapa di antara kamu yang mau menyangkali imanmu, boleh segera datang ke tepi danau ini di mana teman-temanmu menunggu di tengah kehangatan api yang menyala dan makanan yang lezat. Siapa yang bertahan kepada imannya, harus tetap berdiri di tengah danau yang membeku itu!”

Demikianlah empat puluh prajurit itu dengan setengah telanjang berjalan ke tengah danau yang membeku sambil menyanyikan pujian rohani: “Empat puluh prajurit, berjuang bagi-Mu, ya Kristus, untuk meraih kemenangan yaitu mahkota kehidupan bagi kemuliaan-Mu!” Empat puluh prajurit itu terus menyanyi berjam-jam lamanya di tengah cuaca yang dingin membeku, sedangkan teman-temannya menyaksikan semuanya itu di tepi danau.

Makin lama suara nyanyian itu makin melemah seiring ber­lalunya waktu dan semakin dinginnya cuaca yang membeku di tengah malam. Menjelang pagi hari, seorang dari empat puluh prajurit itu merasa tidak tahan menjalani siksaan itu dan berjalan dengan susah payah ke tepi danau. Ia sudah menyangkali imannya dan meninggalkan tiga puluh sembilan temannya yang sedang berusaha untuk bertahan sampai ke akhir hayat mereka.

Vespasianus melihat prajurit yang seorang ini mendekati api yang menyala untuk menghangatkan badannya. Namun, ketika melihat ke tengah danau, ia melihat bukan hanya 39 prajurit yang sedang hampir mati karena kedinginan sepanjang malam tanpa pakaian dan makanan, ia juga melihat sebuah pemandangan luar biasa! Ia melihat pasukan malaikat berada di atas prajurit-prajurit yang setia itu dengan membawa mahkota gemerlapan, siap untuk dipakaikan kepada tiga puluh sembilan prajurit yang setia itu!

Dengan tidak ragu sedikit pun, Vespasianus melangkahkan kakinya ke tengah danau seraya menanggalkan pakaiannya dan bergabung dengan 39 prajuritnya. Melihat hal ini ke-39 prajurit itu kembali timbul semangatnya dan dengan sisa-sisa kekuatannya mereka menyanyikan pujian: “Empat puluh prajurit, berjuang bagi-Mu, ya Kristus, untuk meraih kemenangan yaitu mahkota kehidupan bagi kemuliaan-Mu, ya Kristus!”

Demikianlah akhirnya empat puluh prajurit itu mati sebagai martir. Mereka telah terbukti setia sampai mati dan sesuai janji Tuhan Yesus mereka menerima mahkota kehidupan (Why. 2:10).

 

 

DIOGENES

 

Pada zaman dahulu di Yunani hidup seorang ahli filsafat bernama Diogenes. Ia memang tidak sehebat Socrates atau Aristoteles, tetapi ia mempunyai ciri khas sendiri. Diogenes adalah seorang yang sangat mencintai kejujuran.

Pada suatu siang yang panas terik, ia berkeliling dengan membawa lentera. Ketika orang-orang yang terheran-heran menanyakan maksudnya membawa lentera di tengah hari, ia menjawab: “Aku sedang mencari-cari orang yang jujur di kota ini dan sampai sekarang belum juga kujumpai itu.” Diogenes meneliti hidup manusia dengan cermat ia sampai pada satu kesimpulan, yaitu: semua penderitaan manusia disebabkan karena hati manusia selalu ingin memiliki sesuatu. Sudah punya rumah, tidak puas… ingin rumah lebih bagus. Sudah punya istri, tidak puas… ingin istri lain yang lebih cantik dan lain sebagainya. Karena. itu, Diogenes menyimpulkan, kalau manusia sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi, maka ia akan tenang hidupnya. Diogenes tidak hanya berteori, tetapi ia sendiri melakukan itu dengan konsekuen. Ia meninggalkan rumahnya tanpa membawa bekal apapun. Ia hendak hidup seperti seekor anjing… tidak ingin makanan yang enak, rumah yang baik, pakaian yang bagus. Diogenes hanya membawa selimut dan tongkat serta mangkok untuk mengemis. Tidurnya hanyalah di emper-emper rumah orang dan makanannya diperoleh dengan cara mengemis.

Namun, apakah dengan mematikan semua keinginan hati, manusia dapat memperoleh hidup yang tenang? Menekan segala keinginan hati akan menimbulkan persoalan yang lain lagi. Selama orang belum bertemu dengan Yesus Kristus, tidak akan ada kepuasan yang sejati. Damai sentosa serta kepuasan yang sejati hanyalah ada pada Yesus Kristus (Mat. 11:28)

 

 

 

 

MENENTANG PERSEPULUHAN

Orang yang menentang persembahan persepuluhan, sebe­narnya telah terjerumus ke dalam 5 kesalahan:

Ia dengan sombong menyatakan ia memiliki pengetahuan yang lebih dari Allah mengenai kehidupan. Ketika Allah memerintahkan persepuluhan, la sebenarnya merencanakan keberhasilan manusia juga. Namun, orang yang menentang persepuluhan menghina Allah dan menyatakan bahwa: “Aku lebih tahu ketimbang Allah mengenai hal mengatur uang.”

Ia dengan kurang ajar berani mengatakan bahwa Alkitab itu bohong, atau Allah itu pendusta. Padahal Allah tidak mungkin menempatkan ayat yang keliru dalam Kitab Suci-Nya. Kalau Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menuliskan tentang persepuluhan, maka itu tentu benar adanya.

Ia dengan pongah mengatakan bahwa ia tidak mau me­naklukkan diri di bawah kuasa Allah. Perpuluhan merupakan suatu pengakuan akan kuasa Allah dalam hidup manusia. Apa­bila seseorang tidak mau memberikan persepuluhannya, maka orang itu juga tidak begitu peduli untuk menaati perintah-­perintah Allah lainnya.

Ia dengan jelas tidak mengasihi Kristus, sebab Kristus dengan tegas berkata: “Apabila engkau mengasihi Aku, taatilah perintah-perintahKu. ” (Yoh. 14:15)

Ia sebenarnya adalah seorang pencuri dan perampok. Allah berfirman: “Kamu menipu Aku,” (Mal. 3:8). Namun pada hakekatnya, orang yang tidak memberikan persepuluhannya, merampok dirinya sendiri, sebab menurut Lukas 6:38, dengan takaran orang menakar, dengan takaran itu juga ia akan ditakar oleh Tuhan.

Keserakahan acapkali membuat orang Kristen berdalih untuk tidak memberikan persembahan persepuluhannya. Alangkah bahagianya orang yang mau dengan penuh kerendah­hatian menaati Tuhan dalam hal perpuluhan ini, sehingga ia dapat menerima berkat rohani dan jasmani sekaligus!

Maleakhi 3:10-12 menyatakan, “Bawalah seluruh persem­bahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta Alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepa­damu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah . bagimu, firman TUHAN Semesta Alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam. “

 

 

PENGUKUR KEROHANIAN ANDA

Untuk mengukur tekanan udara dipakai alai barometer. Untuk mengetahui temperatur dipakai termometer. Untuk mengukur kecepatan kendaraan dipakai spedometer. Untuk mengetahui sampai di mana tingkat kerohanian sese­orang, dapat dipakai beberapa pertanyaan di bawah ini, yang mana yang lebih merisaukan Anda?

Satu jiwa terhilang di neraka, atau mobil Anda yang barn tergores becak?

Anda kehilangan satu saat indah untuk kebaktian, atau kehilangan satu hari kerja?

Gereja Anda tidak bertumbuh, atau bunga mawar di tangan Anda tidak bertumbuh?

Alkitab Anda tidak pernah dibuka, atau harian pagi yang tak sempat dibaca?

Tak dapat mengunjungi pemahaman Alkitab, atau tak dapat melihat acara kesukaan Anda di TV?       Pekerjaan Tuhan terbengkalai, atau pekerjaan di rumah Anda terbengkalai?

Jutaan orang yang belum pernah mendengar nama Kristus, atau tetangga Anda yang kelihatannya kurang bersahabat?

Jeritan jutaan orang yang kelaparan di Afrika, atau keinginan Anda untuk makanan yang lebih tinggi kadar gizinya?

Persepuluhan Anda berkurang, atau penghasilan Anda berkurang?

Anak-anak Anda terlambat datang ke Sekolah Minggu, atau anak-anak Anda terlambat masuk sekolah?

Jawablah dengan sejujurnya!

Roma 2:16 menyatakan dengan tegas, “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.”

 

 

RAHASIA PERTUMBUHAN JEMAAT DI CINA

Menurut perkiraan, ada kira-kira 50 juta orang Kristen di Cina, 50 kali lipat lebih banyak dari yang ada di tahun 1949. Apakah yang menyebabkan pertumbuhan yang luar biasa di tengah kesukaran dan aniaya ini? Dari analisa kami berdasarkan pelbagai wawancara, kami melihat paling sedikit 7 alasan mengapa gereja di Cina telah bertumbuh begitu pesat.

  1. 1.     Kesetiaan

Kesetiaan kepada Tuhan dari pihak pendeta-pendeta telah memberikan teladan kepada anggota jemaat dan menghasilkan, kesetiaan. dalam jemaat. Setelah 10 atau 20 tahun dalam penjara, pendeta-pendeta ini keluar dengan iman yang dimurnikan dan dikuatkan. Ini membuat mereka lebih terpandang clan diyakini oleh orang-orang percaya.

  1. Pengorbanan

Orang percaya di Cina rela membayar harga. pemuridan. Mereka rela menerima penderitaan seiring dengan iman mereka dalam Kristus. Tidak ada hal-hal materiil yang hendak mereka capai dengan percaya kepada Yesus selama ini. Sebaliknya, seseorang harus siap untuk mengalami banyak penderitaan dengan menjadi orang Kristen. Mereka yang bertahan dalam ujian ini menjadi orang-orang Kristen yang lebih kuat.

  1. 3.     Keberanian

Pendeta-pendeta di Cina memberitakan Firman Tuhan, dalam waktu yang baik atau tidak baik. Mereka setiap hari menanggung risiko penahanan, dipukuli dan dipenjarakan saat memasuki daerah-daerah serta propinsi-propinsi guna memberitakan Injil. Meskipun ada 10 larangan dan larangan­larangan lain dari pemerintah, mereka tanpa kenal takut mem­beritakan firman Allah ke berbagai tempat. Bagi mereka, “menaati Allah dan bukan manusia” merupakan aturan tertinggi dari kaidah hidup mereka.

  1. 4.     Kehidupan Tubuh

Para orang beriman di Cina sungguh-sungguh mempraktik­kan pelayanan tubuh. Hal ini sering kali diperlukan karena adanya kebutuhan nafkah saudaranya seiman. Contoh: apabila seorang pendeta ditahan dan istri serta anaknya ditinggalkan tanpa makanan dan perbekalan. Orang-orang percaya di Cina telah belajar mengembangkan karunia rohani dengan membantu satu sama lain secara nyata untuk tubuh Kristus.

  1. 5.     Disiplin

Gereja di Cina cukup rajin membersihkan unsur-unsur berbahaya yang dapat mematikan tubuh. Baru-barn ini kami ketahui bahwa dalam sidang pimpinan daerah gereja rumah, 7 pezina dan 8 penganjur klenik yang menolak untuk bertobat telah dikucilkan. Untuk memiliki kekuatan rohani secara khusus dari Allah, gereja Cina mengetahui bahwa gereja harus tetap tidak tercela di hadapan-Nya.

  1. Doa

Gereja di Cina telah bertumbuh sebab mereka menopang kehidupan dan pekerjaan mereka dengan doa yang tidak berkeputusan. Banyak gereja melakukan pertemuan doa setiap malam dari jam 20.00 sampai jam 23.00. Acara keseluruhannya meliputi doa terus-menerus dengan diselingi puji-pujian, khotbah, dan kata-kata untuk pembangunan rohani jemaat.

  1. Ketaatan

Gereja di Cina bertumbuh karena orang-orang beriman di sana taat akan panggilan Amanat Agung. Gereja-gereja rumah (KPK) di banyak daerah di Cina mengirimkan tim utusan Injil ke propinsi-propinsi tetangga untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat. Mereka juga membantu gereja-gereja lemah di tempat-tempat yang jauh.

Karena peranan pekerjaan yang setia dari orang-orang beriman di atas, Tuhan bukan saja telah memperkuat iman mereka, tetapi juga membuktikan proklamasi Injil itu dengan mukjizat-mukjizat. Hal ini menambah keberanian mereka dan sebaliknya membangkitkan perasaan takut di kalangan orang-­orang yang menganiaya mereka.

 

 

CINTA PERSAUDARAAN

 

Dua orang kakak-beradik mengelola bersama-sama ladang pertanian keluarga. Yang satu belum berkelu­arga. Lainnya sudah berkeluarga dengan beberapa anak. Mereka membagi sama besar segala keuntungan yang diperoleh dari usaha pertanian itu. Pada suatu hari, seorang yang belum berkeluarga berkata, “Memang baik membagi sama besar segala keuntungan, tapi saga ma­sih sendiri sehingga kebutuhan hidupku tidak banyak. Kasihan saudaraku itu, sudah mempunyai istri dengan banyak anak.”

Pada tengah malam, ia mengambil sekarung gan­dum dari gudangnya. la melintasi ladangnya yang ter­letak di antara rumahnya dan saudaranya, lalu meletak­an sekarung gandum itu ke dalam gudang saudaranya.

Sementara itu, tanpa diketahui olehnya, saudaranya mempunyai pikiran yang sama. la berkata kepada diri­nya sendiri, “Kiranya tak benar bila kami membagi ke­untungan sama besar. Saya sudah berkeluarga. Punya istri yang bisa memelihara aku, dan anak-anakku. Mere­ka akan mengurusi hidupku kelak.” Maka, pada tengah malam, ia mengambil sekarung gandum dari gudang­nya dan pergi sembunyi-sembunyi melintasi ladang me­reka untuk memasukkannya ke gudang saudaranya.       Selama bertahun-tahun, kedua orang bersaudara itu bingung. Mengapa persediaan gandum di gudang­nya tidak berkurang. Pada suatu malam, terjadilah peris­tiwa bahwa keduanya pergi ke gudang satu sama lain pada saat yang sama. Dalam kegelapan malam, mereka yang membawa sekarung gandum itu saling menyadari apa yang telah terjadi selama ini. Mereka meletakkan gandumnya dan saling merangkul.

Tiba-tiba ada sinar di langit yang gelap dan ada suara dari surga, “Di sinilah tempat di mana Aku akan membangun rumah-Ku. Karena di mana orang-orang berjumpa dalam cinta, di situlah Aku hadir.”

 

 

 

14. SEEKOR SAPI DAN BABI

 

Seorang kaya bertanya kepada pastornya, “Pastor, mengapa orang menyebut saya pelit sementara mereka semua tahu bahwa jika aku mati nanti, aku akan mewa­riskan semua yang aku miliki pada gereja?”

Pastor itu menjawab, “Saya akan ceritakan padamu sebuah perumpamaan tentang seekor babi dan seekor sapi. Babi termasuk binatang yang kurang disukai orang, sedangkan sapi disayangi banyak orang. Hal ini membuat si babi bingung, ia berkata kepada sapi, ‘Orang selalu memuji badanmu yang bagus dan matamu yang bening.’ Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab tiap hari kau memberi mereka susu dan krim.Tapi bagaimana dengan aku? Aku telah memberikan semua yang kumiliki kepada mereka. Aku telah memberi mereka daging panggang dan ham. Aku telah menyediakan bulu-bulu untuk membuat sikat, bahkan mereka telah mencincang kakiku, tapi kenapa tak seorang pun menyukai aku, mengapa demikian?” “Tahukah kamu apa jawaban si sapi?” tanya pastor itu kepada orang kaya. “Sapi itu mengatakan demikian, ‘Barangkali karena saya memberikan apa yang saya miliki ketika saya masih hidup.

 

 

15. DUA PULUH ENAM PENJAGA

 

Seorang misionaris bercerita demikian, “Ketika me­layani di sebuah rumah sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu sekali saya mengendarai sepeda melewati hutan menuju ke kota terdekat untuk mensuplai barang-ba­rang kebutuhan. Ini adalah perjalanan dua hari yang membutuhkan waktu semalam berkemah di tengah per­jalanan.”

“Pada suatu kali perjalanan, saya tiba di kota di mana saya merencanakan untuk pergi ke sebuah bank, dan membeli obat-obatan dan barang-barang keperluan dan kemudian memulai dua hari lagi perjalanan kembali ke rumah sakit. Ketika tiba di kota itu, saya menemukan dua orang yang sedang berkelahi. Seorang di antaranya mengalami luka yang sangat serius. Saya mengobati lukanya dan secara bersamaan juga menceritakan tentang Tuhan kepadanya. Kemudian saya pun menempuh perjalanan dua hari. Berkemah semalam dan tiba di rumah tanpa ada kejadian buruk. Dua minggu kemu­dian saya kembali mengulang perjalanan saya. Ketika tiba di kota, saya didekati oleh pemuda yang saya obati itu. Dia mengatakan bahwa ketika dia telah mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Katanya, ‘Saya dan beberapa teman mengikutimu ke dalam hu­tan, dan begitu tabu bahwa kamu akan berkemah dihutan, kami berusaha untuk merampokmu. Tapi kami mengurungkan niat begitu melihat ada dua puluh enam orang penjagamu.’ Pada saat itu saya tertawa dan ber­kata bahwa saya sendirian di tempat kemah di hutan itu. Pemuda itu bersikeras dan berkata, ‘Tidak Tuan, bukan hanya saya yang melihat penjaga-penjagamu dan kami semua telah menghitungnya. Jumlahnya ada dua puluh enam. Oleh karena penjagamu itulah kami keta­kutan dan meninggalkanmu sendirian.”‘

Ketika khotbahnya sampai pada cerita ini, seorang jemaat pria berdiri dan menginterupsi misionaris ter­sebut dan bertanya kapan tepatnya kejadian itu kepada jemaat, dan pria yang menginterupsi tadi mengatakan cerita ini. “Pada malam di mana insidenmu terjadi di Afrika, di sini masih pagi dan saya sedang bersiap-siap untuk bermain golf. Saya baru saja hendak memukul bola ketika saya merasa sangat perlu berdoa untukmu. Bahkan, hasrat itu sedemikian kuatnya sehingga saya memanggil jemaat untuk bertemu di gereja ini untuk mendoakan kamu. Bolehkah semua orang yang berdoa bersama saya pada hari itu berdiri?” Semua orang yang berkumpul untuk mendoakan pada hari itu berdiri. Mi­sionaris itu tidak mempedulikan siapa saja mereka, tetapi dia terlalu sibuk menghitung jumlah orang yang berdiri. Ada dua puluh enam orang. Itulab kekuatan doa syafaat, doa bagi kepentingan sesama.

 

 

 

24. KEKUATAN CINTA

 

Alkisah di pegunungan Andes ada dua suku yang saling bermusuhan. Satu tinggal di dataran rendah dan satu lagi tinggal di pegunungan. Pada suatu hari suku dari pegunungan menyerang suku dataran. Dalam se­rangan itu mereka menculik seorang bayi dari sebuah keluarga dataran dan membawanya kembali ke gunung.

Orang dataran tidak tahu bagaimana cara mendaki gunung. Mereka tidak tahu jalan yang digunakan orang gunung. Mereka juga tidak tahu ke mana perginya orang gunung itu atau bagaimana cara menemukan jejak me­reka di tanah terjal.

Meskipun demikian mereka mengirim sekelompok petarung terbaik mereka untuk mendaki gunung dan membawa pulang si bayi. Kelompok itu pertama-tama mencoba mendaki gunung dan membawa pulang si bayi. Kelompok itu pertama-tama mencoba mendaki dengan cara ini, lalu cara itu. Mereka mencoba jalan ini, lalu jalan itu. Namun setelah beberapa hari berusaha, mereka ternyata hanya berhasil mendaki beberapa ratus meter saja.

Karena putus asa, kelompok petarung dataran itu memutuskan untuk kembali lagi ke desa mereka di kaki gunung. Mereka menganggap usaha mereka sia­sia saja. Saat mereka membereskan peralatan untuk turun gunung, mereka melihat ibu si bayi berjalan ke arah mereka dari arah puncak gunung. Mereka ternganga melihat ibu itu menuruni gunung yang tak berhasil me­reka daki. Dan mereka melihat si bayi digendong di punggungnya! Bagaimana bisa?

Seorang dari petarung terbaik dataran itu lalu ber­tanya, “Kami tidak berhasil mendaki gunung ini, padahal kami pria paling kuat dan paling cerdik di desa, bagai­mana kamu bisa melakukannya?”

Si ibu hanya mengangkat bahu dan berkata, “Dia bukan bayimu.”

            Kekuatan cinta sangat dahsyat! Cinta bisa men­dorong seseorang melakukan hal-hal yang sebelumnya tampak mustahil. Jadi, apa yang tidak mungkin kalau kita menaruh cinta dan keperca­yaan kepada Allah Sang Mahacinta?

 

 

 

 

35. PEMUDA DAN ORANG BIJAKSANA

 

Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru. la ingin mengajukan tiga pertanyaan. Akhirnya, sang pemuda itu menemukan seorang guru bijaksana.

Pemuda, “Anda siapa? Bisakah menjawab pertanya­an-pertanyaan saya?”

Guru yang bijaksana, “Saya hamba Allah dan de­ngan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.”

Pemuda, “Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”

Guru, “Saya akan mencoba sejauh kemampuan sa­ya.”

Pemuda, “Saya punya tiga buah pertanyaan. Per­tama, kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya. Kedua, apakah yang dinamakan takdir? Ketiga, kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?

Tiba-tiba orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit), “Kenapa Anda marah kepada saya?”

Guru, “Saya tidak marah … Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang Anda ajukan.”

Pemuda, “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”

Guru, “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda, “Tentu saja saya merasa sakit.”

Guru, ‘Jadi, Anda percaya bahwa sakit itu ada?”

Pemuda, “Ya!”

Guru, “Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!”

Pemuda, “Saya tidak bisa.”

Guru, “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita se­mua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu me­lihat wujud-Nya. Apakah tadi malam Anda bermimpi akan saya tampar.”

Pemuda, “Tidak.”

Guru, “Apakah pemah terpikir oleh Anda akan me­nerima sebuah tamparan dari saya hari ini?”

Pemuda, “Tidak.”

Guru, “Itulah yang dinamakan Takdir. Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Anda?”

Pemuda, “Kulit.”

Guru, “Terbuat dari apa pipi Anda?”

Pemuda, “Kulit.”

Guru, “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda, “Sakit.”

Guru, “Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat menyakitkan untuk setan.”

 

 

 

 

 

41. KESAL

 

Seorang gadis remaja merasa kesal karena apa saja yang dilakukan selalu mendapat kritikan, dari orang tua maupun dari gurunya. Akhirnya, ia membuat sebuah emblem untuk disematkan di dada dan menuliskan, “Sabar, Tuhan belum selesai menciptakan saya.”

 

 

 

 

42. SALAH MENGERTI

 

Seorang ayah mencoba menerangkan kepada putranya mengenai bahaya minuman ynag mengandung alkohol. Ia mengisi sebuah botol dengan air, dan botol yang satunya lagi dengan wiski. Kemudian, ke dalam masing-masing botol dimasukkannya cacing. Cacing yang berada di dalam botol yang berisi wiski langsung mengerut dan mati.

“Nah, anakku,” kata ayah, “apa yang bisa kau peroleh dari kenyataan ini?”

“Ayah, ini berarti kalau kita minum alkohol, maka kita tidak akan cacingan.”

 

 

 

43. DUA SAHABAT

 

Dua sahabat yang selama bertahun-tahun tidak saling bertemu, tiba-tiba bertemu di supermarket. Wanita yang satu bertanya, “Ruth, bagaimana putramu, George?”

“Ia baik-baik saja,” sahut Ruth. “Ia menjadi penyair. Ia baru saja mendapat gelar master dari perguruan tinggi.”

“Dan bagaimana mengenai Mary?”

“Ia sama pintar dengan George,” sahut Ruth. “Ia baru tamat meraih gelar sarjana dalam seni rupa modern?”

“Luar biasa! Dan bagaimana dengan si kecil Freddy?”

“Ia tidak mau meneruskan ke perguruan tinggi. Ia lebih memilih menjadi tukang pipa. Kalau bukan karena dia, kami semua sudah kelaparan.”

 

 

 

49. KEMBALI KE PANGKUAN IBU

 

Seorang anak sedang bermain di tepi pantai, membuat rumah-rumahan dari pasir pantai. Sedikit demi sedikit rumah segera terbentuk. Ada kamar tidur, dapur, kamar makan. Bahkan ada garasi dan menara.

Sebentar lagi rumah-rumahan yang lengkap segera berdiri. Tapi ia tidak memperhatikan bahwa air pasang mulai tinggi. Benar juga, ada sekali ombak datang dengan sekejap meratakan rumah-rumahan itu.Lalu apa yang dikerjakan si anak itu. Dengan kecewa berat, ia berlari sekuat tenaga menuju ke pangkuan ibunya, yang sedang duduk asyik merajut renda. Anak itu duduk di pangkuan ibunya dan tak ingin pergi lagi.

Ombak lautan membuat dia menemukan kehangatan pelukan ibunya. Bagaimana bila tidak ada ombak yang menghancurkan mainannya. Anak itu haru paksa untuk mematuhi perintah ibunya dan menolak untuk meninggalkan mainannya yang menarik. Dan ia akan kembali pulang dengan segan. Ombak memecahkan segalanya.

Hidup memang membuat orang letih lesu. Dari pagi sampai malam, sepanjang hari kita sekolah, kuliah, cari nafkah, bekerja. Jalanan juga macet. Berdebu panas. Hidup rasanya kering dan capek. Masyarakat sekarang brengsek. Ada korupsi dan kolusi. Tak ada kejujuran. Yang ada hanya kelicikan dan manipu­lasi, perkosaan, penodongan, dan perampokan.

Hidup membuat orang berbeban berat. Kegagalan kegelisahan silih berganti kita alami. Kita harus bergulat dengan tawaran-tawaran duniawi. Kita juga bergulat dengan kebutuhan dari dalam diri manusia: ­kebutuhan untuk diakui dan dihargai, kebutuhan mendapatkan tempat, dan kebutuhan mendapatkan peran dalam kehidupan. Namun, dalam kenyataannya, dalam hidup di tengah masyarakat sering tidak mendapatkan tiga kebutuhan pokok. Orang tidak di­akui, orang tidak mendapatkan tempat, orang tidak mendapa­tkan peran. Lalu mereka melarikan diri ke dunia narkoba, mabuk-mabukan, dan kekerasan.

Kita perlu berdoa dalam keheningan. Kembali ke pangkuan Allah.

 

 

 

 

50. KISAH IBU PENJUAL TEMPE

 

Seorang ibu setengah baya tersebut sehari-harinya adalah penjual tempe di desanya. Tempe yang djualnya merupakan tempe yang dibuatnya sendiri. Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedelai itu masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi.

Ibu ini sangat sedih hatinya. Sebab jika tempe ter­sebut tidak jadi berarti ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku dijual. Padahal mata pencaharian si ibu hanyalah dari menjual tempe saja agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidup­nya sehari-hari.

Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang me­mang aktif beribadah di gerejanya teringat akan firman Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat mela­kukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu ia pun tumpang Langan di atas tum­pukan beberapa batangan kedelai yang masih dibung­kus dengan daun pisang tersebut. “Bapak di Surga, aku, mohon kepada-Mu agar kedelai ini menjadi tempe. Dalam nama Yesus. Amin.” Demikian doa singkat si lbu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hatinya. la yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan dengan ujung jarinya bungkusan bakal tempe tersebut. Dengan hati yang deg-degan ia mulai membuka sedikit bungkusannya untuk melihat mukjizat kedelai jadi tempe terjadi. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget dia mendapati bahwa kedelai tersebut masih tetap kedelai!

Si Ibu tidak kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia tumpangkan di atas batangan kedelai tersebut. “Bapa di surga, aku tahu bahwa bagi-Mu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku mohon dalarn nama Yesus jadilah ini menjadi tempe. Dalam nama Yesus. Amin.” Dengan iman ia pun kembali membuka  sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedelai tersebut masih tetap begitu!

Sementara hari semakin siang di mana pasar tentu­nya akan semakin ramai. Si ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bah­wa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang da­gangannya itu. Ia berpikir mungkin mukjizat Tuhan akan terjadi di tengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu ia pun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar.

Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk tumpang tangan sekali lagi. “Bapa di surga, aku percaya Engkau akan menga­bulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mukjizat buatku. Dalam na­ma Yesus. Amin.” Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang perjalanan ia tidak lupa menyanyikan beberapa lagu puji-pujian.

Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya seka­rang pasti sudah jadi. Lalu ia pun membuka keranjang­nya dan pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia mem­buka sedikit dawn pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata saudara-saudara, tempenya benar-benar belum jadi!

Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam­-dalam. Ia mulai kecewa pada Tuhan karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena, ia tahu bah­wa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi.

Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-­temannya sesama penjual tempe yang tempenya su­dah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesu. Ia seperti tidak sanggup mengha­dapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia hanya bisa ter­menung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang sepeser pun.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wa­nita, “Bu, maaf ya, saya mau. tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya.” Seketika si ibu tadi terpe­rangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa, “Tuhan saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula dalam nama Yesus, dalam nama Yesus. Amin.”

Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita . Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab ya ke­pada wanita itu. “Bagaimana nih,” ia pikir. “Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjizat Tuhan.” Ia kembali berdoa dalam hatinya, “Ya, Tuhan, biarlah tempeku tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini,” ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka ­sedikit daun penutupnya. Ternyata memang benar tempenya belum jadi! Ia bersorak senang dalam hatinya. Puji Tuhan. Puji Tuhan!” katanya. Singkat cerita wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu. Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. la bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya di sana, tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi yang dikirim, maka setibanya di sana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus lagi dan rasanya sudah tidak enak lagi.

Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada waktu kita berdoa, padahal sebe­narnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita per­lukan. Tuhan menolong kita dengan cara-Nya yang sama sekali di luar perkiraan kita sebe­lumnya. Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Perca­yalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita se­suai dengan rancangan-Nya.

 

 

 

52. BELAJAR DARI KELEDAI

 

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun, karena berbahaya, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. la mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menak­ubkan. la mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga-tetangga si petani terus menu­angkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan berlari.

 

 

 

63. MENULIS DI ATAS PASIR

 

Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-­kata, dia menulis di atas pasir, “Hari ini, sahabat terbaik­ku menampar pipiku.”

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya.

Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam se­hingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu, “Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”

Si penolong yang pemah menampar sahabatnya tersebut bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan apabila di antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleb karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis di atas pasir.

 

 

 

65. BATU BESAR

 

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk quiz.” Kemu­dian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan mele­takkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar kepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasuk­kan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?”

Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!” Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?” Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga ke­rikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah ko­song di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia ber­tanya pada kelas, “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”

Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang men­jawab, “Mungkin tidak.”

“Bagus sekali,” sahut dosen. Kemudian ia mengelu­arkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah pe­nuh?”

“Belum!” sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.” Kemu­dian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan aimya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya,   “Tahukah kalian apa maksud ilustrasi ini?”

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacung­kan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha se­kuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”

“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari ilustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila Anda tidak memasukkan ‘batu besar’ terlebih da­hulu, maka Anda tidak akan bisa memasukkan semua­nya.”

Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup Anda? Anak-anak Anda; pasangan Anda; pendidikan Anda; hal-hal penting dalam hidup Anda; mengajarkan sesuatu pada orang lain; me­lakukan pekerjaan yang kaucintai; waktu untuk diri sendiri; kesehatan Anda; teman Anda; atau semua yang berharga. Ingatlah untuk selalu me­masukkan “batu besar” pertama kali atau Anda akan kehilangan semuanya.

Bila Anda mengisinya dengan hal-hal kecil (se­macam kerikil dan pasir) maka hidup Anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demi­kian Anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya Anda perlukan untuk hal-hal besar

dan penting. Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri Anda sendiri, “Apakah ‘Batu Besar’ dalam hidup saya? Lalu kerjakan itu per­tama kali. “

 

 

 

82. PEMBELI ISTIMEWA

 

Pada suatu hari, ketika jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana, di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-­buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya.” Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.

Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia mem­bungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kun­jungan Anda.”

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus Anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli.”

Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang se­lalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”

“Mengapa lain,” tanya pelayan.

“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat penting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya,” demikian penjelasan sang pemilik toko.

Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsu­shita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak men­dapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelang­gan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus me­letakkan nilainya.

Cerita ini mengingatkan saya akan kisah ketika Yesus jauh lebih menghargai persembahan dua peser petsembahan seorang janda miskin daripada orang kaya yang member jumlah yang besar Luk 21:1-4). Bagaimana kita, apakah kita masih menghargai orang lain dari kelimpahannya?

 

 

 

85. BERJALAN KAKI

 

Doug Alderson menulis suatu artikel yang menarik di majalah Campus Life, yang menggambarkan perja­lanan kakinya berjarak dua ribu mil menelusuri jalan kecil Appalachius. Doug baru saja lulus dari sekolah tinggi, clan mempunyai banyak pertanyaan yang tak terjawab: Apakah Tuhan itu ada? Apa tujuan hidup? Apa yang sebaiknya ia lakukan dengan hidupnya? Doug menulis demikian, “Harus ada dalam hidup ini yang lebih daripada uang, TV, pesta-pesta, dan menjadi orang penting …. Perjalanan kaki saya merupakan pencarian akan kedamaian batin, suatu perjalanan mencari diriku sendiri.”

Berjalan kaki berjam-jam itu telah memberi Doug kesempatan untuk mengenal diri lebih baik. Ketika ia kembali sesudah lima bulan pergi, ia menjadi seorang pribadi yang lain. Bahkan, anjingnya menatapnya de­ngan keheranan, seakan-akan bertanya, “Di mana Anda selama ini? Apa yang Anda buat? Anda tampak lain.”

Doug menjadi pribadi lain. Ia telah menemukan apa yang ia cari selama ini. Bahwa Tuhan sungguh ada, hidup itu mempunyai tujuan, dan Ia memegang peranan dalam menjalankan hidup ini.

 

 

 

86. AKULAH YANG KETIGA

 

Gale Layers, yang bermain untuk klub Chicago Bears dalam tahun 1960-an, adalah pemain belakang yang paling ternama sepanjang waktu. Pada lehernya ia mengenakan medali emas. Pada medali itu tertulis tiga kata, “Akulah yang ketiga.”

Kata-kata itu menjadi judul buku autobiografinya yang best-seller. Buku ini menerangkan mengapa tiga kata di atas amat berarti bagi Gale. Kata-kata itu adalah semboyan pelatihnya, yaitu Bill Easton, pada waktu ia studi di Universitas Kansas.

Easton menuliskan kata-kata itu pada logam yang diletakkan di atas mejanya. Suatu kali Gale bertanya apa arti kata-kata itu. Easton menjawab, “Tuhanlah yang pertama. Kawan-kawanku yang kedua. Sedang akulah yang ketiga.”

Dalam tahun kedua bermain di Bears, Gale memu­tuskan hendak mengenakan sesuatu yang berarti pada lehernya. Maka ia membeli medali emas dan menuliskan di atasnya kata-kata “Akulah yang ketiga.” Gale meng­akui bahwa ia tidak selalu hidup menghayati Moto itu. Tetapi katanya, mengenakan medali itu di lehernya membuat ia tidak begitu menyimpang jauh dari arti Moto itu.

Maukah Anda mengenakan medali Gale pada leher Anda dan menjadikan kata-kata itu sebagai moto hidup Anda?

 

 

87. DISKUSI AGAMA

 

Kim dan Amy menelusuri jalan sambil berdiskusi tentang agama. Tiba-tiba mereka melihat segerombolan anak nakal. Kim menemukan kesempatan yang baik untuk menyampaikan suatu pukulan kepada iman kepercayaan Amy. Sambil menunjukkan jarinya ke arah anak-anak nakal itu, ia berkata, “Lihat, Amy, sudah dua ribu tahun sejak Yesus datang ke dunia untuk menyela­matkan kita dari perangai-perangai yang menjijikkan seperti itu. Tetapi mereka itu tetap saja liar, bertingkah di jalan. jika Yesus datang membebaskan dunia kita dari kejahatan, mengapa masih saja ada banyak orang jahat?”

Lima menit kemudian, dua gadis itu melihat lagi sekelompok anak. Wajah dan tangan mereka tampak kotor. Sekarang Amy punya kesempatan untuk memberi jawaban. Sambil menunjukkan jarinya ke arah anak-­anak itu, ia berkata, “Lihat, Kim, sudah dua ribu tahun sejak ditemukan sabun, mengapa masih ada banyak kotoran berkeliaran?”

 

 

 

98. PESONA SEEKOR BINTANG LAUT

 

Suatu sore ada seorang lelaki tua yang sedang ber­jalan di sepanjang pantai yang baru saja mengalami badai besar. Lima langkah di depannya ada seorang gadis yang sedang memunguti bintang laut yang ter­dampar dan melemparkannya kembali ke laut.

Saat melewati si gadis, ia bertanya, “Untuk apa hal itu kamu lakukan?”

Si gadis menyahut, “Mereka ini akan mati kena sengat matahari kalau tidak dikembalikan ke laut.”

Lelaki tua itu geleng-geleng dan berkata, “Pantai ini panjang sekali dan terdapat ratusan ribu bintang laut yang terdampar. Apa artinya upayamu yang kecil itu?”

Sambil tetap memunguti bintang laut dan meme­gang seekor di tangan, gadis itu berkata, “Upayaku akan sangat bermakna bagi bintang laut ini.” Lalu ia melemparkannya ke laut.

Semangat gadis itu pantas kita resapkan dan kita tiru kala kita merasa bahwa upaya kita terasa kecil, tampak sia-sia dan tak bermakna.

 

 

90. PENGHARGAAN UNTUK SEORANG PRAJURIT

 

Kisah ini benar-benar terjadi ketika diadakan dinas militer. Pada suatu hari sersan pelatih muncul dan tiba-­tiba mencampakkan sebuah granat tangan ke tengah-­tengah sekelompok prajurit muda. Mereka lari ber­pencar, cepat-cepat mencari perlindungan. Sersan itu kemudian mengatakan bahwa granat itu tidak “hidup” dan ia cuma ingin melihat reaksi mereka.

Keesokan harinya seorang prajurit yang baru masuk menggabungkan diri ke kelompok itu. Sersan pelatih mengatakan kepada mereka agar jangan memberi tahu prajurit baru itu tentang apa yang akan terjadi.

Sewaktu sersan itu kemudian muncul dan melem­parkan granat ke tengah-tengah mereka, prajurit baru itu, yang tidak tahu bahwa granat itu takkan meledak, buru-buru menjatuhkan diri di atas granat agar ledakan­nya tidak mencederai rekan-rekannya. la mau berkor­ban demi keselamatan rekan-rekannya sesama prajurit.

Tahun itu ia dianugerahi satu-satunya medali untuk keberanian dan ketabahan yang diberikan bukan pada waktu perang.

 

 

 

110. DALAM LINGKARAN SUKACITA

 

Bertahun-tahun yang lampau, sebuah keluarga kaya dari Inggris bepergian ke Skotlandia untuk menikmati liburan musim panasnya. Pada suatu hari anak laki­-lakinya menemukan sebuah kolam untuk berenang yang sangat jernih airnya. Dan sama seperti anak laki-­laki lainnya ia segera melepaskan pakaiannya dan me­lompat masuk. Pada waktu berenang ia terkena kejang-­kejang pada kedua kakinya dan berteriak-teriak minta tolong.

Kebetulan di sebuah ladang dekat kolam itu, ada seorang pemuda, anak seorang petani yang sedang bekerja. Mendengar teriakan minta tolong, ia segera berlari dan terjun ke kolam, menarik, menyelamatkan anak laki-laki Inggris itu keluar dari air.

Sang ayah sangat berterima kasih dan pada hari berikutnya ia berkunjung ke pondok petani itu untuk menjumpai pemuda yang telah menyelamatkan nyawa putranya. “Apa rencana yang akan kaulakukan dengan hidupmu?” tanyanya.

“Oh, saya rasa saya akan menjadi seorang petani seperti ayahku,” jawab pemuda itu.

“Adakah sesuatu yang lain yang kiranya lebih kau­sukai?”

“Oh, ya, saya selalu ingin menjadi dokter,” jawab anak Skotlandia itu.

“Tetapi, kami keluarga miskin, dan orang tua saya tak akan mampu’membayar pendidikan saya.”

“Jangan pikirkan tentang hal itu,” kata priyayi Ing­gris itu.

“Engkau akan meraih keinginan hatimu itu dan belajar ilmu kedokteran. Lakukanlah rencana-rencana­mu dan saya akan membiayainya.”

Pemuda itu akhirnya menjadi seorang dokter yang terkenal. Pada bulan Desember 1943, Winston Churchill menderita sakit parah karena pneumonia di suatu tempat di Afrika Utara. Dokternya meminta Sir Alexan­der Fleming, penemu obat ajaib baru, yaitu penisilin, untuk terbang mengobati negarawan yang sakit itu.

Setelah lepas landas dalam sebuah pesawat pem­bom cepat, Sir Alexander Fleming tiba dalam beberapa jam, menyuntikkan obat tersebut. Untuk kedua kalinya dalam hidup Churchill, pemuda yang sama telah menye­lamatkan nyawanya – sebab Winston Churchill muda itulah yang telah ditariknya dari kolam bertahun-tahun yang silam ketika ia masih kanak-kanak dan berlibur bersama keluarganya ke Skotlandia.

 

 

 

111. MENEMUKAN ALLAH

 

Seorang wanita tua tiba-tiba mulai meragukan apa­kah Allah itu benar-benar ada atau tidak. Wanita itu tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Akhimya, ia memutus­kan untuk meminta bantuan seorang pastor. “Pastor, saya mempunyai kesulitan besar dengan iman saya. Rasanya sulit sekali merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup, saya,” katanya. “Apa yang harus saya lakukan?”

Usul Pastor itu mengagetkannya. Ia hanya berkata, “Mulailah mengasihi sesamamu dengan lebih aktif dan lebih konkret.”

Kebetulan suatu hari ia diajak teman-temannya per­gi ke sebuah Panti Asuhan. Di sana ia berjumpa dengan seorang anak Panti Asuhan tersebut yang mirip dengan anaknya yang telah lama meninggal. Ia begitu tersentuh oleh perjumpaan itu dan terdorong untuk merawatnya dengan sepenuh hari. Dari situ ia dituntun untuk mela­yani dan merawat seluruh anak-anak penghuni Panti Asuhan tersebut.

la merasakan begitu bahagia dengan pengalaman barunya itu. Banyak orang menjadi bahagia. Mereka sangat merasakan buah pelayanan si ibu itu. Setelah beberapa lama ia menjadi yakin telah menemukan ke­benaran dalam kata-kata pastomya. la telah menemukan kembali dirinya, saudaranya dan Tuhannya.

            Aku mencari jiwaku, tetapi aku tidak dapat melihat jiwaku.

Aku mencari Allahku, tetapi Allahku meninggalkan aku.

Aku mencari saudaraku dan aku menemukan ketiganya.

 

 

112. PERBUATAN SEDERHANA MENGANTAR ORANG KE SURGA

 

Pada suatu kali Rabi Barokah berada di sebuah pasar dan Nabi Eliya mendatanginya. Rabi Barokah bertanya, “Apakah ada orang di pasar ini yang akan menikmati kehidupan dalam dunia yang akan datang?”

Awalnya Nabi Eliya berkata, tidak ada seorang pun yang akan masuk surga. Tetapi kemudian dia menunjuk pada satu orang dan berkata bahwa orang itu akan menikmati kehidupan dalam dunia yang akan datang.

Rabi Barokah segera menghampiri orang itu dan bertanya kepadanya tentang apa yang telah dilakukan­nya. jawabnya, “Saya adalah seorang penyapu jalan, pekerjaan saya tiap hari menyapu jalan supaya kota kita ini kelihatan bersih, sehat, indah dan membahagia­kan bagi semua penduduknya.” Rabi Barokah terdiam dan tercengang, lalu merenung cukup lama.

Apabila seseorang dipanggil menjadi seorang pe­nyapu jalan, sebaiknya ia menyapu jalan seperti halnya Michelangelo melukis, atau seperti halnya Beethoven menggubah musik, atau seperti halnya Shakespeare menggubah puisi. la harus menyapu jalan sedemikian baiknya sehingga seluruh penghuni surga dan bumi akan berhenti untuk mengucapkan, “Di sini tinggal se­orang penyapu jalan yang hebat yang melakukan peker­jaannya dengan baik.

 

 

 

118. KEJUTAN TUHAN YANG MEMBAHAGIAKAN

 

Mikael adalah satu-satunya orang yang selamat dari sebuah kecelakaan kapal dan terdampar di sebuah pu­lau terpencil. Dalam keputusasaannya ia berdoa tanpa henti, memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan. Tetapi hingga berhari-hari pertolongan yang ditunggu-­tunggu tak kunjung tiba. Ia membangun sebuah pondok kecil dan berusaha untuk hidup dengan apa yang ada di sekitarnya.

Suatu hari sepulangnya dari berburu, ia mendapat­kan pondoknya terbakar habis. Semua yang dimilikinya musnah. Kejadian itu membuatnya sangat terpukul. Ia diliputi kesedihan yang sangat mendalam dan sekaligus kekecewaan serta kemarahan kepada Tuhan. “Tuhan, mengapa Kaulakukan semua ini kepadaku?” teriaknya sekuat tenaga.

Keesokan harinya, ia dibangunkan oleh suara kapal yang datang mendekati pulau itu. Rupanya mereka ada­lah tim penyelamat yang sudah berhari-hari berusaha mencari para korban pada kecelakaan kapal tadi. “Ba­gaimana kalian tahu saya berada di sini?” tanyanya heran.

“Kami melihat sinyal, kepulan asap yang kaubuat,” jawab mereka.

Sangat mudah bagi kita untuk kehilangan akal bila keadaan makin tak terkendali atau semakin buruk dan segera menyalahkan Tuhan. Tetapi kita seharusnya tidak kehilangan iman kita, karena sering kali terjadi adanya rahmat yang tersamar di balik sebuah malapetaka. Mungkin bila suatu hari ‘pondok” hati kita terbakar, itu sebenarnya hanyalah suatu sinyal asap yang memanggil ke­muliaan Tuhan.

 

 

 

DIA YANG MEMELUKKU

 

And even to your old age Iam He;

and even to hoar hairs

will I carry you!

(Sampai masa tuamu Aku tetap Dia

dan sampai masa putih rambutmu

Aku menggendong kamu!)

Yesaya 64:4

 

 

            Papa dan mamaku adalah sepasang ateis dan mereka tidak pernah mengisahkan padaku, anak perempuannya, kisah atau cerita apapun tentang Tuhan. Kami tinggal bertiga di sebuah apartemen sederhana, di kota New York.

Suatu malam ketika aku berumur 5 tahun, kedua orangtuaku bertengkar dan semuanya menjadi tak terkendali. Papa menembak mama, tepat di depanku. Kemudian, papaku bunuh diri dan aku melihat semua kejadian tersebut.

Setelah peristiwa itu, aku diadposi seorang Kristen dan hari itu dia untuk pertama kalinya membawaku ke gereja. Pada hari pertama di sekolah minggu, ibu angkatku itu mengatakan pada guru bahwa aku belum pernah mendengar tentang Yesus dan agar dia bercerita tentang Yesus kepadaku dengan penuh kesabaran.

Kelas sekolah minggu pun dimulai. Guru sekolah minggu itu mengangkat sebuah gambar Yesus dan bertanya, “Adakah di antara kalian yang tahu siapa ini?” Dengan cepat aku menjawab, “Aku tahu, itulah orang yang memelukku di malam kedua orangtuaku meninggal.”

 

 

 

 

DOAKU DIDENGARNYA

 

0 thou that Nearest prayer,
unto thee shall all flesh come.
(Engkau yang mendengarkan doa.
Kepada-Mulah datang semua yang hidup!)
Mazmur 65:2

            Namaku Katty. Aku mempunyai sebuah pengalaman luar biasa. Saat itu, aku se­dang makan Siang bersama Mary, temanku, sam­bil mengisahkan padanya tentang keinginanku mencari seekor anak anjing. Daisy, seekor an­jing mungil yang menjadi temanku selama 16 tahun telah mati. Sekarang rasanya aku siap me­miliki seekor anjing lagi. Aku ingin anjing betina kecil seperti Daisy, tapi setelah sekian lama men­cari, aku tidak dapat menemukannya di toko­-toko binatang yang telah kukunjungi. Aku putusasa dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. “Katty,” kata Mary, “Kau bisa berdoa tentang masalahrnu ini pada Tuhan.”

Setelah sampai di rumah, aku segera melakukan apa yang Mary katakan. “Tolong, Tuhan, kirimkan seekor anjing kecil untukku seba­gai pengganti Daisy.”

Sebulan berlalu, aku masih meneruskan pencarianku itu. Suatu hari, aku mengunjungi sebuah toko yang belum pernah kudatangi. Se­telah melihat-lihat begitu banyak anjing di sana, mataku tertuju pada sebuah kandang di bagian pojok ruangan. Dalam kandang itu terdapat se­ekor anjing betina dengan tiga ekor anak anjing berbaring di sampingnya. Aku mengangkat se­ekor anak anjing dan anjing itu menggeliat de­ngan lucu di tanganku. Aku benar-benar jatuh cinta. Tapi itu adalah anjing jantan dan jika di­perhitungkan melalui berat induknya, anak an­jing itu kelak akan seberat 20 pon jika telah de­wasa. Itu bukanlah ciri-ciri yang selama ini aku cari, tapi entah mengapa aku yakin kalau an­jing itulah yang cocok buatku.

“Aku harus melihat apakah anak anjing ini sudah cukup umur untuk dipisah dari induknya,” kata perempuan pemilik toko itu ketika aku katakan bahwa aku ingin mengadopsi an­jing tadi. la melihat ke deretan kartu-kartu dan berkata, “Anda beruntung. Dia dilahirkan pada tanggal 16 Agustus, jadi sekarang dia sudah cu­kup umur untuk dipisahkan.”

Saat itu, entah mengapa aku merasa aneh mendengar tanggal tersebut. Sesampainya di rumah, aku membaca time-plannerku. Baru aku mengerti. Pada tanggal itu, di time-planner ter­tulis “Makan siang dengan Mary.” Anjingku ini dilahirkan tepat ketika aku memintanya kepada Tuhan dalam doa!

 

 

 

PERKATAAN YANG MANIS

 

Pleasant words are as an honeycomb,
sweet to the soul, and health to the bones.
(Perkataan yang menyenangkan adalah
seperti sarang made, manis bagi hati
dan obat bagi tulang-tulang.)
Amsal 16:24

 

Mark Eklund berada di kelas tiga di Saint Mary School, tempat aku mengajar. Semua muridku bersikap baik padaku, tapi Mark seorang yang spesial. la memiliki penampilan yang sangat rapi dan sikap yang terlalu bagus, padahal kenyataannya, ia sangat nakal.

Mark tak pernah berhenti mengobrol da­lam kelas. Aku berulang kali memperingatkan bahwa hal itu tidak diperbolehkan. Namun, aku terkagum-kagum dengan sikapnya. Setiap aku mengoreksi perbuatannya, Mark akan berkata, “Terima kasih telah mengoreksiku, Kak!” Hal itu­lah yang membuatku agak canggung. Namun, setelah beberapa lama, aku pun terbiasa.

Suatu pagi, kesabaranku habis melihat ulahnya. Dengan jengkel aku berkata, “Jika kamu berkata sepatah kata lagi, aku akan me­nutup mulutmu dengan plester!”

Tak sampai sepuluh detik kemudian Chuck melapor, “Mark mengobrol lagi.” Aku tidak meminta murid-murid lain membantuku mengawasi Mark, tapi karena sudah terlanjur menyebutkan hukuman tadi, aku terpaksa harus melakukannya.

Aku ingat kejadian itu, seolah-olah baru terjadi. Aku berjalan ke mejaku. Dengan perlahan aku membuka laci dan mengeluarkan se­gulung plester. Tanga berkata apa-apa, aku mendekati meja Mark dengan membawa dua helai plester dan membuat tanda X besar untuk menu­tupi mulutnya. Aku kemudian kembali ke depan kelas. Ketika aku melirik Mark untuk mengeta­hui keadaannya, dia mengedipkan matanya.

Itu dia! Aku tidak dapat menahan tawaku. Seisi kelas menyorakiku ketika aku kembali ke meja Mark dan melepaskan plesternya. Kata‑kata pertamanya adalah, “Terima kasih karena mengoreksiku, Kak.”

Pada akhir tahun, aku diminta mengajar matematika di SMP. Tahun-tahun berlalu dan sebelum aku menyadarinya, Mark kini sudah masuk kelasku lagi. la terlihat lebih menarik dan sopan. Karena ia harus banyak mendengarkan­ku menjelaskan pelajaran matematika yang amat rumit, ia tidak banyak bicara seperti dulu.

Suatu Jumat, terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan. Kami sudah bekerja keras pada sebuah rumus baru sepanjang minggu dan aku merasakan para murid tertekan dan stres. Aku harus menghentikan masalah ini sebelum ter­lanjur tak terkendali. Aku menyuruh mereka me­nuliskan nama-nama murid lain di ruangan itu dalam dua lembar kertas, dengan memberi jarak 1spasi antar nama. Kemudian aku meminta me­reka memikirkan hal paling menyenangkan yang dapat mereka katakan untuk setiap teman mereka dan menuliskannya di spasi kosong tadi.

Tugas itu menyita seluruh sisa jam pelajar­an hari itu, dan mereka menyerahkan tugas itu padaku sembari keluar ruangan. Charlie tese­nyum kepadaku. Mark juga berkata sambil menyerahkan kertasnya, “Terima kasih karena mengajariku, Kak. Selamat berakhir pekan.”

Hari Sabtu itu, aku menuliskan nama dari tiap murid masing-masing dalam selembar kertas dan menyatakan di dalamnya apa yang orang lain telah rasakan tentang diri mereka. Dan hari Senin, aku memberikan daftar nama itu. Tak la­ma kemudian seluruh kelas tersenyum. Mereka semua berkomentar dengan gembira, “Benarkah begitu?” Aku mendengar seseorang berbisik, “Aku tidak pernah merasa dihargai seperti ini” Kata seseorang yang lain, “Aku tidak tahu sifatku disukai banyak orang!”

Tidak ada yang pernah membahas kertas itu lagi di kelas. Aku tidak tahu apakah mereka membahasnya di luar kelas atau bersama de­ngan keluarga mereka. Itu terserah, yang penting sekarang mereka merasa lebih baik dan tidak kesal satu dengan yang lain.

Kelompok murid itu terus berlanjut. Bebe­rapa tahun kemudian, setelah pulang liburan, orangtua menjemputku di bandara. Saat dalam perjalanan pulang, orangtuaku menanyakan tentang liburanku. Terjadi pembicaraan yang me­nyenangkan. Ibu kemudian memberikan Ayah sebuah lirikan kecil dan berkata, “Yah?” Ayahku membersihkan tenggorokannya seperti yang biasa ia lakukan saat ingin berbicara sesuatu yang serius. “Keluarga Eklund menelpon tadi malam,” katanya. “Benarkah? Aku sudah lama tidak mendengar kabar mereka. Di mana ya kira-kira Mark berada …” ujarku.

Ayah menjawab dengan tenang. “Mark tewas di Vietnam,” katanya, Pemakamannya akan dilangsungkan besok pagi dan orangtua­nya ingin kau datang.” Aku kaget setengah mati dan sampai saat ini pun, aku masih dapat meng­ingat dengan tepat nama jalan di mana Ayah memberitahukanku perihal Mark itu.

Aku tidak pernah melihat seorang tentara dalam peti mati militer sebelumnya. Mark terli­hat sangat tampan dan dewasa. Gereja itu dipe­nuhi dengan teman-teman Mark. Adik Chuck menyanyikan The Battle Hymn of the Republic. Mengapa di hari pemakaman itu harus hujan? Sang pendeta mengucapkan doa seperti biasa. Kemudian setiap sahabat dekat Mark satu-per­satu menyirami peti itu dengan air kudus.

Aku mendapat giliran terakhir. Sementa­ra berdiri, salah satu tentara yang bertugas mengangkat peti mati datang kepadaku. la ber­tanya, “Apakah Anda guru matematika Mark?” Aku mengangguk sambil terus memandangi peti tersebut. “Mark banyak berkisah tentang Anda,” lanjut tentara itu.

Setelah pemakaman, sebagian besar teman sekelas Mark berangkat menuju rumah Chuck untuk makan Siang. Ibu dan ayah Mark ada di sana menungguku. “Kami ingin menunjuk­kan sesuatu padamu,” kata ayahnya sambil me­ngeluarkan sebuah dompet dari kantongnya. “Mereka menemukan ini pada Mark sewaktu ia meninggal. Kami pikir kamu mengenalinya.”

Perlahan, ayah Mark membuka dompet itu. la mengeluarkan dua kertas lusuh yang se­pertinya sudah ditambal, dan dilipat berulang­-ulang. Aku langsung mengenali bahwa itu ada­lah kertas yang berisikan semua pernyataan-­pernyataan bagus yang teman-teman sekelas Mark nyatakan tentang dirinya. “Terima kasih banyak untuk melakukan hal ini,” kata ibu Mark. “Sebagaimana kau lihat, Mark mengang­gapnya harta yang berharga,” lanjut ibu itu.

Teman-teman sekelas Mark mulai berkum­pul di sekeliling kami. Charlie tersenyum malu dan berkata, “Aku masih memiliki daftar punya­ku. Ada di laci paling atas di meja belajarku di rumah.” Istri Chuck berkata, “Chuck memintaku menaruh miliknya dalam album foto pernikahan kami.” “Aku juga masih menyimpan daftarku,” kata Marilyn, “disimpan dalam diaryku.” Kemu­dian Vicki, seorang rekan Mark yang lain, meng­ambil sebuah buku dan mengeluarkan secarik kertas lusuh dan menunjukkannya pada semua orang. “Aku selalu membawanya,” kata Vicki tanpa malu-malu, “Aku pikir setiap kita pasti menyimpan daftar itu.”

Itulah saat di mana aku terduduk dan me­nangis. Aku menangis terharu karena Mark dan semua temannya.

 

 

 

 

PENYELAMAT HIDUPKU

 

Rejoicing in hope, patient in tribulation;
continuing instant in prayer;
(Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah
dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Roma 12:12

 

            Ketika melayani di sebuah rumah sakit kecil di Afrika, setiap 2 minggu sekali aku ke kota terdekat dengan bersepeda dan melewati hutan, untuk mengambil persediaan obat-obatan. Perjalanan ini memerlukan waktu 2 hari 1 malam dan aku bermalam di tengah hutan setelah menempuh setengah perjalanan.

Suatu hari, setelah tiba di kota terdekat aku merencanakan untuk mengambil uang dari bank, membeli obat dan barang persediaan, kemudian memulai lagi dua hari perjalanan kem­bali ke rumah sakit.

Ketika tiba di kota, aku melihat 2 orang sedang berkelahi. Seorang di antaranya mengala­mi luka serius. Segera aku menolongnya. Sambil merawat luka-lukanya, aku menceritaka­n tentang Yesus Kristus. Sesudah selesai, aku kembali ke rumah sakit tanpa gangguan.

Dua minggu kemudian, aku kembali mela­kukan perjalanan serupa. Sesampai di kota, aku bertemu lagi dengan orang yang telah kurawat lukanya. Dia berkata bahwa dia tahu aku memiliki sejumlah uang dan persediaan obat-obatan. Katanya, “Waktu itu, sesudah Anda rawat lukaku, beberapa teman dan juga aku mengikuti Anda sampai ke hutan. Kami tahu And­a pasti akan bermalam di tengah hutan. Kami berencana membunuh Anda lalu mengambil uang dan obat-obatan yang Anda bawa. Namun, ketika kami hendak mendekati tenda Anda, kami lihat Anda dijaga 26 orang bersenjata.”

Aku menertawakan hal itu dan berkata kepadanya bahwa malam itu, hanya aku se­orang diri yang berkemah di tengah hutan. Tapi, anak muda itu tetap bersikeras berkata, “Benar, Pak! Bukan aku sendiri saja yang melihat para penjaga itu. Kelima temanku juga melihat mereka dan kami bersama-sama menghitung jumlahnya. Karena penjaga-penjaga itulah, kami lari ketakutan.”

Saat aku menceritakan hal itu kepada je­maat di Michigan, tiba-tiba seorang jemaat me­nyela khotbahku dan bertanya kapan tepatnya peristiwa ajaib itu terjadi. Aku lalu menyebutkan hari terjadinya peristiwa itu. Jemaat yang me­nyela tadi lantas bercerita kepadaku, “Insiden yang Anda alami di Afrika itu terjadi di malam hari, tapi saat itu di sini masih pagi, aku sedang mempersiapkan diri untuk main golf. Aku sedang berlatih dengan pukulan ringan saat aku terdo­rong untuk berdoa bagi Anda. Dorongan Tuhan tersebut sangat kuat. Lalu aku mengundang be­berapa jemaat lain untuk bertemu di gereja ini dan bersama-sama mendoakan Anda. Jemaat yang bersama-samaku berdoa saat itu, aku un­dang berdiri!” Lalu para jemaat yang dimaksud itu semuanya berdiri. Saat itu aku tidak terlalu memikirkan siapakah mereka, namun aku ter­lalu sibuk untuk menghitung jumlah jemaat yang berdiri tersebut. Sernuanya ada 26 jemaat!

jumlahnya tepat sama banyak dengan ten­tara yang menjagaku! Saat itu aku terharu dan memuji kebesaran Tuhan. Seluruh jemaat yang mendengarkan khotbah dan kesaksian itu bersukacita. Tuhan memang luar biasa!