7 Mitos Sukses

7 MITOS TENTANG  SUKSES

Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu, ” (Matius 25:21&23).

Tidak ada kesuksesan yang melebihi pujian ini, bukan? Saya yakin tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak merindukan pujian langsung dari Allah yang Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Baik dan Maha Besar itu.

Sukses menurut definisi Allah adalah sukses yang dicapai ketika di dunia ini, dengan melakukan kehendak-Nya, dan pada saat kematian nanti, kita disambut oleh Tuhan Allah dengan berkata spt ayat yg baru kita baca

Dengan kata lain, kita akan berfungsi maksimal dlm hidup & pelayanan di dunia ini sesuai dg kehendak-Nya; yaitu mencapai “kesuksesan” menurut definisi & ukuran Allah sendiri.

Namun secara faktual ada berapa orang yang sungguh sdh sukses? Sementara itu, ada sebagian manusia di dunia ini menganggap diri mereka sudah mencapai kesuksesan itu, tetapi apakah yg mereka capai sungguh adl kesuksesan yang sejati? Ataukah hanya kesuksesan semu? Saya ingin mengajak kita melihat apa yang bukan disebut sukses yg sejati itu, ada 7 mitos ttg suskes menurut dunia

 

1.   Sukses itu Bukan Soal Kaya Raya:

Benarkah uang dapat memberikan kesuksesan yang sejati? Jawabannya: tidak!

Coba perhatikan hidup dari bbrp org yg terkenal kaya raya krn jumlah kekayaan mereka melampaui Dep. Keuangan AS. Pada thn 1923 mrk mengadakan konferensi di sebuah Hotel Chicago. Surat kabar & majalah menceritakan bgmn kesuksesan mereka & menghimbau para pemuda utk meneladani mereka. Tetapi pada tahun 1950-an apa yang terjadi pada akhir hidup mereka?

Charles Schwab, pemilik perusahaan baja terbesar, hidup dgn meminjam uang sepanjang 5 tahun terakhir sblm ia meninggal dg tanpa memiliki apa-apa.

Arthur Cutten, pedagang gandum terbesar meninggal dlm kondisi bangkrut/pailit.

Albert Fall, anggota kabinet dari presiden meminta pengampunan utk keluar dari penjara agar bisa meninggal di rumah.

Jesse Livermore, “beruang” terbesar dari WallStreet, meninggal karena bunuh diri.

Leon Fraser, pimpinan Bank of International Settlement, meninggal krn bunuh diri. Ivar Krueger, pimpinan dari monopoly terbesar di dunia, meninggal krn bunuh diri.

Mereka ini jelas sudah belajar bagaimana mencari & mengumpulkan uang, namun sayang, mereka tidak belajar bagaimana hidup sukses yang sesungguhnya. Sukses yang sejati adalah soal bagaimana mengelola karunia pinjaman dari Tuhan selama di dunia ini dengan penuh bijaksana untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan Yesus mengingatkan dlm Mat 6:19-21, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat & karat merusakkannya & pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat & karat tdk merusakkannya & pencuri tdk membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Ada seorang ibu tua yg terbaring sakit bertahun-tahun di ranjangnya. Ketika dia meninggal dunia, ditemukan beberapa buku catatan yg berisi orang2x yg dia doakan ketika dia terbaring bertahun2x. Sungguh menakjubkan. Tubuhnya yg sakit tdk menghalanginya utk terus menjadi berkat bagi orang lain. Setiap manusia yg masih bernafas & diijinkan hidup di dunia ini, pastilah ada manfaatnya.

Orang yang hanya mengumpulkan harta di bumi akan kecewa dan gagal,  krn apa yang ada padanya tidak akan dibawanya kelak ketika meninggalkan dunia ini. Mengumpulkan harta di sorga jelas menunjuk kepada mereka yang mengelola karunia Tuhan untuk menjadi ‘berkat’ bagi banyak orang lain.

Orang yg sukses di dunia & di akhirat adl org yg hidupnya memperkaya org lain, Orang yg tidak hidup utk diri sendiri, melainkan hidup melayani orang lain demi Kristus & Kerajaan-Nya. Orang sedemikian adalah orang yang bahagia. Tuhan sendiri berkata, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” (Kis 20:35).

Saya berterimakasih kpd dr. Avila yang memberi saya perspektif ini, bahwa titipan harta kekayaan yg Tuhan titipkan ke saya haruslah dipergunakan utk menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk kita simpan bagi anak cucu kita sampai 7 turunan.

 

2.   Sukses itu Bukan Soal Kuasa:

Sebagian orang menganggap bahwa sukses itu adl jika memiliki kedudukan yg tinggi atau kuasa yg besar utk ‘memerintah’ dgn sekehendak hatinya.

Mussolini yang memiliki kuasa besar dan diktator, akhirnya harus mati dengan tragis, digantung terbalik & mayatnya dijadikan bulan-bulanan & ejekan di seluruh Itali. Mussolini berkuasa besar, tetapi dia tidak sukses.

Hitler yang berkuasa mutlak di Jerman, yang dengan sangat sadis membantai 6 juta Yahudi dalam kamar gas beracun, akhirnya harus bunuh diri bersama sekelompok pemimpin Nazi yang kejam dan fanatik dalam bunker tempat persembunyiannya. Hitler menembak hancur kepalanya sendiri dan memohon agar mayatnya dibakar saja supaya tidak dijadikan ejekan dan bulan-bulanan. Hitler berkuasa besar namun dia tidak sukses.

Saddam Hussein yang berkuasa penuh dan multak di Irak juga akhirnya harus menjalani hukuman gantung karena kekejamannya terhadap rakyatnya sendiri. Saddam Hussein memiliki kuasa yang absolute, tetapi dia tidak sukses.

Sukses yang sejati bukanlah soal kuasa yang besar atau absolut. Alkitab memberitahukan kita bahwa kuasa yang sejati datangnya dari Allah (Mazmur 62:12)

Dan Dialah yg empunya segala kemuliaan & kuasa dari skrg sampai selama-lamanya (I Petrus 4:11; 5:11).

Barangsiapa yang dengan hanya mendapatkan titipan kuasa yang sementara ini, namun yang salah menggunakannya – hanya untuk menyombongkan dan meninggikan dirinya sendiri, dia akan diturunkan dan dijatuhkan.

Alkitab memberi contoh Nebukadnezar & Herodes yg menyombongkan diri & direndahkan oleh Tuhan. Kalau kita berkuasa, kita hrs mempergunakan titipan kuasa yg sementara ini untuk relasi secara horizontal, utk bermanfaat bagi bagi orang lain, jgn spt Nebukadnezar & Herodes yg mempergunakan kuasa utk meninggikan dirinya.

Saya melihat pendeta2x besar sekarang ini mempergunakan kuasanya hanya untuk makin memperbesar kuasanya & namanya, mereka membuka cabang gereja dimana2x, yg lbh lucu semua cabang gembala sidangnya adalah pendiri gereja itu, pemimpin gereja lokal disebut koordinator,

Bahkan sekarang pendeta2x besar berlomba2x untuk mendirikan gedung gereja terbesar bukan berpikir bagaimana mrk bisa mempergunakan kuasa mrk utk membangun rumah sakit gratis, pendidikan gratis ataupun pemondokan gratis bagi yg tdk punya rumah pdhl Yesus memperingatkan dlm Mat 25:35-36 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

 

3.   Sukses itu Bukan Soal Kepuasan Seksual:

Sebagian orang di dunia ini menggangap bahwa sukses itu bila seseorang bisa mencapai kepuasannya scr seksual. Mereka berpandangan bahwa berhubungan sex adl aktivitas phisikal manusia yg paling utama utk menyuguhkan kebahagiaan.

Tidak heran bahwa org yg sedemikian akan menyetujui & mempraktikkan poligami atau mencari kepuasan nafsu seksualnya diluar pernikahannya yang resmi.

Sesungguhnya pemikiran ini adalah sebuah mitos lain dari sukses yg sejati. Keberhasilan seseorang jelas tidak ditentukan oleh berapa banyak pasangan seksualnya, atau berapa banyak hubungan seks yg sudah dilakukan – apakah itu hubungan yg hetero-seksual, ataupun homoseksual.

Dari fakta sehari-hari dpt kita lihat ada begitu banyak selebritis -bintang film, penyanyi, atlit olahraga, politik, sosial, agama, atau bintang lainnya-yang terjatuh dalam hubungan ‘free-sex‘ atau yang sudah kawin cerai berulang-ulang; namun tidak mengalami kebahagiaan atau kesuksesan yang sejati. Sebaliknya, kekecewaan besar yg dihasilkan & tdk jarang berakhir dg kecanduan obat bius & bunuh diri.

Selain itu ada banyak contoh tentang mereka yang menganut poligami, baik secara hetero-seksual atau homoseksual yang keluarganya berantakan, penuh perselisihan, dan dendam kesumat yang menghasilkan berbagai tindakan kekerasan, perkelahian, penuntutan hukum, bahkan banyak yang berakhir dengan pembunuhan atau tindakan kriminal lainnya yang amat sadis dan tidakmanusiawi.

Belum lagi, soal sakit penyakit kelamin yang najis dan mematikan yang menular dan membawa berbagai efek negatif lainnya bagi orang lain. Semua ini membuktikan bahwa kepuasan nafsu seksual yang dicari-cari manusia tidak membawa sukses sejati. Sebaliknya kegagalan yg mengecewakan & menyedihkan.

Alkitab menceritakan tokoh-tokoh yang gagal dlm kehidupan seksual mereka.

Samson yang gagah perkasa harus mengalami kegagalan dan kebutaan matanya akibat tidak bisa mengontrol nafsu seksualnya kepada Delilah yg cantik, tetapi jahat.

Raja Daud yang kuat juga terjatuh dan gagal karena tergoda dan berjinah dengan Betsyeba yang cantik. Akhirnya Daud berdosa dengan ‘membunuh’ suami Betsyeba, Uria, dan dia menyesal atas perbuatannya. Daud tidak menemukan kesuksesan dalam kepuasan hubungan seksualnya.

Justru Sukses adlah soal membangun relasi yang akrab dengan Tuhan, karena relasi yang akrab dg Tuhan merupakan kekuatan yang terbesar untuk menalukkan kekuatiran, stress, kesusahan & pencobaan dari iblis.

Seperti kata Agustinus yg kalau saya bahasakan dlm bahasa sehari2x, “Hati kita akan terus resah sebelum hati & perhatian kita tertuju ke pencipta kita”,

Membangun relasi yg akrab dengan Tuhan adl Setia membaca Firman Allah, merenungkannya, & melakukannya, serta membangun kehidupan doa yg teratur.

 

4. Sukses itu Bukan Soal Kesehatan Phisik:

Jelas sekali bahwa kesehatan phisik itu amat penting & diidam-idamkan oleh setiap manusia. Secara nomal, pastilah tdk ada manusia yg ingin sakit, bukan?

kesehatan yg baik & prima dpt membuat seseorang bekerja & melakukan aktivitasnya dgn baik. Namun, benarkah bahwa kesuksesan adl kesehatan phisik yg prima?

 

Orang Tionghoa mengatakan bahwa ‘kesehatan itu nomor satu’. Benarkah demikian? Kalau benar kesehatan itu nomor 1, lalu no 2 apa? Nomor 3? Nomor 4?

Keluarga nomor berapa? Kedamaian jiwa nomor berapa? Tuhan nomor berapa? Karier? Studi? Sahabat? Keselamatan? Rasa aman? Love? Pelayanan?

 

Sukses adalah soal kesehatan fisik adalah Mitos, ini dapat dibuktikan dengan adanya cukup banyak orang yang kesehatannya cukup baik, phisiknya cukup kuat, namun tidak dapat disebut sukses. Mengapa?

 

Karena berharganya sebuah hidup tidak diukur dari kuat atau sehatnya seseorang atau berapa panjang usia yang bisa dicapainya di dunia ini.

Ada cukup banyak orang yg sehat & kuat phisiknya, namun hidup keluarganya berantakan, atau hidup pribadinya menyedihkan. Lihat saja contoh atlit2x yang phisiknya kuat dan sehat, namun kehidupan seksualnya dan keluarganya yang tidak karuan.

Selain itu, secara normal pastilah semua manusia di dunia ini akan mengalami kemerosotan phisik, bukan? Mana ada manusia yang tubuhnya semakin sehat dan semakin kuat? Bukankah waktu yang terus berjalan ini akan menggerogoti phisik manusia? Semakin berumur seseorang akan semakin lemah pula phisiknya. Ini hukum alam yang tidak bisa dilawan manusia.

Di pihak lain, dalam dunia ini kita bisa menyaksikan ada cukup banyak manusia yang tubuhnya lemah atau cacat, namun justru mereka sanggup menciptakan dampak yang besar. Hidup mereka sungguh jauh lebih unggul dan efektif dibandingkan dengan banyak orang yang sehat dan lengkap phisiknya. sbg contoh:

Hellen Keller, penulis yang terkenal. Dia lahir buta dan tuli, namun berhasil menyelesaikan universitasnya dengan predikat ‘honor’ (terhormat/unggul).

Beethoven, pengarang lagu yang genius. Dia memiliki telinga yang tuli.

Fanny J. Crosby, pengarang ribuan lagu rohani yang menjadi berkat bagi seluruh dunia di zamannya hingga kini. matanya buta sejak kecil.

Joni Eareckson Tada, pelukis, pengarang, penceramah, dan pemimpin organisasi anak cacat di AS. Dia terkena kecelakaan yang melumpuhkan seluruh tubuhnya mulai dari leher ke kaki. Namun dengan mulutnya, dia sanggup menghasilkan lukisan dan buku yang menjadi berkat bagi banyak orang.

Hidup dan pelayanan yang menjadi berkat bagi banyak orang jauh lebih berharga dari pada phisik yang sehat dan kuat namun hidup hanya untuk diri sendiri tidak menghasilkan sesuatu yang benilai kekal. Sukses yang sejati tidak dinilai hanya dari sudut phisikal saja, tetapi yang amat penting juga dari sudut spiritual.

 

5.   Sukses itu Bukan Soal Tercapainya Cita-Cita:

Tidak dapat disangkal bahwa hampir setiap manusia di dunia ini memiliki cita2x yg diidam-idamkan. Entahkah cita2x itu berhubungan dgn profesi/karier (‘menjadi apa’), mis: dokter, insinyur, usahawan, bintang film, pilot, jenderal, presiden, dsb.

Tidak heran, orang tua sering bertanya kepada anaknya, “Nanti kalau besar mau jadi apa?” Sebuah cita2x juga bisa berhubungan dg kepemilikan (‘mendapatkan apa’), mis: ingin mempunyai rumah mewah, mobil terbaru, pakaian termode, istri yang cantik, suami yang gagah dan kaya, gelar yang banyak, pangkat yang tinggi.

Selain itu cita-cita juga bisa berhubungan dengan karya (‘melakukan sesuatu’), misalnya: cita-cita untuk menulis buku, cita-cita untuk menolong fakir miskin, membangun rumah yatim piatu, mau berkeliling dunia, dsb.

Sebuah cita2x juga bisa menjadikan hidup seseorang menjadi statis, mandeg, dan pasif; bila cita-cita itu dilihat sebagai ‘tujuan akhir’ dari perjalanan hidup ini. Ketika cita-cita itu tercapai, hilanglah dinamika, semangat, dan produktivitas hidupnya. Sekan-akan dia berkata: “Aku sudah tiba pada tujuan akhir hidup ini” atau “Aku sudah sukses.”

Sesungguhnya sukses sejati itu bukanlah mencapai sebuah cita2x. Sukses bukanlah suatu ‘tujuan akhir’ melainkan suatu proses perjalanan panjang dalam hidup & pelayanan dlm dunia ini. Yang penting, bukanlah titik akhir yang dicapai, melainkan proses dalam perjalanan panjang tersebut.

Johan Sebastian Bach, bertahun2x dia bekerja sbg guru musik & menjadi seorg organis di sekolah St. Thomas di Leipzig. Dg hanya dibayar 125 poundsterling per bulan, ia hrs mengajar koor anak2x pria, bermain organ utk kebaktian, pernikahan, perkabungan, & mengarang lagu baru utk dinyanyikan setiap minggunya di kebaktian umum.

Karya2xnya hampir tidak dipublikasikan. Setiap minggu dikarangnya lagu baru, lalu dimainkan, dinyanyikan bersama jemaat , kemudian dimasukkan dlm lemari hingga menjadi usang, penuh debu, & dilupakan bertahun2x lamanya.

Namun Hanya krn melakukan pekerjaan sehari-harinya di Leipzig, Bach telah menghasilkan 265 catanta utk gereja, 263 pujian lengkap paduan suara, 14 karya utk dimainkan orkestra besar, 24 catanta sekuler, 6 “concerto” (komposisi musik gabungan), 4 “overture” (musik pengantar), 18 “concerto” piano & biola, 356 karya musik utk organ & 162 bh musik utk piano. Selama ratusan tahun sampai masa kini semua karya-karya Bach adl karya-karya Agung yg terkenal Masterpiece. Semua itu dilakukannya dlm pekerjaan sehari-hari yg dilakukannya dg tekun, baik & setia.

Demikian juga Franz Joseph Haydn yg menghasilkan karya2x kolosal & agung dalam melakukan pekerjaannya sehari2x dg tekun, baik & setia.

Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat I Korintus 10:31 soal seluruh aktivitas mereka sehari2x demikian, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yg lain, lakukanlah semuanya itu utk kemuliaan Allah.”

Ada satu tujuan utama dlm seluruh proses perjalanan hidup ini yaitu untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah bukan menjadi ‘tujuan akhir’ melainkan tujuan utama setiap saat, dalam setiap aktivitas dan setiap keadaan dalam hidup ini.  Kolose 3:23, Apapun juga yg kamu perbuat, perbuatlah dgn segenap hatimu spt utk Tuhan & bukan utk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yg ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”

 

6.   Sukses itu Bukan Soal Bebas Dari Masalah:

Sebagian orang di dunia ini menganggap sukses itu bila dlm hidupnya tdk ada masalah sama sekali. Semua aspek hidup ini berjalan baik, lancar, mulus, tanpa ada kesulitan & hambatan yg berarti, Spt si untung teman Donald bebek, Jelas ini juga adl mitos.  Mengapa? Karena tiada seorang pun manusia di dunia ini yang hidup tanpa masalah dan persoalan.

Kata orang hidup tanpa masalah itu hanya ada di ‘Kalibata’ (kuburan). Artinya hanya orang yang sudah mati tidak akan menghadapi masalah.

Faktanya, pernyataan ini pun tidak tepat. Kita bisa menyaksikan bahwa orang yang sudah meninggal dan sudah dikuburkan pun temyata tidak tenang ketika kuburannya terkena gusur karena proyek baru. Selain itu anggota keluarganya yang harus membayar iuran kuburannya secara rutin. Bila tidak, pastilah akan dibongkar.

Lalu, di akhirat juga temyata tidak bebas masalah. Karena setiap manusia harus mempertanggung jawabkan hidup dan pelayanannya selama di dunia ini.Alkitab jelas mengatakan, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibrani 9:27).

Dunia yang sudah tercemar oleh dosa manusia mengakibatkan berbagai masalah yang terus berkembang semakin banyak, semakin cepat, dan semakin mengerikan. Ini fakta hidup yang tidak bisa dihindari. Apakah masalah itu berhubungan dengan force majure: bencana alam, peperangan, kejahatan, terorisme, kerusuhan, SARA, dsb.

Setiap hari kita bisa menyaksikan adanya ketidak-adilan dlm sgl lapisan masyarakat & segala aspek hidup, kejahatan dlm segala bentuk-mulai dari pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, perselingkuhan, perjinahan, dll.

Masalah pribadi mis: soal sandang pangan, pekerjaan, studi, soal finansial, soal lingkungan, sakit penyakit, tempat tinggal, kejiwaan, agama, politik, soal hub. manusia entah itu hubungan suami istri, hubungan orang tua anak, hub. saudara, ‘bos’ & karyawan, karyawan & karyawan, hub persahabatan, & hubungan2x lainnya, & masalah2x lainnya yg seringkali muncul scr tak terduga & tak diundang.

Setiap manusia tanpa kecuali bisa menjadi korban dari masalah-masalah di atas. Dosa adalah fakta nyata dalam hidup ini. Orang yg sukses bukanlah soal bebas dari berbagai masalah hidup ini.

 

Sesungguhnya sukses adalah soal bagaimana sikap, karakter, kekuatan, dan langkah-langkah bijak yang diambil dalam menghadapai berbagai masalah yang ada.

Iman yang kuat dan teguh dalam Tuhan akan menolong seseorang bertahan dalam segala situasi dan berani menghadapi berbagai masalah yang ada. Spt Ayub

Orang yang beriman dan berharap kepada Tuhan akan menemukan kekuatan yang khusus untuk menghadapi berbagai masalah di dunia ini dengan kuasa ilahi yang menolongnya melihat jalan keluar yang dibukakan Allah baginya. Perjalanan dalam menghadapi setiap masalah di dunia ini bersama-sama dengan Allah, sebenarnya adalah sebuah perjalanan sukses yang sejati.

Spt Sadrakh, Mesakh & Abednego Daniel 3:17-18 Jika Allah kami yg kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yg menyala2x itu, & dari dlm tanganmu, ya raja; ttp seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tdk akan memuja dewa tuanku, & tdk akan menyembah patung emas yg tuanku dirikan itu.

Waktu kita menghadapi masalah, apakah kita mengkompromikan iman kita, ataukah kita bersikap spt istri Ayub,“Kutukilah Allahmu dan matilah!” atau kita tetap beriman spt Ayub, Sadrakh, Mesakh & Abednego & menghadapi masalah dg Tuhan.

 

7.   Sukses itu Bukan Soal Menjadi Nomor Satu:

Ada sebagian orang lain mendefinisikan sukses sebagai pemenang nomor satu. Tidak heran slogan mereka adalah: “Aku harus menjadi nomor satu!”

Falsafah ini akan menghasilkan karakter yang egois, misalnya: ‘mau menang sendiri’, ‘tidak mau mengalah’  krn mengalah dianggap kalah & gagal.

Atau menghasilkan keinginan yg keras utk diikuti & didengar (dlm dunia politis menghasilkan diktator yg kejam & sadis).

Kemungkinan besar sejak kecil memang mengalami salah didikan orang tua. Setiap kali ia memakai senjata ‘menangis’ sang orang tua akan mengalah & memenuhi keinginannya. Setelah besar senjata ‘menangis’ digantikan dg ‘mengancam’. Setelah dewasa ia akan memakai senjata ‘memaksakan kehendak’ utk mencapai keinginannya, menjadi nomor satu.

Bagi orang sedemikian menjadi nomor satu berarti orang lain harus menjadi nomor 2, 3 dan seterusnya. Berarti dlm hidup ini hrs melebihi orang lain dlm sgl hal.

Sesungguhnya menjadi nomor satu bukanlah sukses yang sejati. Ini mitos yang akan menciptakan manusia egois yang serakah, keras, dingin/ kaku, tidak toleran, diskriminan, bahkan kejam, sadis, dan tidak manusiawi.

Orang yg demikian tidak dapat mengontrol dirinya baik secara emosional, rasional, & phisikal.

Di pihak lain, ia akan menjadi orang yg amat kesepian dlm hidup ini, krn tdk ada org lain yg dihargainya, dipercayainya, & bisa dijadikannya sebagai sahabatnya.

 

Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mengenal Kristus dan memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya adalah orang yang melebihi dari pada seorang pemenang. “Tetapi dalam semuanya itu, kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita.” (Roma 8:37).

Kata ‘kita‘ menunjuk kpd orang2x yg beriman kpd Yesus Kristus sbg Tuhan & Juruselamatnya. Tuhan menjanjikan berkat sukses bagi orang2x percaya:

Kita lebih drpd org2x yg menang. Apa maksudnya ‘lebih drpd pemenang?”

Mereka yang lebih dari pada pemenang sesungguhnya adalah mereka yang mengalami kesuksesan sejati. Yaitu mereka yang menolong sesamanya untuk mencapai kemenangan.

Mereka yg tdk hanya memikirkan diri sendiri, bukan mau menang sendiri, bukan yg tidak peduli terhadap sesamanya.

Sebaliknya, yg bersandar anugrah & pertolongan Tuhan & rela menjadi “alat” di tangan Tuhan demi menjadi berkat bagi sesamanya.

 

Dengan menolong sesama mencapai kemenangan demi kemenangan sebenarnya sudah menunjukkan diri sebagai orang yang lebih dari pada pemenang itu sendiri. Kita dapat menyaksikan bagaimana rasul Paulus memiliki falsafah dan menjalani falsafah hidup yang berpusat kepada Kristus, yang menghasilkan buah bagi banyak orang. Dia menuliskan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.(Filipi 1:21-22). Hidup yang bernilai dan merupakan sukses yang sejati adalah hidup yang memberi nilai hidup bagi sesamanya demi Kerajaan dan Kemuliaan Allah.

 

Sungguh benar, dari pihak Tuhan, Dia menjanjikan kesuksesan yang sejati sebagai sesuatu yang dapat dicapai, nyata, dan sungguh membahagiakan. Sedangkan dari pihak kita, manusia, dituntut tanggung jawab yang baik dan setia dalam menggunakan apa yang sudah dipercayakan kepada kita. Tentunya hal ini akan berhasil jikalau kita bersandar penuh kpd Firman Tuhan, yg adl satu-satunya standar iman, moral, & aktivitas kita sehari-hari,

 

Sekali lagi saya ulangi, sukses bukan soal kekayaan, bukan soal seks, bukan soal kuasa, bukan soal kesehatan, bukan soal tercapainya sebuah cita-cita, bukan soal nomor satu, bukan soal bebas dari permasalahan. Bukan. Bukan soal sesuatu yang bersifat materi yang fana, melainkan sesuatu yang bernilai kekal; namun bisa dicapai ketika masih di dunia ini. Inilah anugerah yg besar. Dgn karunia yg Tuhan titipkan kepada kita ketika masih hidup di dunia dgn waktu yg terbatas & fana ini, kita diberikan kesempatan utk menghasilkan sukses yg bersifat kekal, tdk terbatas & baka.